Kambing Hutan Sumatra, Mamalia Langka Penghuni Pegunungan Sumatra

52
Kambing Hutan Sumatra
Kambing Hutan Sumatra (Foto: Wikimedia Commons)

1001indonesia.net – Keberadaan kambing hutan Sumatra kembali menjadi perhatian setelah sejumlah dokumentasi memperlihatkan keberadaan satwa langka ini di beberapa wilayah Sumatra. Rekaman tersebut menjadi pengingat bahwa salah satu mamalia khas hutan pegunungan ini masih menghuni habitat alaminya, meski jarang terlihat secara langsung.

Pada akhir 2025, seekor anak kambing hutan ditemukan warga di Sumatera Utara dan kemudian diserahkan kepada pihak konservasi untuk mendapatkan penanganan. Sebelumnya, kamera jebak di Hutan Lindung Batutegi, Lampung, juga berhasil merekam aktivitas kambing hutan Sumatra di kawasan hutan.

Dalam rekaman yang dibagikan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi (IAR) Indonesia, seekor kambing hutan tampak melintas di depan kamera jebak. Satwa tersebut kemudian berbalik arah, mendekati perangkat, mengendus, hingga menjilati kamera yang terpasang di tengah hutan.

Terekam Kamera Pemantau di Hutan Lindung Batutegi

Sebuah rekaman video yang dibagikan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi (IAR) Indonesia memperlihatkan seekor kambing hutan Sumatra melintas di depan perangkat pemantau yang dipasang di Hutan Lindung Batutegi, Lampung. Satwa tersebut tampak bertubuh kekar dengan bulu hitam keabu-abuan serta surai berwarna putih keabu-abuan yang memanjang dari leher hingga punggung.

Setelah berjalan melewati kamera, kambing hutan itu berbalik arah dan mendekati perangkat tersebut. Ia terlihat mengendus, lalu menjilati lensa kamera. Perilaku tersebut diduga merupakan respons terhadap keberadaan kamera jebak sebagai benda asing di habitatnya, meski penyebab pastinya tidak dapat dipastikan.

Menurut IAR Indonesia, rekaman tersebut merupakan bagian dari pemantauan keanekaragaman hayati yang dilakukan di Hutan Lindung Batutegi selama 2022–2023. Dalam periode itu, kamera jebak beberapa kali mendokumentasikan keberadaan kambing hutan Sumatra di kawasan yang sama.

Dokumentasi semacam ini menjadi salah satu metode penting untuk mendeteksi keberadaan satwa liar yang sulit diamati secara langsung sekaligus menyediakan data bagi penelitian dan upaya konservasi.

Kambing hutan sumatra terekam kamera pemantau KPH Batutegi dan Yayasan IAR Indonesia di Blok Inti KPH Batutegi, Tanggamus, Lampung, pada 14 Agustus 2023 (tanggal pada foto tidak sesuai), menjadi temuan ketiga selama periode 2022–2023. (Foto: YIARI)

Habitat dan Persebaran

Kambing hutan Sumatra memiliki nama ilmiah Capricornis sumatraensis dan dikenal secara internasional sebagai Sumatran serow. Meski disebut kambing hutan, satwa ini sebenarnya termasuk kelompok serow, yaitu mamalia dari famili Bovidae yang masih berkerabat dekat dengan kambing dan domba.

Spesies ini ditemukan di Sumatra, Semenanjung Malaysia, dan sebagian Thailand bagian selatan. Di Indonesia, kambing hutan Sumatra hanya ditemukan secara alami di Pulau Sumatra.

Habitatnya mencakup hutan dataran rendah, kawasan perbukitan, hingga hutan pegunungan yang memiliki lereng dan tebing berbatu. Satwa ini umumnya dijumpai pada ketinggian sekitar 300–2.700 meter di atas permukaan laut (mdpl), meskipun pada beberapa lokasi dapat ditemukan pada elevasi yang lebih rendah maupun lebih tinggi.

Kemampuannya bergerak lincah di medan terjal menjadi salah satu adaptasi penting untuk bertahan hidup di habitat tersebut.

Karena hidup menyendiri, cenderung menghindari manusia, dan menghuni kawasan berhutan yang sulit dijangkau, kambing hutan Sumatra relatif jarang terlihat di alam liar. Keberadaannya lebih sering diketahui melalui jejak, kamera jebak, atau pemantauan yang dilakukan peneliti dan petugas konservasi.

Baca juga: Hutan Hujan Sumatra, Rumah bagi Aneka Jenis Flora dan Fauna

Ciri-Ciri yang Khas

Kambing hutan Sumatra memiliki tubuh yang kekar dengan bulu tebal dan kasar. Sebagai anggota kelompok serow, satwa ini memiliki kelenjar preorbital yang berkembang baik di bagian depan mata. Kelenjar tersebut menghasilkan sekresi yang berperan dalam komunikasi kimiawi dan penandaan wilayah.

Warna tubuhnya didominasi hitam hingga keabu-abuan, sementara bagian leher dan punggung memiliki surai atau rambut yang lebih panjang. Ciri tersebut merupakan karakter khas kelompok serow yang membedakannya dari berbagai mamalia berkuku lain di hutan Sumatra.

Baik jantan maupun betina memiliki tanduk pendek yang melengkung ke belakang. Tanduk tersebut berperan dalam pertahanan diri serta interaksi antarindividu, termasuk saat mempertahankan wilayah atau menghadapi pesaing.

Panjang tubuh kambing hutan Sumatra dapat mencapai sekitar 140 hingga 180 sentimeter dengan berat antara 50 hingga 100 kilogram. Tinggi bahunya umumnya berkisar 85 hingga 94 sentimeter.

Dengan tubuh yang kokoh, kaki kuat, dan kemampuan bergerak di medan berbatu, kambing hutan Sumatra memiliki berbagai adaptasi yang mendukung kehidupannya di kawasan hutan berbukit hingga pegunungan.

Satwa Penyendiri yang Waspada

Kambing hutan Sumatra dikenal sebagai satwa soliter atau lebih sering hidup sendiri. Individu dewasa, terutama jantan, umumnya menjalani sebagian besar aktivitasnya tanpa kelompok besar. Sementara itu, betina dapat dijumpai bersama anaknya, terutama selama masa pengasuhan.

Makanannya terutama berupa daun, pucuk tanaman, ranting muda, serta berbagai vegetasi yang tumbuh di kawasan hutan, termasuk tumbuhan bawah dan rumput. Untuk mencari makan, satwa ini mampu bergerak lincah di lereng curam dan daerah berbatu yang menjadi bagian dari habitatnya.

Sifatnya yang pemalu membuat kambing hutan Sumatra cenderung menghindari manusia. Ketika merasa terancam, satwa ini biasanya akan menjauh dan memanfaatkan medan terjal atau area tertutup sebagai tempat berlindung.

Pada masa kawin, jantan akan lebih aktif mencari pasangan. Setelah masa kebuntingan sekitar 7–8 bulan (210–240 hari), induk betina biasanya melahirkan satu anak yang kemudian diasuh hingga mampu bertahan hidup secara mandiri.

Terancam oleh Hilangnya Habitat

Seperti banyak satwa liar lainnya di Sumatra, kambing hutan Sumatra menghadapi tekanan akibat perubahan lingkungan dan aktivitas manusia. Hilangnya habitat akibat pembukaan hutan, perubahan fungsi lahan, serta pembangunan infrastruktur menjadi salah satu ancaman utama bagi keberlangsungan spesies ini.

Berkurangnya tutupan hutan dapat menyebabkan habitat terfragmentasi, mempersempit wilayah jelajah, serta mengurangi ketersediaan pakan dan tempat berlindung.

Selain kehilangan habitat, perburuan juga menjadi ancaman yang perlu diwaspadai. Meskipun telah dilindungi berdasarkan peraturan konservasi di Indonesia, kambing hutan Sumatra masih menghadapi risiko perburuan, termasuk untuk dimanfaatkan sebagai sumber daging.

Sebagai mamalia pemakan tumbuhan, kambing hutan Sumatra merupakan bagian dari ekosistem hutan dan berperan dalam dinamika vegetasi. Satwa ini juga berpotensi menjadi mangsa predator besar seperti harimau Sumatra. Namun, tekanan terbesar terhadap keberadaannya saat ini berasal dari aktivitas manusia, terutama yang berkaitan dengan kerusakan dan fragmentasi habitat.

Secara global, satwa ini masuk dalam kategori Vulnerable (Rentan) dalam Daftar Merah IUCN. Status tersebut menunjukkan bahwa spesies ini menghadapi risiko penurunan populasi di alam liar apabila tekanan terhadap habitat dan keberadaannya tidak dikendalikan.

Di Indonesia, kambing hutan Sumatra termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan peraturan konservasi nasional. Perlindungan habitat, pemantauan keberadaan populasi, serta pengelolaan kawasan konservasi menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan spesies ini.

Kambing hutan Sumatra masih ditemukan di sejumlah kawasan konservasi penting, seperti Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Batang Gadis, serta berbagai kawasan hutan pegunungan di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan. Kawasan-kawasan tersebut menjadi habitat penting bagi satwa yang bergantung pada lingkungan alami dengan tutupan hutan yang masih terjaga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + twenty =