Tanjidor, Orkes Betawi Pengaruh Kebudayaan Eropa

507
Tanjidor
Foto: indonesiakaya.com

1001indonesia.net – Selain Gambang Kromong, masyarakat Betawi memiliki kesenian musik tradisional lainnya, yaitu tanjidor. Namun, berbeda dengan Gambang Kromong yang mendapat pengaruh dari kebudayaan China, Tanjidor dipengaruhi oleh musik Barat yang dibawa oleh orang-orang Belanda dan Portugis pada masa penjajahan dulu.

Perkembangan kesenian musik tanjidor berjalan seiring dengan perkembangan musik keroncong. Kedua musik ini mendapat pengaruh dari kebudayaan Eropa. Kebudayaan China kemudian juga turut memengaruhi perkembangan musik tanjidor.

Kata tanjidor berasal dari bahasa Portugis, yaitu tangedor yang berarti alat-alat musik berdawai. Tapi, kesenian tanjidor yang dikembangkan masyarakat Betawi berbeda dengan kesenian tangedor di Portugis, meskipun sistem tangga nadanya sama-sama diatonik. Tanjidor yang dikembangkan masyarakat Betawi lebih didominasi oleh alat musik tiup.

Konon, Tanjidor ini merupakan ensambel musik yang sering dimainkan oleh para budak untuk menghibur para majikan pada masa Hindia Belanda dulu. Saat perbudakan dihapuskan pada tahun 1860-an, para budak yang dilepaskan kemudian mulai membentuk perkumpulan pemusik dengan nama Tanjidor.

Seiring perkembangan zaman, orkes musik ini kemudian digemari oleh masyarakat Betawi dan sering dipertunjukkan dalam berbagai acara seperti pada acara pernikahan, acara kithanan, peringatan hari besar, dan perayaan-perayaan lainnya. Pada masa jayanya, tanjidor menjadi pertunjukan wajib di setiap perhelatan masyarakat Betawi.

Dalam pertunjukannya, alat musik ini biasanya dimainkan oleh 7 sampai 10 orang. Alat musik yang dimainkan di antaranya adalah klarinet, piston, trombon, saksofon tenor, saksofon bas, drum, simbal, dan tambur.

Lagu yang dibawakan pada awalnya merupakan lagu yang terkenal ditahun 1920-an seperti Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Welmes, Cakranegara, dan Was Tak-tak. Lagu-lagu ini masih kental dengan nuansa Belanda, terutama pada lagu Kramton dan Bananas yang merupakan lagu dari mars Belanda zaman dahulu.

Namun, karena kesenian ini sering dibawakan oleh masyarakat Betawi maka mulai muncul beberapa lagu baru yang bernuansa Betawi, di antaranya Kicir-Kicir, Jali-Jali, Stambul, Cente Manis, Sirih Kuning, Surilang, Persi, dan Keramat Karam.

Dalam perkembangannya, tanjidor ini mulai menjadi salah satu kesenian musik tradisional yang sering memeriahkan berbagai acara adat Betawi maupun di pesta besar di Ibu Kota Jakarta.

Orkes musik ini tidak hanya ditampilkan di panggung, tapi sering juga digunakan untuk mengiring arakan pengantin maupun arakan kithanan. Selain itu, juga sering digunakan untuk mengiringi kesenian lain, seperti ondel-ondel.

Di masa kini, nasib kesenian tanjidor tak menentu. Setelah pernah melewati masa jaya dalam masyarakat Betawi, kini kesenian musik ini semakin terpinggirkan. Jika tak ada upaya nyata untuk melestarikannya, bukan tak mungkin kesenian ini akan hilang tergerus zaman.

LEAVE A REPLY

4 × one =