Kampung Naga, Perkampungan Tradisional di Tasikmalaya

1065
kampung naga
Kampung Naga di Tasikmalaya Jawa Barat dikenal karena penataan kampungnya dan penggunaan bahan-bahan alam untuk pembuatan rumah. (Sumber: Istimewa)

1001indonesia.net – Terletak di Desa Neglasari, Tasikmalaya, Jawa Barat, Kampung Naga mempunyai tata masyarakat, tata kampung, serta tata pertanian yang terpadu. Berciri tradisional, kecerdasan tata kampung tampak pada kemampuan memanfaatkan bahan-bahan alam secara lestari. Bentuk rumah panggung di daerah lembap-basah juga membuat rumah tetap dapat ditinggali secara sehat dan tahan lama.

Banyak orang membandingkan Kampung Naga ini dengan rumah-rumah di kawasan Alpen dan Jura di Eropa. Rumah-rumah ini dibangun dengan kontur dan kemiringan tanah. Tentu saja rumah tetap harus tegak lurus. Dengan kondisi alam seperti ini, pembuatan bangun perumahan dan fasilitas sosial harus dapat menyangga aktivitas harian manusia, ternak dan juga olah panen. Rumah berbentuk rumah panggung, dengan bahan kayu dan bambu. Atap dari daun ijuk dari nipah atau ijuk. Arah angin juga disiasati sehingga mampu masuk ke dalam perkampungan secara leluasa.

Fasilitas umum juga dibangun dengan tata letak yang menyiasati alur air dan kemiringan tanah. Fasilitas seperti fasilitas cuci, mandi, dan air bersih dibuat dengan cermat hingga memudahkan masyarakat untuk memanfaatkan air tersebut. Di dalamnya, terdapat beberapa balai yang dapat digunakan sebagai tempat perhelatan komunitas.

Di sekeliling kampung, ditanam barisan pohon bambu yang semakin membuat kampung tetap sejuk dan asri dipandang. Bagi traveller, tata kampung seperti ini mengingatkan jejak Majapahit di situs Trowulan, atau “negara-kota” seperti Jenewa (Swiss). Ada tata fasilitas yang menunjukkan bahwa masyarakat sudah mengatur diri mereka sendiri secara baik dan berimbang.

Masyarakat setempat menyebut kampung mereka pareum obor. Pareum artinya mati; obor artinya obor atau penerangan. Ini terkait dengan tidak diketahui asal usul kampung mereka akibat kejadian DI/TII sekitar 1956.

Masyarakat Kampung Naga juga memberikan banyak informasi bagaimana membangun teknologi dan kearifan lokal dalam bentuk pembentukan kampung dan juga pengolahan pertanian. Mereka memandang bahwa penghormatan terhadap leluhur atau karuhun menjadi pedoman penting masyarakat. Jika karuhun ini dilanggar, akan ada malapetaka.

Bagi orang luar, hal itu menegaskan adanya pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain mengenai pembentukan ekosistem kampung dan alam. Pengetahuan inilah yang berhasil membuat Kampung Naga dengan teknologi perumahan tahan sampai sekarang.

Jika dibandingkan dengan jenis kampung lain, bisa jadi Kampung Naga lebih tahan lama, dan tidak mengonsumsi banyak energi. Baru bagi masyarakat saat ini, tapi sudah turun-temurun di Kampung Naga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − 1 =