Maleo, Burung Endemik Sulawesi yang Langka

970
Maleo, Burung Endemik Sulawesi yang Langka
Burung Maleo (Foto: seputarsulut.com)

1001indonesia.net – Maleo (Macrocephalon maleo) adalah jenis burung yang hidup hanya di Pulau Sulawesi. Satwa ini merupakan satu dari tiga spesies burung Indonesia yang mendapat perhatian internasional karena keberadaannya yang terancam kepunahan. Dua burung lainnya adalah elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan jalak bali (Leucopsar rothschildi).

Burung cantik dengan perut berwarna merah muda dan “topi” di kepalanya ini termasuk unik. Dulu, populasi maleo menyebar di hampir seluruh wilayah Pulau Sulawesi. Namun saat ini, burung endemik Sulawesi ini hanya hidup di beberapa tempat saja, dengan habitat yang terpisah-pisah.

Untuk ukuran tubuhnya, telur burung ini sangat besar, sekitar lima kali telur ayam. Yang paling aneh adalah kebiasaan bertelurnya. Maleo memiliki kebiasaan untuk bertelur di pasir atau tanah vulkanik yang memiliki panas alami di bawah tanah, dan di tambah dengan panas matahari. Cara ini menunjukkan bahwa telur tidak dierami oleh induknya, tapi menetas dengan bantuan panas dari alam.

Kebiasaan maleo untuk bertelur di tempat yang sama berulang kali membuatnya menjadi sasaran mudah bagi para penduduk yang mengambil telurnya untuk dimakan dan dijual. Pengambilan telur yang sudah berlangsung selama berabad-abad ini sebelumnya tidak membahayakan populasinya.

Telur maleo memiliki fungsi yang sangat penting dalam adat setempat. Telur ini misalnya digunakan sebagai pembayar mas kawin atau bingkisan usaha. Karena populasi manusia bertambah, perburuan terhadap telur maleo meningkat dan akibatnya membahayakan bagi kelestarian burung ini.

Kondisi habitat aslinya juga menjadi penyebab langkanya burung ini. Adanya pemisahan berbagai habitat membuat lahan tempat bersarang secara alami terpisah dari hutan tempat maleo dewasa menghabiskan waktunya. Hal ini mengganggu proses perkembangbiakannya.

Pada 1985, saat ancaman terhadap keberadaan burung ini terlihat makin nyata, diresmikanlah proyek perlindungan dengan tujuan menyelamatkan beberapa kelompok sarang terbesar di Taman Nasional Bogani Wartabone, Sulawesi Utara.

Anjing liar dan biawak, juga manusia menjadi ancaman terbesar bagi kelestarian maleo di taman nasional ini. Untuk mengurangi pengaruh ancaman penetasan telur maka dibuatlah pagar yang rapat di sekitar tempat bersarang maleo agar proses penetasan telur tersebut tidak mendapat gangguan.

Secara hati-hati, telur digali dan ditimbun kembali. Dengan cara ini kesempatan untuk menetas menjadi jauh lebih besar. Anakan yang berhasil hidup pun sebelum dilepaskan diberi tanda sehingga dapat memberi keterangan tentang pergerakan hewan ini.

Tidak hanya pemerintah, pihak non-pemerintah juga ada yang terlibat dalam perlindungan satwa ini. Salah satunya adalah organisasi nirlaba Alliance for Tompotika Concervation (AITO) yang mengelola Nesting Ground Libuun di Desa Taima, Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Di sini, tim AITO dan penduduk setempat bekerja sama mengawasi tempat bertelur agar maelo dapat berkembang biak tanpa gangguan.

Pengawasan dan penjagaan terhadap populasi burung yang termasuk jenis burung terlangka di dunia ini harus berlangsung secara tetap dan terus-menerus. Jika tidak maka masa depan burung khas Sulawesi ini bisa sangat suram.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 − eight =