Wayang Suket Purbalingga, Kreasi Wayang dari Rumput Kasuran

66
Wayang Suket
Wayang suket hasil karya Budriyanto asal Desa Wlahar, Rembang, Purbalingga. (Foto: TEMPO/Aris Andrianto)

1001indonesia.net – Dibuat dari bahan yang sederhana, wayang suket Purbalingga memperkaya keragaman wayang Indonesia. Suket atau rumput dibentuk serupa wayang kulit, menjadi sarana untuk mengenalkan budaya adiluhung Jawa kepada anak-anak.

Di pedesaan Jawa yang masih tradisional, wayang suket biasanya dimainkan oleh anak-anak saat menggembalakan ternak. Sambil menunggu hewan piaraannya merumput, anak-anak gembala bermain dengan menirukan para dalang mementaskan wayang. Rumput-rumput di sekitar mereka menggembala kemudian dijadikan bahan untuk membuat model wayangnya.

Alkisah, seorang petani asal Desa Wlahar, Rembang, Purbalingga, bernama Kasan Wikrama Tunut (Mbah Gepuk) memiliki keinginan untuk membuat wayang dan mendalang. Namun, ia memiliki kendala karena harga kulit sapi tidaklah murah. Meski demikian, hal itu tak menyurutkan langkahnya, tapi justru membangkitkan ide kreatifnya.

Seperti peribahasa, tak ada rotan akar pun jadi, Mbah Gepuk kemudian menggunakan rumput liar yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar untuk membuat tiruan dari wayang kulit.

Mbah Gepuk menggunakan rumput kasuran untuk membuat wayang. Jenis rumput ini hanya tumbuh pada bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Bentuknya tak jauh beda dengan rumput lainnya. Namun, rumput kasuran lebih kuat atau tidak cepat putus dan pada bagian tengah daun memiliki lubang.

Bagi Mbah Gepuk, rumput memiliki makna tersendiri. Tak sekadar tanaman yang tumbuh liar dan berguna sebagai pakan ternak. Rumput hidup di bawah dan kerap diinjak atau bahkan dibabat karena dianggap mengganggu. Namun, dalam kondisinya yang seperti itu, rumput tetap hidup dan tumbuh seiring dengan keberadaan unsur alam lainnya, yaitu tanah, air, udara, dan matahari.

Mbah Gepuk melihat keberadaan rumput tersebut seperti wayang. Pertunjukan wayang merupakan tontonan mewah untuk kalangan istana, tetapi tetap dapat dipentaskan dan dinikmati oleh masyarakat kebanyakan.

Baca juga: Wayang Kulit Purwa, Cabang Kesenian Tradisional yang Paling Lengkap

Proses pembuatan

Untuk membuat wayang suket, dipilih rumput yang sesuai ukuran. Jika wayang yang ingin dibuat berukuran besar maka batang suket yang digunakan berukuran besar juga. Untuk ukuran normal, satu buah wayang suket membutuhkan sekitar 300 batang rumput.

Sebelum proses penganyaman, batang-batang rumput direndam terlebih dahulu selama satu jam agar layu. Rumput kemudian dipukul-pukul (digepuk) sehingga mudah dianyam.

Proses pembuatan wayang ini menggunakan 4 teknik anyaman, yakni anyaman sarang lebah, anyaman gedhěg untuk bagian tangan, anyaman kalabangan untuk bagian kepala, dan anyaman tikaran untuk kail bagian belakang kepala.

Lama pembuatan yang diperlukan untuk membuat wayang hingga jadi tergantung tingkat detail wayang yang akan dibuat. Semakin detail dan kompleks anyaman, semakin membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Baca juga: Wayang Krucil atau Wayang Klithik

Semakin dikenal luas

Wayang suket buatan Mbah Gepuk mulai dikenal oleh khalayak luas sejak digelarnya pameran dalam rangka Perkemahan Wira Karya Nasional (PWN) di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang. Pameran yang digelar tahun 1990 itu dibuka oleh Presiden Soeharto. Mulai saat itu, wayang suket sering dipamerkan di kota-kota lain, seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Solo.

Salah satu seniman yang berjasa besar memopulerkan wayang suket adalah Slamet Gundono (1966-2014). Seniman asal Tegal lulusan STSI (sekarang ISI) Surakarta dengan fokus pedalangan itu mengangkat wayang suket menjadi sebuah pertunjukan panggung. Dengan unsur teatrikal dan kekuatan berceritanya, Gundono mampu membuat pertunjukan wayang menjadi hidup.

Pada 1999, Gundono mendirikan Sanggar Wayang Suket untuk mengakomodasi perkembangan wayang suket.

Awal mula Gundono mendalang dengan wayang suket terjadi secara tak sengaja. Suatu ketika, ia diundang tampil di Riau. Di sana, Gundono diharuskan mementaskan wayang. Akan tetapi, sulit untuk mendapatkan peralatan wayang maupun gamelan di Riau. Menghadapi hal itu, ia menemukan akal. Ia menggunakan wayang dari rumput.

Sepulang dari Riau, Gundono semakin jatuh hati dengan wayang suket. Ia berpendapat, wayang suket memiliki garis keterhubungan antara pertunjukan teater barat dan tradisi timur. Tak sebatas itu, baginya, rumput melambangkan proses tumbuh kembang yang tak lekang oleh waktu.

“Seperti rumput, semangat harus terus tumbuh. Rumput tidak butuh banyak air dan sinar matahari, namun, dapat terus tumbuh. Saya belajar banyak dari filosofi rumput,” ungkapnya dalam sebuah wawancara.

Meski terbuat dari rumput, fisik wayang suket bisa bertahan hingga 20 tahun asalkan disimpan di tempat yang kering. Untuk membersihkannya cukup menggunakan kuas basah lalu dikeringkan hingga betul-betul kering.

Seiring waktu, wayang suket semakin dikenal luas bahkan hingga mancanegara. Pada 2012, Badriyanto, cucu Mbah Gepuk, yang melestarikan pembuatan wayang suket mulai banyak menerima order, baik dari seniman-seniman lokal, nasional, dan bahkan internasional, seperti Jerman dan Perancis.

Sayang sekali, tidak banyak yang bisa membuat wayang suket seperti yang dibuat Mbah Gepuk. Faktor pertama adalah keterbatasan bahan bakunya, yaitu rumput kasuran, yang hanya tumbuh di bulan Sura. Selain itu, proses penganyaman rumput menjadi bentuk wayang juga sulit.

Pada Agustus 2020, pemerintah menetapkan wayang suket sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tingkat Nasional.

Baca juga: Wayang Beber, Wayang Nusantara yang Hampir Punah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 + fourteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.