Penyu Lekang, Pengembara Laut yang Tak Pernah Tersesat

35
penyu lekang
Sejumlah tukik penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dilepasliarkan di Pantai Sodong, Desa Karangbenda, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (19/9/2024). (Foto: Antara/Idhad Zakaria)

1001indonesia.net – Setiap musim bertelur, penyu lekang naik dari laut ke pantai pada malam hari. Dengan sirip belakangnya, ia menggali pasir, meletakkan sekitar 80 hingga 150 butir telur, lalu menutup kembali sarangnya sebelum kembali ke laut.

Uniknya, puluhan tahun kemudian, penyu-penyu yang berhasil bertahan hidup dari fase tukik hingga dewasa akan kembali ke pantai tempat mereka menetas untuk bertelur. Naluri membawa mereka pulang, seolah ingatan akan tempat asal telah terukir dalam tubuh. Fenomena ini dikenal sebagai natal homing.

Penyu Kecil dengan Kemampuan Luar Biasa

Penyu lekang (Lepidochelys olivacea) merupakan salah satu dari enam spesies penyu laut yang hidup di perairan Indonesia. Dari keenam spesies tersebut, penyu lekang termasuk spesies yang paling sering dijumpai di pesisir selatan Jawa, termasuk Pantai Sodong di Kabupaten Cilacap.

Penyu lekang merupakan penyu laut terkecil kedua di dunia setelah penyu kempi. Karapasnya berbentuk hampir membulat menyerupai hati, berwarna hijau zaitun, dengan panjang sekitar 60–75 sentimeter dan berat 35–50 kilogram.

Spesies penyu ini tersebar luas di perairan tropis dan subtropis Samudra Hindia, Samudra Pasifik, dan Samudra Atlantik. Di Indonesia, penyu lekang dapat dijumpai di berbagai wilayah. Lokasi penelurannya antara lain berada di pesisir selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, sedangkan populasinya juga dijumpai di perairan Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Pengembara Laut yang Selalu Pulang

Penyu lekang mampu menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi lautan untuk mencari makan dan berkembang biak. Meski menjelajah sangat jauh, penyu ini cenderung kembali ke kawasan pantai tempat ia menetas untuk bertelur. Mekanisme yang memungkinkan penyu kembali ke pantai asalnya hingga kini masih dipelajari para ilmuwan.

Penelitian menunjukkan bahwa penyu memanfaatkan medan magnet Bumi sebagai salah satu petunjuk navigasi. Kemampuan navigasi ini membantu mereka menemukan jalan pulang setelah bertahun-tahun mengarungi samudra.

Di beberapa negara, seperti India, Meksiko, dan Kosta Rika, penyu lekang memiliki kebiasaan unik yang disebut arribada. Dalam fenomena ini, ribuan hingga ratusan ribu penyu betina mendarat di pantai secara bersamaan untuk bertelur. Di Indonesia, penyu lekang umumnya mendarat secara individual atau dalam kelompok kecil.

Perjalanan Hidup yang Penuh Tantangan

Saat musim bertelur tiba, induk penyu lekang naik ke pantai pada malam hari dan membuat sarang di pasir. Dalam satu kali bertelur, seekor induk menghasilkan sekitar 80 hingga 150 butir telur. Setelah sekitar 45 hingga 60 hari, telur menetas menjadi tukik yang bergerak menuju laut dengan mengandalkan cahaya alami di arah cakrawala laut.

Hal yang unik dari penyu adalah jenis kelamin tukiknya ditentukan oleh suhu pasir selama masa inkubasi. Suhu yang lebih rendah cenderung menghasilkan lebih banyak tukik jantan, sedangkan suhu yang lebih tinggi menghasilkan lebih banyak tukik betina. Perubahan iklim yang meningkatkan suhu pasir pantai dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan rasio jantan dan betina dalam populasi penyu.

Sejak menetas, tukik menghadapi berbagai ancaman. Predator, sampah plastik, alat tangkap perikanan, serta kerusakan habitat mengancam kelangsungan hidupnya. Diperkirakan hanya sekitar satu dari seribu hingga satu dari sepuluh ribu tukik yang mampu bertahan hidup hingga dewasa.

Konservasi Penyu Lekang di Pantai Sodong

Salah satu kawasan yang aktif melindungi penyu lekang berada di Pantai Sodong, Kabupaten Cilacap, yaitu Konservasi Penyu Nagaraja. Penyu lekang merupakan spesies yang paling sering dikonservasi di kawasan ini melalui penyelamatan telur, penetasan di sarang semi-alami, perawatan tukik, hingga pelepasliaran ke laut.

Pengelola bersama masyarakat secara rutin melakukan patroli pantai untuk mencari sarang penyu. Telur yang berada di lokasi rawan direlokasi ke sarang penetasan semi-alami agar terlindung dari predator dan gangguan lain sehingga peluang menetasnya lebih besar. Setelah dinilai siap, tukik dilepasliarkan ke habitat alaminya di perairan selatan Jawa.

Selain menjadi pusat konservasi, Konservasi Penyu Nagaraja juga menjadi tempat belajar bagi masyarakat mengenai pelestarian penyu. Pengunjung dapat mempelajari proses konservasi, mulai dari penyelamatan telur hingga pelepasliaran tukik. Melalui kegiatan tersebut, pengunjung diajak lebih peduli terhadap kelestarian penyu dan ekosistem pesisir.

Mengapa Penyu Harus Dilindungi?

Penyu telah menghuni lautan selama sekitar 110 juta tahun, bahkan sejak zaman dinosaurus. Selama jutaan tahun, penyu berperan menjaga keseimbangan ekosistem laut melalui berbagai fungsi ekologisnya.

Kini, penyu menghadapi berbagai ancaman, mulai dari hilangnya habitat, sampah plastik, pengambilan telur secara ilegal, hingga perubahan iklim. Karena itu, seluruh spesies penyu laut di Indonesia berstatus satwa yang dilindungi.

Melindungi penyu berarti membantu mempertahankan keberadaan salah satu penjelajah samudra tertua di dunia. Setiap telur yang menetas dan setiap tukik yang berhasil mencapai laut memberi peluang baru bagi kelangsungan hidup penyu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 + one =