Fenomena Letusan Gunung Toba

630
toba
Danau Toba terbentuk dari letusan gunung api. (Sumber: Flickr/Adian Silalahi)

1001indonesia.net – Letusan Gunung Toba di masa lalu merupakan fenomena alam yang luar biasa. Untuk mengetahui betapa dahsyatnya fenomena itu, kita bisa gunakan Gunung Krakatau sebagai perbandingannya.

Gunung Krakatau yang meletus pada 1883 memberikan dampak luar biasa ke seluruh dunia dan untuk masa yang cukup panjang. Kekuatan letusannya kurang lebih 13.000 kali lebih besar daripada bom atom Hiroshima, dan menghasilkan tsunami yang tingginya dipercaya mencapai 30 m di beberapa tempat dan menewaskan sekitar 30.000 orang. Letusan ini juga menyebabkan turunnya hujan abu panas yang menewaskan sekitar 1000 orang.

Namun, letusan dan dampak Krakatau amatlah kecil bila dibandingkan letusan gunung Toba yang meletus beberapa kali sampai yang terjadi sekitar 74 ribu tahun lalu. Gunung Toba diperkirakan meletus selama 9–14 hari, dan memuntahkan materi 2.800 kilometrik kubik, yang menembus atmosfer sampai setinggi 27–37 kilometer. Diperkirakan bumi mengalami remang-remang sepanjang 10 tahun karena akibatnya. Jika letusan Krakatau diperkirakan berada pada skala 18, maka letusan Toba mencapai 2.800.

Fitur vulkanik yang terbentuk dari amblasnya tanah setelah letusan gunung—atau kaldera dari gunung Toba tampak pada keseluruhan danau Toba, yang merupakan danau terbesar di Indonesia, dan merupakan danau vulkanik terbesar di dunia—sekitar 50 kilometer persegi. Dalam luasan itu, kita dapat membayangkan muatan yang keluar dari dalam perut bumi dan dimuntahkan ke alam terbuka.

Meski sekarang dianggap tidak aktif, kawah ini terus mendapat perhatian terutama dalam memperkirakan pergerakan tektonik, termasuk mengenai pertemuan tiga lempeng tektonik: Indo-Australia-Eurasia-Pasifik. Penelitian juga dilakukan, termasuk, untuk melacak jejak hujan asam (yang penting dalam mencermati pemanasan global) dalam lapisan es di Greenland dan kawasan Kutub Utara.

Kini, kawasan Toba masih membuka ruang yang amat luas untuk diisi, yaitu upaya menggali warisan geologi, warisan budaya dan tentu upaya untuk membentuk suatu kawasan konservasi warisan dunia. Dalam hal ini, pilihan-pilihan tersedia untuk membuat kawasan ini tetap hijau lestari. Pertemuan antara upaya-upaya ilmiah, masyarakat, pengambil kebijakan, dan penggiat kelestarian alam dapat menjadi upaya nyata.

LEAVE A REPLY

three × 3 =