Leang Leang Maros, Jejak Tapak-tapak Manusia Awal Sulawesi

160
leang leang maros
Foto: www.microsite.kidnesia.com

1001indonesia.net – Di Taman Prasejarah Leang Leang Maros, dapat kita temukan jejak awal manusia-manusia prasejarah Sulawesi. Pada dinding gua karst itu terdapat gambar yang dibuat manusia kuno dari masa puluhan ribu tahun silam.

Taman Prasejarah Leang Leang terletak di Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung, Maros. Tepatnya di kawasan karst Maros-Pangkep. Kawasan ini pertama kali ditemukan saat arkeolog berkebangsaan Belanda, Van Heekeren dan CHM Heeren Palm, meneliti tempat ini pada 1950.

Leang Pettae merupakan goa pertama di kawasan tersebut yang diketahui oleh arkeolog memiliki lukisan prasejarah. Pada goa tersebut ditemukan gambar cap tangan dan lukisan binatang pada dinding gua dan artefak serpih bilah serta kulit kerang yang menempel pada mulut gua.

Gambar cap tangan dibuat dengan cara menyemprotkan cat pada tangan yang ditempelkan ke permukaan dinding sehingga menyisakan cetakan negatifnya. Cara itu disebut sebagai teknik negative hand stencil. Cat didapat dari hematit, batuan mineral yang mengandung pigmen merah. Warna tersebut meresap ke dalam pori-pori batu, membuatnya bertahan hingga ribuan tahun.

Pada bagian lain terdapat lukisan binatang yang sedang meloncat dengan anak panah tertancap di dadanya. Lukisan dengan cat merah tersebut sudah tampak buram akibat bercak putih yang menutupi dinding goa. Berdasarkan analisis yang dilakukan seorang ahli zoologi, D.A. Hooijer, lukisan tersebut menggambarkan babirusa.

Dari penelitian Palm dan para peneliti lain, lukisan prasejarah di goa-goa lain di sekitarnya satu per satu terungkap. Lukisan ditemukan di Leang Burung, Leang Jarie, Leang Lambattorang, Leang Ulu Wae, Leang Lambatorang, Leang Sakapao, dan Leang Petta Kere. Dalam bahasa setempat, leang berarti goa.

Goa-goa tersebut lokasinya berdekatan. Bahkan, Leang Petta Kere hanya terpaut jarak sekitar 300 meter dari Goa Leang Pettae. Kedua goa itu masuk dalam kawasan Taman Prasejarah Leang-leang yang dikelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan.

Ada sekitar 230 goa prasejarah yang telah terdata di kawasan karst Maros-Pangkep. Dari jumlah tersebut, yang diketahui memiliki peninggalan lukisan sekitar 80 goa. Sebagian goa masuk dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) seluas 43.700 hektare.

Dari jumlah yang terdata, masih sangat dimungkinkan ada goa-goa lain yang belum ditemukan karena sejauh ini wilayah karst Maros-Pangkep yang bisa terjangkau baru sekitar 10 persen. Kawasan karst Maros-Pangkep diakui sebagai kawasan karst terbesar kedua di dunia setelah Guangzhou di China.

Sampai belum lama ini, tidak ada yang tahu pasti sejak kapan lukisan-lukisan cadas menghiasi goa-goa di Maros. Sejumlah ahli memperkirakan usianya tak lebih dari 10.000 tahun. Usia sebenarnya baru terungkap setelah dipublikasikannya sebuah hasil penelitian di Nature, jurnal sains internasional ternama, pada 9 Oktober 2014.

Penelitian itu dilakukan atas kerja sama sejumlah ahli dari Balai Arkeologi Makassar, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan, Pusat Arkeologi Nasional, University of Wollongong Australia, Griffith University Australia, dan Australian National University.

Hasil penelitian mengungkapkan, salah satu stensil tangan di Leang Timpuseng dipastikan berusia 39.900 tahun. Leang Timpuseng berlokasi di Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, sekitar 3 kilometer dari Taman Prasejarah Leang Leang.

Hasil penelitian tersebut mengejutkan dan menyedot perhatian media-media internasional. Pengungkapan usia lukisan goa di Maros merupakan temuan yang sangat penting. Temuan tersebut menguak misteri kehidupan manusia prasejarah di Indonesia periode 40.000-an tahun lalu.

Tak hanya sebatas memengaruhi bidang sejarah manusia awal di Indonesia, fakta baru itu juga berdampak pada pembaruan pemahaman kita tentang perjalanan spesies manusia modern (Homo sapiens) di muka Bumi. Usia 39.900 tahun itu menempatkan lukisan goa Maros satu periode zaman dengan lukisan di goa El Castillo, Spanyol.

Lukisan berbentuk cakram di El Castillo merupakan lukisan prasejarah tertua, usianya paling tidak 40.800 tahun. Lukisan El Castillo pun kerap dianggap sebagai penanda titik mula perkembangan keterampilan artistik manusia modern sebelum menyebar ke wilayah lain di dunia.

Timpuseng menunjukkan, kemampuan itu juga dimiliki manusia di belahan dunia lain pada masa bersamaan, bahkan bisa jadi lebih awal. Untuk kategori stensil tangan, lukisan di Leang Timpuseng menjadi yang tertua di dunia. Sebelumnya, stensil tangan tertua juga dipegang oleh lukisan di El Castillo yang berusia 37.300 tahun.

leang leang maros
Lukisan tangan di goa El Castillo, Spanyol. (Foto: www.nbcnews.com)

Hanya beberapa sentimeter dari stensil tangan Timpuseng terdapat pula sebuah lukisan yang telah memudar. Para peneliti memastikan wujud lukisan itu adalah babirusa betina berusia 35.400 tahun.

Di goa Leang Barugayya 2, tak jauh dari Timpuseng, sebuah lukisan hewan yang diperkirakan babi, memiliki usia minimum 35.700 tahun. Hal itu menjadikan lukisan hewan dari goa prasejarah Maros sebagai salah satu lukisan dekoratif tertua di dunia.

Penelitian mengambil 19 sampel coralloid dari 14 lukisan di 9 goa di wilayah Kecamatan Bantimurung dan Kecamatan Simbang. Selain Timpuseng dan Barugayya 2, sampel juga berasal dari Leang Barugayya 1, Leang Jarie, Goa Jing, Leang Bulu Bettue, Leang Lompoa, Leang Burung 2, dan Leang Sampeang.

Secara keseluruhan, penelitian atas usia lukisan-lukisan itu berkisar dari paling muda 17.400 tahun hingga tertua 39.900 tahun. Mayoritas lukisan usianya lebih dari 25.000 tahun.

Lukisan Tangan

Pola stensil tangan di goa-goa prasejarah Maros bervariasi, ada yang tunggal seperti di Timpuseng, berkelompok acak seperti di Leang Pettae dan Leang Petta Kere, sampai berjajar membentuk garis seperti di Leang Lompoa. Pada umumnya, letaknya berada di titik-titik yang sulit dijangkau.

Stensil tangan di Leang Burung 1 adalah salah satu contoh yang paling ekstrem. Terdapat dua stensil di titik berbeda yang tercetak di langit-langit setinggi setidaknya 10 meter dari lantai goa.

Diduga, stensil tangan itu merupakan semacam ”pagar magis” untuk menolak bala bagi para penghuni goa. Hal itu bisa jadi merupakan bentuk awal manusia mengenal ”Tuhan” atau sesuatu yang maha dahsyat tempat mereka menggantungkan harapan.

Dugaan itu diperkuat dengan ditemukannya sejumlah goa berlukis yang tidak dihuni manusia. Goa-goa seperti itu umumnya terletak di ketinggian bukit yang sulit dijangkau serta jauh dari sumber makanan dan sungai. Selain itu, tidak ditemukan sampah dapur, misalnya tulang hewan atau kerang-kerangan, seperti yang ditemukan di goa-goa lain yang dihuni.

Artinya, goa-goa itu memiliki fungsi khusus, salah satunya diduga untuk praktik ritual yang berkaitan dengan lukisan tersebut. Jadi manusia pada masa itu sudah mengenal ritual-ritual tertentu sebagai pengikat komunitas mereka.

Selain itu, lukisan-lukisan prasejarah itu menunjukkan keterampilan yang maju dari manusia awal penghuni Nusantara. Manusia pembuat lukisan itu bukan hanya terampil membuat gambar yang bagus, melainkan juga mempertimbangkan aspek-aspek lain. Hal itu seperti tata letak, pencahayaan, dan sudut pandang yang membentuk satu kesatuan utuh dalam melihat lukisan tersebut.

Budaya lukisan cap tangan itu terus berlanjut hingga kedatangan masyarakat penutur Austronesia ke Sulawesi sekitar 4.000 tahun lalu. Penutur Austronesia adalah salah satu nenek moyang langsung bangsa Indonesia.

Baca juga: Jejak Budaya Penutur Austronesia di Indonesia

Dalam budaya masyarakat Bugis, lukisan tangan menjadi salah satu komponen tradisi Ma’bedda Bola, yang dalam arti harfiahnya ”membedaki rumah”. Tradisi itu merupakan ritual selamatan rumah baru agar menjadi berkah bagi penghuni sekaligus menjauhkan dari segala bala.

Ritual ini biasanya dipimpin sanro (semacam orang pintar dan dituakan) yang akan mengelilingi rumah dengan mantra atau doa tertentu. Kemudian, telapak tangan dicelupkan pada air rendaman beras atau air campuran tepung beras sebelum ditempelkan ke dinding atau tiang rumah panggung.

Bekas telapak tangan akan dibiarkan selama mungkin hingga akhirnya pudar sendiri. Ini kemungkinan adalah bentuk pengetahuan yang berlanjut dari masa prasejarah sampai generasi sekarang. Namun, tradisi Ma’bedda Bola kini semakin jarang ditemui.

Jejak Prasejarah

Goa-goa karst di Maros-Pangkep merupakan pusat permukiman yang diyakini awalnya dihuni manusia Austromelanesoid, jauh sebelum kedatangan bangsa penutur Austronesia. Austromelanesoid adalah Homo sapiens awal yang diduga bermigrasi dari Afrika ke Nusantara, termasuk Pulau Sulawesi, sejak sekitar 60.000 tahun lalu.

Namun, hingga kini belum ditemukan bukti fisik berupa kerangka manusia dari zaman itu di goa-goa Maros ataupun di wilayah Sulawesi lainnya. Hal ini pun menjadi misteri besar yang coba dipecahkan para arkeolog.

Sebuah titik terang muncul pada tahun 2015. Saat itu, tim Balai Arkeologi Makassar yang diketuai Budianto Hakim menemukan tengkorak dan tiga gigi geraham manusia di goa prasejarah Bala Metti di Desa Pattuku, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone.

Dari konteks lapisan budaya dan alat-alat yang ditemukan di lokasi, Budianto menduga kuat tengkorak itu adalah Austromelanesoid yang hidup 11.700-60.000 tahun lalu. Goa di Bone juga berkarakter mirip dengan goa-goa karst di Maros, termasuk banyak dihiasi lukisan prasejarah.

Meski begitu, kepastian hal itu masih harus menunggu penelitian usia yang hingga kini masih berlangsung. Jika terbukti, tengkorak itu merupakan temuan kerangka fisik pertama dari Homo sapiens awal yang menghuni Pulau Sulawesi.

Pada saat bersamaan, upaya melacak manusia awal Sulawesi juga dilakukan di Maros. Temuan usia lukisan di Leang Timpuseng pada 2014 hanyalah satu bagian dari rangkaian penelitian dan ekskavasi yang dilakukan arkeolog Australia dan Indonesia sejak 2013.

Salah satu tujuan utama penelitian adalah untuk mencari manusia awal penghuni Sulawesi sekaligus ”seniman” pembuat lukisan-lukisan prasejarah tersebut. Oleh karena itu, penelitian terus dilanjutkan hingga 2017.

Penelitian difokuskan di Leang Bulu Bettue, masih di Kecamatan Bantimurung, Maros, sekitar 1 kilometer dari Leang Timpuseng. Sejumlah jejak dan bukti menuntun para arkeolog melakukan ekskavasi di goa itu.

Pada 2016 mereka menemukan perhiasan prasejarah yang usianya sekitar 30.000 tahun di goa tersebut. Perhiasan berupa anting-anting dan manik-manik yang terbuat dari tulang dan gigi mamalia darat endemik Sulawesi, seperti babirusa dan kuskus beruang. Ini diklaim sebagai temuan perhiasan tertua di Indonesia.

Temuan itu melecutkan semangat baru bagi para arkeolog. Mereka pun semakin yakin langkah untuk menemukan sosok manusia awal Sulawesi kian dekat. Karena dalam banyak penelitian masih ada sekitar 90 persen deposit tua yang terperangkap di goa, maka pencarian pada 2017 dilakukan dengan menggali lebih dalam dan diperluas ke dinding goa.

Pemilihan lokasi itu dengan pertimbangan selama ini temuan fosil manusia ditemukan di tepi dinding goa. Pada masa lampau ada perlakuan khusus terhadap orang meninggal dengan menempatkannya pada dinding yang lebih tinggi dan aman.

Wisata Prasejarah

Taman Prasejarah Leang Leang sudah tak asing bagi masyarakat. Tempatnya yang mudah dijangkau, hanya 1 jam dari Makassar dengan kondisi jalan yang baik, membuatnya berpotensi untuk menjadi tempat wisata populer.

Beberapa bagian dari Taman Prasejarah Leang Leang memang dibuka sebagai tempat wisata, dan bahkan menjadi andalan wisata di Kabupaten Maros. Sementara bagian lain dikhususkan untuk penelitian, dan sisanya masih belum terjamah.

Taman Prasejarah Leang Leang
Taman Prasejarah Leang Leang merupakan salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. (Sumber: ANTARA/Dewi Fajriani)

Sumber

  • Ayu, Reni Sri dan Mohamad Final Daeng, “Tapak-tapak Manusia Awal Sulawesi”, https://interaktif.kompas.id/goa_maros

LEAVE A REPLY

17 + seven =