Biawak tak Bertelinga, Satwa Unik dari Kalimantan

280
Biawak Tak Bertelinga
Biawak Tak Bertelinga (Foto: dream.co.id)

1001indonesia.net – Kita semua pasti tahu binatang bernama biawak. Namun, biawak yang satu ini berbeda. Setidaknya sejak 2 tahun terakhir, reptil yang bernama biawak tak bertelinga atau earless monitor lizard ini mulai populer di seluruh dunia berkat foto-fotonya yang tersebar di media sosial.

Biawak tak bertelinga (Lanthanotus borneensis) sebenarnya pantas disebut fosil hidup. Biawak ini masih berkerabat dengan Cherminotus, sejenis biawak purba yang hidup 70 juta tahun lalu. Reptil ini menjadi satu-satunya anggota dari famili Lanthanotidae. Keberadaannya hanya ditemui (endemik) di Pulau Kalimantan.

Sesuai namanya, biawak ini tidak punya lubang telinga, tapi bukan berarti tidak bisa mendengar. Biawak ini pertama ditemukan tahun 1877. Sejak penemuan pertama hingga tahun 1961, hanya 12 spesimen yang telah ditemukan dan hanya sekitar 100 dari kadal ini yang pernah dikumpulkan.

Sebagian besar informasi yang dipublikasikan tentang Lanthanotus borneensis hanya berdasarkan laporan observasi perilaku spesimen tunggal yang disimpan di penangkaran dan sedikit saja yang diketahui tentang perilakunya di habitat aslinya.

Biawak tak bertelinga hidup dekat dengan sungai. Satwa ini memang merupakan hewan semiaquatik yang menghabiskan sebagian hidupnya di air. Mereka sangat suka air dan biasa menyelam hingga berjam-jam lamanya.

Biawak tak bertelinga merupakan hewan nokturnal alias hewan yang aktif pada malam hari sehingga sangat jarang muncul pada siang hari. Itu sebabnya sangat jarang orang yang melihat satwa ini.

Ciri umum satwa ini adalah tidak ada lipatan gular, hidung tumpul, serta tidak adanya telinga eksternal. Panjang tubuhnya bisa mencapai 45 cm hingga 55 cm. Selain itu, kelopak matanya transparan dan letaknya lebih rendah daripada biawak atau kadal jenis lain.

Ciri yang paling mudah dilihat adalah kulit luarnya yang dipenuhi dengan gerigi-gerigi seperti pada buaya, yang tersusun secara teratur berbentuk garis mulai dari bagian kepala sampai pada ekornya yang cukup panjang.

Dengan tubuh yang bergerigi, biawak ini dapat memecah arus air sungai dan menerobos bebatuan kerikil yang ada di air. Dengan demikian, mereka akan mampu bergerak dengan lebih baik saat berada di air sungai yang arusnya lumayan deras.

Warna kulit hewan ini adalah cokelat tua pada bagian atas dan berwarna cokelat agak muda pada bagian perutnya. Seperti umumnya biawak, satwa ini memiliki empat kaki, dan di setiap kakinya terdapat lima jari dengan kuku yang tajam.

Baca juga: Komodo, Hewan Purba yang Masih Hidup di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.