kedih
Seekor kedih (Presbytis thomasi) bertengger di dahan pohon di habitat hutan hujan tropis Sumatra. (Foto: Romi/KBA.ONE)

1001indonesia – Kedih (Presbytis thomasi) atau Thomas’s langur merupakan salah satu primata endemik Sumatra yang hanya ditemukan di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Riau. Satwa ini menghuni hutan hujan tropis, baik hutan primer maupun hutan sekunder, dari dataran rendah hingga perbukitan, umumnya pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut.

Kedih kini menghadapi berbagai ancaman terhadap keberlangsungan hidupnya, terutama hilangnya habitat akibat pembukaan hutan, alih fungsi lahan, kebakaran hutan, dan pembalakan liar. Akibat tekanan tersebut, populasi kedih terus mengalami penurunan. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengategorikan spesies ini sebagai Vulnerable atau rentan terhadap kepunahan.

Selain itu, kedih juga tercantum dalam Appendix II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Kategori ini mencakup spesies yang belum terancam punah, tetapi berpotensi menjadi terancam jika perdagangan internasionalnya tidak diatur.

Habitat dan Kehidupan Berkelompok

Wilayah sebaran kedih tergolong terbatas, hanya di bagian utara Sumatra. Primata ini dapat dijumpai di sejumlah kawasan hutan di Aceh dan Sumatra Utara, terutama di bentang alam Ekosistem Leuser, termasuk wilayah Ketambe dan Sikundur. Selain itu, satwa ini juga masih ditemukan di Cagar Alam Jantho, Aceh, serta beberapa kawasan hutan di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Kedih hidup berkelompok dalam unit-unit kecil, biasanya beranggotakan sekitar 5–12 individu. Satu kelompok umumnya terdiri atas seekor jantan dewasa, beberapa betina dewasa, dan anak-anak mereka. Cara hidup berkelompok ini memudahkan mereka mencari makan, mempertahankan ruang jelajah, sekaligus memperkuat kewaspadaan terhadap ancaman predator.

Sebagai alat komunikasi utama, satwa khas Sumatra ini mengandalkan suara khasnya yang keras dan melengking. Panggilan ini berfungsi untuk memanggil anggota kelompok berkumpul, menandai keberadaan kelompok lain, serta memberikan peringatan akan bahaya.

Sementara itu, wilayah jelajah kedih berfungsi sebagai area multifungsi yang digunakan untuk mencari makan, berkembang biak, berlindung dari predator, dan bersarang.

Karena sangat bergantung pada habitat hutan, keberlangsungan hidup kedih pun sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Kerusakan dan fragmentasi hutan bukan hanya mengurangi ruang hidup dan sumber pakan, tetapi juga menghambat pergerakan antarkelompok, yang pada akhirnya bisa mengancam kelangsungan populasi satwa ini.

Baca juga: Surili Sumatera, Primata Endemik Sumatera yang Semakin Langka

Karakteristik Fisik

Primata endemik Sumatra ini memiliki penampilan yang khas dengan bulu berwarna abu-abu hingga cokelat keabu-abuan, sementara bagian bawah tubuhnya cenderung lebih pucat. Wajahnya berwarna gelap dengan bercak putih yang mencolok di sekitar mata dan mulut.

Ciri yang paling mudah dikenali adalah jambul tinggi di kepalanya yang menyerupai gaya rambut mohawk. Jambul khas berwarna hitam dan abu-abu tersebut menjadi salah satu pembeda utama kedih dibandingkan banyak spesies monyet daun lain di Sumatra.

Bentuk mata dan ekspresi wajahnya juga sering memberi kesan sayu, sehingga banyak orang menganggap kedih tampak seolah sedang bersedih. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, kesan itulah yang konon melatarbelakangi penyematan nama “kedih” pada primata ini, meski asal-usul nama tersebut belum diketahui secara pasti.

Bobot tubuh kedih dewasa bervariasi menurut beberapa sumber, berkisar antara 5–8 kilogram, dengan panjang tubuh sekitar 42–61 sentimeter dan panjang ekor 50–85 sentimeter. Ekornya yang panjang berperan penting menjaga keseimbangan saat bergerak lincah di antara pepohonan.

Makanan dan Perilaku

Sebagai anggota kelompok monyet daun (leaf monkey), kedih lebih sering mengonsumsi daun muda, pucuk, bunga, dan buah yang masih muda atau belum matang. Daun muda umumnya memiliki tekstur yang lebih lunak, kadar serat kasar yang lebih rendah, serta lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan kedih yang telah beradaptasi untuk fermentasi.

Saat memakan buah, kedih juga cenderung memilih buah yang belum matang, yang umumnya mengandung gula lebih rendah dibandingkan buah masak dan lebih sesuai dengan sistem pencernaannya.

Sebagai primata arboreal, hampir seluruh aktivitas kedih dilakukan di atas pohon, mulai dari mencari makan, bergerak, bersosialisasi, hingga tidur. Meskipun demikian, kedih diketahui sesekali turun ke tanah, meskipun perilaku ini tergolong jarang dan hanya sesekali diamati di alam.

Ketergantungan yang tinggi pada tutupan hutan yang masih baik menjadikan keberadaan kedih semacam penanda kondisi habitat yang relatif terjaga. Karena itu, upaya pelestarian hutan bukan hanya penting bagi kelangsungan hidupnya, tapi juga bagi berbagai spesies lain yang hidup dalam ekosistem yang sama.

Baca juga: Kekah Natuna, Monyet Daun Endemik Pulau Natuna

Pentingnya Melestarikan Kedih

Kedih adalah salah satu primata endemik Sumatra dengan wilayah persebaran yang terbatas, hanya di Aceh dan Sumatra Utara. Ketergantungannya yang tinggi pada hutan hujan tropis membuat spesies ini rentan terhadap kerusakan dan fragmentasi habitat, sehingga kelestarian hutan menjadi faktor kunci bagi keberlangsungan populasinya ke depan.

Melindungi habitat kedih pada dasarnya juga berarti menjaga keseimbangan ekosistem hutan Sumatra secara keseluruhan. Dengan mempertahankan kawasan hutan yang masih tersisa dan menekan laju deforestasi, keberadaan primata ini serta satwa liar lain yang hidup di habitat yang sama bisa terus terjaga hingga generasi mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 5 =