Tenun Songket Siak, Kekayaan Makna di Balik Keindahan Motif Kain

140
Tenun Songket Siak
Foto: Riau1.com

1001indonesia.net – Kain tenun siak memiliki motif yang sangat beragam. Di balik keindahannya, ternyata motif-motif tersebut sarat akan makna. Motif-motif kain tenun asli Siak, Riau, ini merangkum pandangan hidup dan budaya orang Melayu, dan menjadi sarana bagi penyebaran nilai-nilai keislaman.

Penghargaan terhadap tenun siak atau songket siak sudah dimulai sejak era Raja Siak III, pada pertengahan abad ke-18. Tak lekang oleh waktu, tenun ini terus bertahan dan diminati. Kini pemerintah daerah Siak, Riau, bahkan mewajibkan pegawai negeri sipil, menggunakan pakaian adat berbahan songket pada setiap hari Jumat.

Konon, tenun siak pertama kali dikenalkan oleh seorang pengrajin yang datang dari Kerajaan Trengganu, Malaysia, pada masa Kerajaan Siak diperintah oleh Sultan Sayid Ali. Pengrajin yang bernama Wan Siti Binti Wan Karim itu sangat terampil dalam menenun.

Mulanya Wan Siti Binti Wan Karim mengajarkan tenun tumpu, kemudian berganti dengan menggunakan alat yang dinamakan kik. Saat itu, kain tenun yang dihasilkan hanya terbatas dan digunakan oleh kalangan bangsawan saja.

Alat tenun kik terbuat dari kayu dan berukuran sekitar 1 x 2 meter. Kain yang dihasilkan dengan alat tenun ini tidaklah lebar sehingga tidak cukup untuk satu kain sarung. Sebab itu, dua kain disambung jadi satu, dan disebut kain ”berkampuh”.

Karena tidak lebar, untuk mendapatkan sehelai kain, terpaksa harus ditenun dua kali dan kemudian hasilnya disambung untuk bagian atas dan bagian bawah. Dengan proses ini, tentu memakan waktu yang lama untuk mendapatkan selembar kain tenun.

Awalnya, digunakan benang sutera yang dipadukan dengan benang emas sebagai ornamen (motif) atau hiasan. Lambat-laun, karena benang sutera susah didapat, digunakanlah benang katun.

Seperti umumnya tenun tradisional lain, awalnya pewarna yang digunakan berasal bahan-bahan alami. Warna jingga dihasilkan dari campuran rebusan umbi temu kuning dengan kapur, atau dari campuran kulit manggis yang direbus dengan celisan manggar kelapa.

Adapun warna hijau dari campuran rebusan daun kayu nodo dan kapur. Warna biru dihasilkan dari campuran senduduk/kenduduk dengan temulawak. Sedangkan warna cokelat dari rebusan kayu samak.

Dengan alasan kepraktisan karena semakin sulitnya bahan-bahan alami didapat, kini penenun menggunakan pewarna buatan.

Sarat makna

Seiring perkembangan, terciptalah beragam jenis motif tenun songket siak. Umumnya yang dipakai adalah motif tumbuh-tumbuhan dan hewan. Motif-motif tersebut tak hanya indah, tapi juga sarat akan makna.

Motif bunga-bungaan menyimbolkan nilai keluhuran dan kehalusan budi, keakraban dan kedamaian. Motif balam dua setengger mengandung makna kerukunan hidup suami istri dan persahabatan. Motif naga berjuang serindit mencerminkan sifat kearifan dan kebijakan. Motif puncak rebung menyimbolkan kesuburan dan kesabaran.

Motif-motif tersebut menjadi simbol bagi pandangan hidup orang Melayu. Di beberapa daerah di Riau, ada aturan adat mengatur kapan dan dalam acara apa suatu motif dipakai, dan siapa yang berhak memakainya.

Inti sari ajaran Islam yang terpateri dalam budaya Melayu muncul pula dalam motif kain tenun songket siak, seperti corak segi empat yang melambangkan empat sahabat Nabi Muhammad SAW.

Ada juga corak segi lima yang menyimbolkan lima rukun islam, corak segi enam merujuk pada rukun iman, bentuk wajik yang melambangkan sifat Allah yang maha pemurah, dan bentuk bulat melambangkan sifat Allah yang maha mengetahui.

Di masa silam, setiap pengrajin diharuskan memahami makna dan falsafah yang terkandung di dalam setiap motif kain tenun yang dibuatnya.

Dengan pemahaman tersebut, mereka pribadi mampu menyerap dan menghayati nilai-nilai yang dimaksud, mampu menyebarluaskan, dan mampu pula menempatkan motif itu menurut alur dan patutnya.

Dengan demikian, motif-motif pada tenun songket siak tak hanya digunakan untuk alasan keindahan. Motif-motif itu sarat makna dan digunakan juga sebagai sarana dakwah nilai-nilai keislaman.

Baca juga: Ulos, Kain Tenun Tradisional Batak yang Sarat Makna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fourteen − 12 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.