Areca Jokowi, Spesies Pinang Baru dari Tanah Papua

423
Areca Jokowi
Areca Jokowi (Foto: Charlie D. Heatubun)

1001indonesia.net – Charlie D. Heatubun menyebut pinang temuan barunya dengan nama Areca jokowi atau pinang jokowi. Pemberian nama tersebut sebagai penghargaan sang penemu kepada Presiden Joko Widodo yang menunjukkan kesederhanaan dan keteladanan dalam kepemimpinan serta kepeduliannya pada masyarakat Papua.

Temuan spesies baru ini menambah deretan tiga jenis pinang pinang yang telah diidentifikasi sebelumnya. Heatubun mempublikasikan temuan barunya dalam jurnal daring Phytotaxa Volume 288 No. 2 pada 14 Desember 2016 dengan judul “Areca jokowi: A New Species of Betel Nut Palm (Arecaceae) from Western New Guinea”.

Sebelumnya, pria yang menjabat sebagai Guru Besar Universitas Papua ini menamai pinang Areca mandacanii (2008) dan Areca unipa (2013). Tiga temuan baru beruntun setelah lebih dari 300 tahun, yakni Areca catechu Linneaus pada 1753.

Charlie D. Heatubun
Charlie D. Heatubun

Sebagai presiden, dalam dua tahun terakhir ini, Joko Widodo telah lima kali mengunjungi pulau yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya ini. Jokowi telah menggerakkan infrastruktur jalan trans-Papua dan perbatasan Papua Nugini.

Terlebih setelah Presiden Jokowi menyerukan untuk menyatukan harga bahan bakar minyak. Jokowi mengerti getirnya perasaan orang Papua karena harga bensin di pulau yang berada di ujung timur Indonesia ini bisa mencapai puluhan ribu rupiah per liter. Jauh lebih mahal ketimbang di daerah lain.

Tindakan Presiden Joko Widodo ini dianggap sebagai wujud nyata kepedulian seorang pemimpin pemerintahan kepada masyarakat Papua. Sebagai wujud terima kasih, nama Jokowi digunakan pada nama pinang yang baru ditemukan.

Temuan dari Ekspedisi Yamor dan Ekspedisi NKRI ini dinilai unik, dan secara morfologis berbeda dengan ketiga spesies sebelumnya. Ciri paling menonjol pinang jokowi adalah perbungaannya yang termasuk kecil tetapi padat serta bunga betinanya punya calyx putih kontras.

Pinang itu berperawakan palem tunggal, berbatang langsing dengan diameter 7 sampai 8 cm, dengan tinggi 15 meter. Jenis A catechu berdiameter batang 10-15 cm.

Temuan pinang jokowi berawal dari penelitian lapangan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Papua di Danau Yamor tahun 2015 yang dipimpin Heatubun. Muncul dugaan adanya jenis pinang baru dalam penelitian ini. Dugaan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Ekspedisi NKRI Koridor Papua Barat 2016.

Tanaman pinang ditemukan di lahan-lahan masyarakat di Desa Gariau (Urubika) yang masuk wilayah administratif Kabupaten Kaimana di Papua Barat. Pinang yang dalam bahasa lokal (dialek Yamor suku Kamoro) bernama siaku’ itu umum sebagai bagian penting kebiasaan menyirih orang Papua yang dikunyah bersama sirih dan bubuk kapur.

Dalam jurnal disebutkan, biji pinang jokowi berasal dari hutan perbukitan di Kepala Air Kali Ima di Gunung Daweri, dekat Desa Kewo yang berbatasan dengan Desa Nabire di Papua. Warga Desa Urubika mengambil biji pinang jokowi di atas perbukitan setinggi 300 meter itu, lalu ditanam di kebun warga hingga kini.

Terkait kondisi dan kerentanan spesies itu dari kepunahan, jurnal itu merekomendasikan agar dilakukan kajian lebih lanjut. Pinang jokowi itu tersebar terbatas dan berada di areal konsesi izin logging (perkayuan). Kerentanan tersebut seakan ironi dengan keanekaragaman hayati Papua, baik di belantara maupun di bawah lautnya. Papua Barat telah dicanangkan sebagai Provinsi Konservasi sejak 19 Oktober 2015.

Sumber: Kompas, Jumat, 23 Desember 2016.

LEAVE A REPLY

2 × two =