Upacara Garebeg Kesultanan Yogyakarta

758
Gunungan yang diarak pada upacara Garebeg Kesultanan Yogyakarta
Gunungan yang diarak pada upacara Garebeg Kesultanan Yogyakarta. (Foto: krjogja.com)

1001indonesia.net – Upacara Garebeg merupakan acara besar yang dilaksanakan oleh Kesultanan Yogyakarta. Melibatkan hampir seluruh keluarga dan pegawai kesultanan serta masyarakat luas.

Kata garebeg berarti arak-arakan, dukungan, serta acara yang mengesankan ingar-bingar. Dalam bahasa Jawa, istilah garebeg sendiri berasal dari kata gumrebeg yang berarti riuh, ribut, dan ramai.

Semua itu berkesan dalam upacara yang berpusat pada arak-arakan beberapa gunungan nasi yang dihias sayur-mayur dan makanan lain. Para prajurit dan pegawai istana berperan dalam arak-arakan yang dihadiri oleh raja beserta keluarganya dan dipadati oleh ribuan orang dari berbagai kalangan.

Dalam satu tahun, ada tiga jenis perayaan garebeg yang dilaksanakan Kesultanan Yogyakarta, yakni:

Garebeg Maulud 

Dilaksanakan untuk merayakan Maulud Nabi setiap 12 Rabiulawal setelah seminggu sebelumnya diadakan tradisi sekaten. Persiapan pelaksanaan tradisi ini diawali dengan upacara gladi yang dibagi menjadi dua, yaitu gladi reged dan gladi resik.

Gladi reged dilaksanakan selama 8 hari (tanggal 1-8 Rabiulawal) oleh 800 orang
prajurit yang berlatih untuk gelar upacara garebeg. Adapun gladi resik dilaksanakan
pada 10 Rabiulawal untuk mengadakan evaluasi kesiapan prajurit keraton.

Rangkaian atau tahapan yang lain adalah Upacara Numplak Wajik sebagai tanda permulaan pembuatan gunungan yang diselenggarakan pada 8 Rabiulawal, bertempat di Pawon Ageng yang terletak di halaman Bangsal Kemagangan.

Terakhir adalah acara puncak Garebeg Maulud, yaitu Upacara Miyosipun Hajad Dalem. Dalam upacara ini, hajad dalem yang berwujud gunungan diarak dari dalam Keraton ke Masjid Gedhe Kauman. Yang diserahi tugas ialah Kyai Pengulu Keraton Yogyakarta.

Garebeg Pasa/Syawal

Dilaksanakan untuk menghormati bulan suci puasa. Dalam rangkaian garebeg ini, juga diadakan acara maleman atau selikuran untuk menghormati malam kemuliaan (Lailatul Qadar) yang dilaksanakan oleh masyarakat Islam Jawa. Berkaitan dengan ini, pihak kerajaan mengadakan pasowanan selikuran pada 21 Ramadhan untuk mempersiapkan upacara Garebeg Pasa/Syawal.

Kegiatan ini dirintis oleh Sultan Hamengkubuwono I dan dilanjutkan oleh para sultan penggantinya. Pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dilakukan penyederhanan dan perubahan pasowanan selikuran, dan sejak Sri Sultan Hamengkubuwono IX tradisi pasowanan selikuran ini ditiadakan. Tradisi selikuran sendiri masih lestari sampai sekarang baik di lingkungan keraton maupun di pedesaan.

Kemudian setiap tanggal 1 Syawal (Idul Fitri) dilaksanakan ngabekten. Pada masa Sultan Hamengkubowono IX, kegiatan ini dilakukan secara sederhana. Tidak seperti pendahulunya, Sultan tak lagi duduk di singgasana (dhampar kencana) dan tidak mengenakan busana kebesaran (busana keprabon).

Garebeg Besar

Dilaksanakan untuk merayakan Idul Adha, hari raya Islam yang kedua, terjadi dalam bulan Zulhijah yang dalam kalender jawa disebut bulan Besar. Dahulu, Garebeg Besar juga disertai dengan pasowanan garebeg di sitinggil keraton. Sesuai dengan tata cara yang berlaku dalam Garebeg Besar, Sultan tidak melakukan kunjungan ke Masjid Gedhe Kauman. Pada acara ini, Sultan menyerahkan sejumlah hewan kurban.

Seperti pada Garebeg Maulud, acara puncak pada Garebeg Pasa/Syawal dan Garebeg Besar merupakan arak-arakan sepasang gunungan atau kelipatannya dari dalam keraton menuju Masjid Gedhe Kauman.

Saat arak-arakan melewati sitinggil, bangunan terbuka tempat raja menerima persidangan, dua gamelan pusaka keraton dimainkan sebagai penghormatan. Setiba di Masjid Gedhe Kauman, doa-doa untuk keselamatan masyarakat diucapkan dan selamatan diadakan.

Setelah itu, semua orang akan berusaha mengambil sesuatu dari gunungan karena ada kepercayaan jika mendapatkan sebagian, meskipun kecil, akan memperoleh berkah. Keriuhan pun terjadi pada momen ngalap berkah ini karena begitu banyaknya orang yang saling berebut mengambil sesuatu dari gunungan.

Pada awalnya, upacara garebeg merupakan media dakwah agama Islam. Upacara ini menunjukkan bagaimana Islam berkembang di Nusantara. Agar dapat diterima secara damai, penyiaran agama Islam dilakukan dengan mengadopsi budaya yang sudah ada sebelumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 2 =