Ulos, Kain Tenun Tradisional Masyarakat Batak

597

1001indonesia.net – Ulos adalah kain tradisional masyarakat Batak, Sumatra Utara. Pemerintah telah menetapkannya sebagai warisan budaya tak benda pada 2014. Kain tenun tradisional ini mengandung nilai-nilai budaya yang dalam dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam ritus kehidupan masyarakat Batak.

Dulu, sebelum masuk ke ranah adat dan menjadi bagian dari upacara adat Batak, kain tenun khas Batak ini berfungsi layaknya pakaian dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai kain, baju, dan penutup atau ikat kepala. Memasuki zaman modern, ulos digunakan sebagai bagian dari upacara adat.

Dengan demikian, kain khas Batak ini bermakna bukan semata-mata fisiknya, melainkan juga nilai-nilai budaya yang melingkupinya sebagai bagian dari kehidupan orang Batak. Bagi masyarakat Batak, ulos merupakan simbol kasih sayang. Kain ini juga menjadi lambang ketokohan bagi seseorang yang mampu menguatkan badan dan jiwanya.

Ulos dan Filosofinya

Secara harafiah, ulos diartikan sebagai selimut atau kain yang menghangatkan badan. Dan memang, kain ini dulunya berfungsi sebagai penghangat badan bagi masyarakat Batak dalam dinginnya suhu pegunungan. Dalam perkembangannya, kain ini menjadi lambang kasih sayang dan bagian tak terpisahkan dari ritus kehidupan masyarakat Batak.

Pemberi ulos—orangtua dan hula-hula (saudara laki-laki ibu)—selalu menyertakan kata-kata dan doa restu kepada penerima. Karena itu, muncul istilah ulos untuk badan dan untuk jiwa (tondi). Kain ini tidak hanya berfungsi untuk menyelimuti badan, tapi juga berfungsi sebagai pelindung jiwa.

Seseorang akan mendapatkan ulos dari leluhurnya saat memulai kehidupan baru, yakni menjelang kelahiran, pernikahan, atau mempunyai anak/cucu, hingga meninggal. Saat seseorang menikah, orangtua mempelai laki-laki mendapatkan ulos karena si orangtua juga memulai hidup baru, yaitu memiliki anak yang sudah menikah.

Penenun biasanya sudah tahu kepada siapa ulos akan diberikan sehingga dalam proses penenunannya ada doa yang diselipkan kepada penerimanya. Jenis, warna, dan motifnya pun disesuaikan dengan penerima.

Panjang kain pun sudah ada ketentuan. Menurut kepercayaan orang Batak, jika panjangnya tidak dibuat sesuai ketentuan maka akan membawa bencana bagi jiwa si penenun, alih-alih membawa kebahagiaan dan keberuntungan seperti yang diharapkan.

Jenis yang paling dihargai adalah ulos ni tondi (kain roh) yang diberikan orangtua kepada anak perempuannya yang menunggu kelahiran bayi pertamanya. Saat itu, orangtua akan datang untuk memberkati anak perempuannya (mangupa).

Ulos diberikan oleh seseorang yang posisinya lebih tinggi kepada seseorang yang posisinya lebih tinggi kepada seseorang yang lebih rendah. Makna yang terkandung di dalamnya adalah memberikan berkah, seperti kakek atau orangtua kepada anak/cucunya, hula-hula (saudara laki-laki ibu) kepada boru (pihak yang memperistri), atau raja kepada rakyatnya. Namun, pada masyarakat Pakpak, ulos justru diberikan pihak boru kepada hula-hula.

Dalam perkembangan saat ini, muncul ulos yang menjadi produk fashion. Sebagian kalangan menyatakan itu sah-sah saja. Muncul industri ulos yang harganya murah sehingga bisa dijangkau oleh khalayak yang lebih luas. Ini juga menjadi kabar baik bagi kelestarian motif kain tradisional ini. Namun, diharapkan perkembangan ini tidak menghilangkan makna yang terkandung di dalamnya. Diduga ada 100-an jenis dan motif ulos, tetapi sudah banyak yang hilang dan tidak diproduksi lagi.

Sumber:

  • Kompas, Jumat, 5 Agustus 2016.

LEAVE A REPLY

17 + 12 =