Tari Maengket, Ungkap Syukur Masyarakat Minahasa Atas Hasil Panen

81
Tari Maengket
Awalnya Tari Maengket ditarikan saat panen sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. (Foto: kibrispdr.org)

1001injdonesia.net – Tari Maengket merupakan salah satu tari tradisional suku Minahasa di Sulawesi Utara. Awalnya ditarikan saat panen sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seiring waktu, tarian ini juga ditarikan pada berbagai acara, seperti pesta pernikahan, festival seni tari, pembangunan rumah baru, dan sebagainya.

Kata maengket berasal dari budaya gotong royong di Minahasa dalam kegiatan sehari-hari, terutama saat bercocok tanam. Seiring perkembangan zaman, Maengket dimengerti sebagai seni bernyanyi sambil menari dengan mengungkapkan sastra daerah yang dilakukan oleh sekelompok orang.

Nama Maengket sendiri berasal dari bahasa Minahasa engket yang berarti mengangkat tumit naik-turun. Mendapat imbuhan ma- pada kata engket, maka Maengket berarti menari dengan naik turun.

Baca juga: Tari Pagellu, Ungkap Rasa Syukur dengan Menari

Terdapat tiga jenis atau babak dalam Tari Maengket, tergantung pada acara apa tari ini dipentaskan. Ketiga jenis tersebut sebagai berikut:

  • Maowey Kamberu, dilaksanakan pada saat upacara pengucapan rasa syukur karena hasil panen yang berlimpah. Biasanya dilaksanakan di lapangan dengan syair dan irama puji-pujian kepada Tuhan.
  • Rumambak, ditarikan pada saat warga Minahasa akan menempati rumah baru. Dilaksanakan di halaman rumah tersebut.
  • Lalayaan, berfungsi sebagai hiburan. Lalayaan menceritakan seorang laki-laki yang merayu perempuan dengan meletakkan lenso (sapu tangan) di atas bahu penari perempuan.

Gerakan Tari Maengket menyesuaikan tema dan lagu. Tari Maengket yang berfungsi untuk ucapan terima kasih kepada Tuhan, formasi gerakan diawali dengan penari laki-laki membentuk barisan setengah lingkaran dan penari wanita berada di depan penari laki-laki.

Sedangkan Tari Maengket untuk hiburan, penari laki-laki dan perempuan saling bergandengan tangan dan berhadapan sambil mengerling.

Tari Maengket ditarikan secara massal, baik laki-laki maupun perempuan, secara berpasangan dan ada satu penari perempuan sebagai pemandu. (Foto: pariwisataindonesia.id)

Tari Maengket dimainkan oleh 20-30 penari laki-laki dan wanita secara berpasangan dan ada satu penari perempuan sebagai pemandu. Umumnya pakaian yang digunakan adalah baju tradisional khas Minahasa dengan warna cerah, seperti merah muda, kuning, hijau, putih, maupun biru.

Untuk penari perempuan menggunakan atasan kebaya, bawahan rok atau sarung tenun khas Minahasa, sanggul pingkan, dan bunga. Biasanya ditambah aksesori kalung dan anting-anting. Sedangkan penari pria mengenakan baniang (baju adat Minahasa) untuk atasan dan bawahan celana. Dilengkapi topi dan ikat pinggang.

Baik penari perempuan maupun laki-laki membawa lenso atau sapu tangan untuk atribut tarian.

Tari Maengket menggunakan iringan alat musik tambur, tetengkoren, dan bonang. Selain sebagai iringan, musik juga digunakan untuk mengarahkan gerak tari.

Baca juga: Tari Pamonte, Gambaran Kegembiraan Petani Saat Panen Tiba

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight + 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.