Lada, Jenis Rempah yang Bernilai Tinggi dan Paling Bersejarah

1602
Perkebunan Lada
Perkebunan Lada (Foto: budidaya.net)

1001indonesia.net – Selama beberapa ratus tahun, lada yang juga disebut merica atau sahang ini merupakan salah satu mata dagangan penting di dunia. Inilah jenis rempah yang bernilai tinggi dan paling banyak mengandung nilai historis.

Indonesia merupakan salah satu pengekspor terbesar jenis rempah yang dijuluki “King of Spice” ini. Bahkan sekarang, lada masih memasok lebih dari seperempat total perdagangan rempah dunia.

Budidaya Lada

Lada (Piper nigrum) merupakan buah kering liana (tanaman merambat di hutan tropis) India, yang tumbuh di lereng Ghats Barat, India bagian selatan. Tanaman ini menyukai panas, iklim basah, dan biasanya tumbuh di dataran rendah.

Tanaman ini tidak tahan genangan air. Oleh sebab itu, lada ditanam di lereng landai. Bisa juga dibuatkan drainase yang baik di sekelilingnya untuk menghindari adanya genangan di musim hujan.

Jika dibiarkan tumbuh, tanaman ini dapat mencapai panjang 10 meter, tetapi kebanyakan tanaman budidaya disulurkan pada tonggak perambat sepanjang 2 meter.

Pembudidayaannya menggunakan sistem setek, sebab tanaman yang tumbuh dari biji membutuhkan waktu kira-kira tujuh tahun untuk menghasilkan buah. Liana setek tidak dibiarkan menghasilkan buliran bunga sampai berumur dua tahun, baru kira-kira 6 bulan kemudian menghasilkan buah masak.

Buah muda berwarna hijau dan berubah warna menjadi merah kekuningan jika telah masak. Tanaman liana ini mempunyai masa berbuah 15-20 tahun.

Lada Putih dan Lada Hitam (Foto: sharingdisini.com)
Lada Putih dan Lada Hitam (Foto: sharingdisini.com)

Ada tiga macam yang menjadi produk asli dari tanaman rempah ini, yaitu lada hitam, putih, dan hijau. Lada hitam adalah jenis yang paling dikenal. Untuk menghasilkan jenis ini, buah dipetik ketika masih belum terkelupas, untuk kemudian dicelupkan sebentar di air mendidih dan dibiarkan mengering di bawah sinar matahari. Selang beberapa hari, kulitnya akan mengerut dan menghitam, menghasilkan kerutan-kerutan yang khas.

Lada putih diperoleh dengan memetik biji masak merah. Setelah dipanen, kulit bagian luarnya dilunakkan dengan cara direndam dalam air, lalu dibiarkan mengering dan diseka dengan air atau lewat aksi mekanis.

Biji lada hijau atau biji yang sudah diasamkan, dipetik ketika masih dalam keadaan belum terkelupas, seperti lada hitam, lalu segera direndam dalam air asin.

Setiap pohon dipetik kira-kira sekali seminggu selama dua bulan masa panen. Menjelang akhir masa panen, semua buah dipetik, tidak dipertimbangkan kematangannya. Musim perbungaan berikutnya akan muncul pada waktu yang sama.

Merica dibudidayakan dengan berbagai macam cara. Cara yang paling baik adalah dengan menyediakan tonggak sebagai tempat merambat. Tanaman dibiarkan terkena sinar matahari atau tidak diteduhi. Secara hati-hati, tanaman dipangkas agar cabang buah samping berkembang lebih banyak. Perhatian teliti yang diberikan pada penyiraman, pembersihan gulma, dan pemupukan akan memberikan hasil yang maksimal.

Manfaat Lada

Hingga sekitar 100 tahun lalu, fungsi utama merica adalah penyedap makanan, mengatasi bau dan rasa makanan yang jelek, serta pengawet daging. Sekarang, merica digunakan secara luas sebagai penyedap makanan. Kandungan alkaloid, piperine, merangsang cairan lambung dan air ludah. Kepedasan yang disebabkan oleh resin, disebut kavisin, di dinding buah. Lada hitam mengandung lebih banyak kavisin daripada lada putih.

Selain sebagai bumbu masakan, merica memiliki khasiat bagi kesehatan. Merica mengandung nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh, di antaranya vitamin A, vitamin C, vitamin E, dan vitamin K. Di dalamnya juga terkandung jejak vitamin B, seperti niacin, pyridoksin, dan riboflavin, serta beberapa folat dan kolin. Selain itu, juga terdapat serat, karbohidrat dan protein, dengan kandungan kolesterol dan kadar gula yang sangat rendah.

Merica pun memiliki manfaat sebagai obat. Rempah ini dapat digunakan untuk menurunkan berat badan, meringankan radang sendi, membunuh sel kanker prostat, mengurangi gejala nyeri sakit kepala, membantu melonggarkan pernapasan saat hidung tersumbat, dan lain-lain.

Sejarah Lada

Lada disebut sebagai tanaman obat dalam naskah India yang ditulis 3.000 tahun lalu, dan merupakan mata dagangan awal antara Timur dan Eropa. Orang Arab membawanya ke Mediterania dari India. Oleh orang Yunani dan Romawi kuno, rempah ini digunakan sebagai penyedap rasa dan obat pengurang demam.

Selain sebagai penyedap makanan dan obat, merica juga digunakan untuk mengawetkan jasad. Rempah ini ditemukan di makam Raja Mesir Ramses II. Biji merica dijejalkan ke lubang hidungnya tak lama setelah kematiannya pada 12 Juli 1224 SM—yang membuatnya tercatat sebagai konsumen lada pertama yang terdokumentasi.

Setelah masa kekuasaan Ramses, banyak jenazah figur terkenal yang dikuburkan bersama rempah. Penyair Corippus dari Bizantium pada 565 M mencatat pembaluran Kaisar Justinian dengan balsam, dupa, madu, rempah-rempah, dan berbagai salep lainnya.

Lada dikenalkan di Jawa dari India antara 100 SM sampai 600 SM. Pada abad ke-15, lada merupakan salah satu mata dagangan penting dunia hingga pertengahan abad ke-19. Nilainya tinggi dan biasa digunakan sebagai pembayar pajak, sewa, dan mas kawin.

Pada akhir abad ke-15, Sumatra merupakan pengekspor utama lada ke Tiongkok. Pada akhir abad lalu, seluruh pasokan Eropa berasal dari Aceh dan Sumatra Utara, yang beberapa dekade lalu menjadi pemasok separuh lada dunia.

Daerah budidaya lada terbesar lainnya abad ke-17 meliputi Sumatra Barat, Lampung, dan Jawa Barat. Belanda dan Inggris membangun perkebunan di Jawa dan Sumatra. Belanda mencoba meningkatkan monopoli lada, tetapi tidak pernah berhasil.

Sejak abad ke-16 sampai awal abad ke-18, pelabuhan Banten, sekitar 75 km di barat Jakarta, menjadi pusat perdagangan lada dan dagangan lain yang berhasil. Pengairan yang baik dan kemiringan tanah daerah sekitarnya cocok untuk budidaya lada. Keuntungan perdagangan ini begitu besar sehingga petani setempat dipaksa menanam sejumlah lada per keluarga yang kemudian khusus dijual ke perantara Sultan.

Maklumat ini diperluas melewati Selat Sunda ke Lampung yang berada di bawah kekuasaan Sultan Banten. Penanaman lada di sekitar Banten lebih intensif. Akhirnya, erosi mengurangi produktivitas lahan dan meningkatkan endapan sungai sehingga menghalangi hubungan ke pelabuhan.

Ketika mutu lingkungan terganggu, demikian pula peran Banten sebagai pusat perdagangan internasional. Proses ini dipercepat oleh Belanda yang mengalihkan perdagangan ke pusat mereka di Batavia sejak akhir abad ke-17.

Perdagangan

Setahun sebelum Perang Dunia II, Indonesia menghasilkan 80% lada dunia. Pasokan terpotong selama masa pendudukan Jepang yang mengakibatkan harga sangat tinggi pada masa setelah perang.

Saat ini, Indonesia tidak lagi menguasai perdagangan lada dunia. Meski demikian, negeri ini masih menjadi pemain penting dalam perdagangan jenis rempah ini. Produk lada unggulan Indonesia dikenal dengan sebutan lampung black pepper (lada hitam) dan muntok white pepper untuk (lada putih). Produksi lada putih Indonesia berpusat di Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi. Sementara produksi lada hitam berpusat di Provinsi Lampung dan Kalimantan Timur.

Saat ini, negara yang menjadi produsen lada terbesar di dunia adalah Vietnam, Indonesia, Brasil, India, dan Malaysia. Kelima negara ini tergabung dalam komunitas produsen lada dunia atau International Pepper Community (IPC).

Penyakit

Penyakit lada yang berat adalah “busuk kaki” (Phytophthora palimivora), menyebabkan pohon merunduk, diikuti daun kekuningan dan kemudian rontok. Setelah itu, tanaman lada akan mati.

Salah satu penularnya dikenal sebagai siput raksasa Afrika (Achtina fulica). Beberapa spesies yang resisten busuk telah dikenali. Hama berat meliputi kutu, kumbang penggerek biji, dan nematoda akar (Meloidogyne javanica).

Budidaya Lada Lain

Lada jawa yang panjang (Piper retrofractum) dan sirih (Piper betle) juga ditanam di Indonesia. Lada Jawa yang dikenal sebagai cabai jawa merupakan tanaman asli Indonesia. Buahnya yang kecil dan berbentuk buliran berdaging digunakan juga sebagai rempah. Kantor konservasi Jawa Timur memperkenalkan penanamannya di daerah penyangga sekitar Taman Nasional Meru Betiri (Jawa Timur) untuk meningkatan pendapatan penduduk dan mengurangi tekanan pada sumber daya hutan.

Sirih dikenal daunnya yang dikunyah bersama kapur sirih dan sepotong pinang (Areca catechu), sering kali dengan rempah seperti cengkih atau kayu manis. Tanaman ini asli Indonesia, tetapi tanaman dan habitatnya telah tersebar luas: ke barat sampai ke Afrika timur dan India, serta pulau-pulau di sebelah timur Pasifik.

Makan sirih merupakan kebiasaan kuno yang disebut sejarawan kuno Herodotus pada 340 SM, bertujuan untuk mengharumkan napas setelah makan dan sebagai bagian kegiatan saat upacara atau bersama teman.

Sumber:

  • Feira Aprilia R, Zainul Arifin, Sunarti, “Posisi Daya Saing dan Spesialisasi Perdagangan Lada Indonesia dalam Menghadapi Globalisasi (Studi Pada Ekspor Lada Indonesia Tahun 2009-2013)”, diunduh dari portalgaruda.org.
  • Jack Turner, Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme, Depok: Komunitas Bambu, 2011.
  • Tony Whitten dan Jane Whitten, Tetumbuhan: Indonesian Heritage IV, Jakarta: Buku Antar Bangsa, 2002.
  • http://www.carakhasiatmanfaat.com/artikel/khasiat-manfaat-merica.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

11 − 8 =