Masjid Laweyan, Masjid Tertua di Kota Solo

131
Masjid Laweyan, Masjid Tertua di Kota Solo
Foto: simas.kemenag.go.id

1001indonesia.net – Masjid Laweyan merupakan masjid tertua di Kota Solo. Keberadaannya menjadi penanda sejarah panjang perkembangan agama Islam di Pulau Jawa. Bangunan masjid kuno ini juga menyimpan sejarah hubungan agama Islam dengan agama-agama yang sebelumnya sudah ada di Jawa.

Meski telah mengalami beberapa kali pemugaran, di beberapa sudut bangunan masih terdapat ciri-ciri bangunan pura, tempat ibadah umat Hindu. Dulu, sebelum menjadi bangunan masjid, tempat ini adalah pura yang dibangun pada zaman kerajaan Pajang atas perintah Sultan Hadiwijaya sekitar tahun 1546.

Seiring waktu berjalan, Ki Ageng Henis atau Kiai Ageng Laweyan, salah satu penasihat spiritual Kerajaan Pajang, bersahabat dengan pemuka agama Hindu. Kedekatan mereka membuat pura di Laweyan tersebut berubah menjadi langgar untuk melayani ibadah umat Islam waktu itu.

Lambat laun langgar di Laweyan tersebut berubah menjadi Masjid Laweyan hingga sekarang. Itu sebabnya, masjid tua ini juga disebut sebagai Masjid Ki Ageng Henis.

Baik Sultan Hadiwijaya maupun Ki Ageng Henis merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V, raja Majapahit. Nantinya, Ki Ageng Henis akan melahirkan raja-raja di Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Raja Mataram Islam pertama yang bernama Sutawijaya atau Panembahan Senopati adalah cucunya.

Konstruksi bangunan yang menyerupai pura yang tidak hilang meski beberapa kali telah mengalami pemugaran inilah yang menjadi daya tarik Masjid Laweyan. Arsitektur masjidnya sendiri juga unik. Di masjid itu, terdapat dua belas pilar utama dari kayu jati kuno. Juga terdapat makam Ki Ageng Henis serta kerabat kerajaan zaman dahulu.

Masjid Laweyan berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 162 meter persegi di Kampung Belukan, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Solo. Lokasinya tidak jauh dari Sungai Jenes, anak Sungai Bengawan Solo. Dulu, Sungai Jenes merupakan jalur perdagangan utama para saudagar yang menjadi urat nadi perekonomian Kerajaan Pajang.

Lalu lintas perdagangan dan interaksi para pedagang dengan warga saat itu memperkaya keragaman budaya. Salah satu hasilnya adalah Masjid Laweyan yang lahir dari akulturasi Hindu-Islam.

Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, masjid bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya ini ramai dikunjungi oleh warga. Selain ingin bersembahyang, banyak juga pengunjung yang singgah ketika akan menziarahi makam Ki Ageng Henis. Para peneliti dan arkeolog juga sering datang untuk mempelajari sejarah dan arsitektur masjid tertua di Kota Solo tersebut.

LEAVE A REPLY

3 + 14 =