Wayang Beber, Wayang Nusantara yang Hampir Punah

1941

1001indonesia.net – Victoria M. Clara menyebut bahwa Indonesia paling tidak mempunyai 80 jenis wayang. Banyak di antaranya sudah punah sekarang. Di antara berbagai jenis wayang tersebut, wayang beber adalah yang tertua dan masih bertahan hingga sekarang, meski keberadaannya sudah di ambang kepunahan.

Istilah beber berasal dari bahasa Jawa ambeber, yang berati membeber atau membentangkan. Dalam pertunjukan wayang beber, seorang dalang membentangkan gulungan kertas atau kain bergambar (jagong) dan menceritakan lakon-lakon wayang dengan ilustrasi gambar tersebut.

Kain atau kertas tersebut lebarnya 50 cm sampai 70 cm dengan panjang 360 cm sampai 400 cm. Dalam satu gulungan ada 4 adegan. Biasanya untuk mementaskan 1 lakon cerita wayang dibutuhkan 4 sampai lima gulungan. Pementasannya diiringi musik gamelan yang terdiri atas kendang, rebab, kenong, gong, kethuk raras jangga, dan kempul raras lima.

Wayang Beber Pacitan, Gulung 1 Jagong 4
Wayang Beber Pacitan, Gulung 1 Jagong 4 (Foto: Rudi Prasetya)

Pada mulanya lakon yang dikisahkan dalam wayang beber adalah Mahabharata ataupun Ramayana. Gambarnya masih hitam putih, belum berwarna atau belum disungging.

Seturut perkembangan, gambar tersebut diberi warna. Lakon yang disajikan beralih ke cerita Panji. Lakon ini menceritakan perjalanan Raden Panji Inu Kertapati (Panji Asmarabangun) mencari kekasihnya, Dewi Sekartaji (Dewi Galuh Candrakirana).

Wayang beber dengan lakon Panji ini menjadi sangat populer pada masa Majapahit. Namun memasuki masa Mataram Islam, popularitasnya mulai memudar dan kalah oleh wayang kulit purwa.

Saat  ini hanya ada dua perangkat wayang beber yang masih bertahan, yaitu di daerah Pacitan dan di Gunung Kidul. Lakon wayang beber yang ada di Pacitan, Jawa Timur, adalah Jaka Kembang Kuning . Sedangkan yang ada di Gunung Kidul adalah Remeng Mangunjaya. Kedua lakon tersebut merupakan bagian dari cerita Panji. Diperkirakan usia keduanya mencapai 350 sampai 400 tahun. Yang berada di Pacitan bahkan dipercaya sebagai peninggalan dari zaman Majapahit.

Awalnya, kedua wayang beber tersebut milik Keraton Kasusunan Surakarta. Saat terjadi Geger Pecinan (1740-1743), Sunan dan benda-benda pusaka diselamatkan ke Ponorogo, Jawa Timur. Di antara benda-benda pusaka tersebut adalah seperangkat wayang beber lakon Jaka Kembang Kuning. Sementara wayang beber dengan lakon Remeng Mangunjaya terbawa oleh Pangeran Kajoran yang kemudian diselamatkan oleh Ki Cremoguno.

Fungsi utama wayang beber bagi masyarakat Jawa hampir tidak berubah sampai saat ini, yaitu sebagai sarana ritual. Masyarakat menganggap kedua wayang beber yang masih bertahan tersebut bersifat sakral sehingga hanya dapat dibuka atau dimainkan dalam waktu-waktu tertentu saja.

Sebagai sebuah karya budaya yang tak ternilai tentu saja keberadaan wayang ini harus dilestarikan dan dikembangkan. Namun, upaya untuk melakukannya tidak mudah. Pandangan masyarakat yang menganggap wayang beber bersifat sakral dan proses regenerasi dalang yang tidak berjalan lancar karena hanya keturunan dalang asli yang boleh menjadi dalang menyulitkan akses masyarakat umum yang ingin belajar wayang beber asli.

Hal lain yang menghambat perkembangan wayang beber adalah sifat pertunjukannya yang penuh simbol dengan kedalaman makna, tapi kurang menghibur dan terkesan monoton sehingga kurang mendapat apresiasi dari masyarakat umum. Oleh karena itu, diperlukan berbagai terobosan dan usaha yang serius jika kita tidak ingin warisan yang penuh dengan kearifan ini hilang begitu saja.

Berikut adalah video pertunjukan wayang beber lakon Joko Kembang Kuning.

LEAVE A REPLY

eighteen + 6 =