Jejak Budaya Penutur Austronesia di Indonesia

729

1001indonesia.net – Para penutur Austronesia mulai menyebar dari Taiwan ke berbagai belahan dunia sekitar 6.000 tahun lalu dan berpuncak pada sekitar 500 M, membuat mereka mendiami lebih dari setengah wilayah bumi termasuk wilayah Indonesia. Penutur bahasa ini telah mewariskan berbagai budaya yang memiliki ciri yang sama di berbagai daerah.

Persebaran Austronesia

Austronesia merupakan rumpun bahasa terbesar di dunia dengan tingkat sebaran terluas. Rumpun ini memiliki jumlah bahasa terbanyak di antara belasan rumpun bahasa lainnya, mencakup sekitar 1.200 bahasa.

Rumpun bahasa ini dipakai oleh penutur Austronesia yang muncul di Taiwan pada 7000 sampai 6000 tahun yang lalu. Sekitar 5000 tahun lalu, mereka bermigrasi ke berbagai penjuru dan membawa budaya khas neolitik yang bercirikan hidup menetap dengan bercocok tanam dan berternak, serta kemampuan melaut.

Penutur Austronesia tersebar di berbagai belahan dunia, mulai dari Madagaskar di ujung barat hingga kepulauan Paskah di ujung timur Pasifik. Di batas utara, mereka hadir di Taiwan, dan Selandia baru di batas selatan.

Populasi Austronesia di dunia diperkirakan mencapai 380 juta jiwa. Kemampuan jelajah dan adaptasi mereka dari satu kepulauan ke kepulauan lain dengan budaya yang mereka bawa menjadi kajian yang sangat menarik.

Upaya merajut kembali “benang merah” para penutur yang telah menyebar ke berbagai belahan dunia ini menjadi tema utama Simposium Internasional Diaspora Austronesia di Nusa Dua, Badung, Bali pada 18-23 Juli 2016. Simposium yang diadakan oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini dihadiri sekitar 200 akademisi dan peneliti dari 19 negara.

Akar Budaya Austronesia

Jejak peninggalan budaya Austronesia banyak ditemukan di Nusantara. Di Bali, tradisi Austronesia membaur dengan kearifan lokal dan memunculkan berbagai macam tradisi, antara lain sistem pengairan subak. Tradisi agraris sejenis juga muncul di daerah lain, seperti tradisi ulu-ulu di Karawang.

Warisan budaya yang ada di Bali, seperti budaya megalitik pada sumber-sumber mata air dan sistem penanggalan atau kalender tradisional berdasarkan ilmu astronomi, merupakan peninggalan dari masa pra-Hindu. Tradisi-tradisi ini usianya lebih tua daripada tradisi Hindu dan diduga kuat berakar pada budaya Austronesia.

Tradisi lain yang berakar pada peradaban Austronesia di antaranya ikat kepala (udeng) dan arsitektur rumah. Tradisi memakai ikat kepala ditemukan hampir di setiap suku di Indonesia. Perbedaannya hanya terletak dari bentuk ikat kepala yang tergantung dari kreativitas masing-masing daerah dalam mengembangkannya.

Akar budaya Austronesia ini juga kita temukan pada arsitektur asli Indonesia. Meski masing-masing suku mengembangkan arsitekturnya sendiri-sendiri, terdapat ciri umum yang menandainya. Ciri umum ini berasal dari akar budaya Austronesia, yaitu bentuk rumah panggung dengan fondasi tiang kayu, pemanjangan bubungan atap, teknik konstruksi dengan penggunaan bahan bangunan alami serta cara menyusun tiang dan balok yang khas, dan gagasan rumah sebagai perlambang tetap. [baca: Ciri Umum Arsitektur Tradisional Indonesia]

Penutur Austronesia Datang ke Indonesia

Penutur Austronesia hadir di Indonesia sekitar 4000 tahun yang lalu. Mereka bermigrasi dari Taiwan ke Indonesia melalui Filipina. Mereka masuk pertama kali ke daerah Sulawesi kemudian menyebar di hampir seluruh kawasan Nusantara. Sebagian menyebar ke wilayah melalui jalur barat, turun memalui Semenanjung Malaysia, lalu ke Sumatra, Jawa, dan seterusnya.

Indonesia yang berada di persimpangan dengan wilayah yang luas memegang peranan yang sentral dalam persebaran penutur Austronesia ini. Para pendatang itu kemudian membaur dengan penduduk asli yang lebih dulu sudah ada di kawasan Nusantara. Jejak pembauran antara penutur Austronesia dengan penutur Papua yang lebih dulu datang (sekitar 50.000 tahun) terlihat paling jelas di daerah Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah penutur Austronesia, sebaliknya lebih dari 60 persen penutur Austronesia adalah orang Indonesia. Secara garis besar terdapat dua rumpun bahasa yang ada di Indonesia, yaitu rumpun Austronesia dan Papua.

Kemampuan beradaptasi penutur Austronesia terhadap lingkungan-lingkungan baru diduga kuat mendorong terciptanya keragaman etnis di Indonesia sekarang. Adanya akar yang sama di balik keragaman ini menegaskan ciri Bhinneka Tunggal Ika yang dimiliki Indonesia.

Sumber:

  • Gunawan Tjahjono, Indonesian Heritage: Arsitektur, Jakarta: Buku Antar Bangsa, 2002.
  • Kompas edisi Rabu, 13, 19, dan 20 Juli 2016.

1 Komentar

LEAVE A REPLY

four × two =