Gambang Kromong, Musik Tradisional Khas Betawi

1322
Gambang Kromong
Foto: kamerabudaya.com

1001indonesia.net – Gambang Kromong merupakan musik tradisional masyarakat Betawi hasil perpaduan antara gamelan dan musik China. Perkembangan kesenian ini sangat berkaitan dengan masyarakat China peranakan di Jakarta.

Istilah Gambang Kromong berasal dari kata gambang dan kromong. Pada waktu pertama kali muncul di Betawi, orkes ini hanya bernama gambang. Gambang merupakan alat musik yang terbuat dari kayu, dimainkan dengan cara dipukul. Bilahan gambang berjumlah 18 buah. Meskipun alat musik ini sudah ada dalam gamelan Jawa, Sunda, dan Bali dengan nada pelog dan selendro, permainan gambang dalam ensambel ini bernada khas China.

Sejak awal abad ke-20, mulai menggunakan instrumen tambahan, yaitu bonang atau kromong, sehingga orkes ini dinamakan Gambang Kromong. Kromong merupakan sejenis alat musik bonang khas Betawi. Kromong terbuat dari perunggu, terdiri atas 10 bilah (pencon).

Selain alat musik gambang dan kromong, kesenian ini juga menggunakan alat musik gamelan yang lain, seperti gong, kendang, suling, dan kecrek.

Juga ada alat musik China untuk pengisi melodi, yaitu sukong, tehyan, dan juga kongahyan. Ketiganya merupakan hasil adaptasi dari alat musik gesek dari China. Kongahyan berukuran paling kecil, kemudian tehyan, dan yang paling besar adalah sukong.

Dalam perkembangannya masuk instrumen musik dari Barat, seperti terompet, gitar, biola, dan saksofon.

Orkes-orkes Gambang Kromong mencapai puncak kejayaannya sekitar tahun 1937. Salah satu yang terkenal adalah Gambang Kromong Ngo Hong Lao yang semua pemainnya beretnis Tionghoa. Pada masa itu hampir setiap daerah di Jakarta memiliki orkes Gambang Kromong. Kesenian ini bahkan tersebar sampai daerah Karawang, Bekasi, Cibinong, Bogor, Sukabumi, Tangerang, dan Serang.

Dulu, sudah menjadi adat dan kebiasaan bagi orang Tionghoa kaya untuk memeriahkan bermacam ragam pesta dan perayaan mereka dengan pertunjukan Gambang Kromong. Repertoar Gambang Kromong yang sangat dikenal oleh masyarakat penontonnya, antara lain Pecah Piring, Duri Rembang, Temenggung Menulis, Go Nio Rindu, Thio Kong len, Engko si Baba, dan lain-lain. Adapun lagu yang terkenal adalah Jali-Jali dan Kincir-kincir yang menjadi lagu wajib dalam setiap penampilan Gambang Kromong.

Orkes Betawi ini juga memiliki repertoar asli dalam bahasa China yang disebut sebagai lagu-lagu Phobin. Tapi, karena para penyanyinya kebanyakan terdiri atas wanita-wanita pribumi, maka repertoar Phobin tidak dinyanyikan, melainkan dimainkan sebagai sebagai musik instrumental.

Perkembangan orkes Gambang Kromong tidak terlepas dari jasa Nie Hoe Kong, seorang pemusik dan pemimpin golongan Tionghoa pada pertengahan abad XVIII di Jakarta. Atas prakarsanyalah, alat-alat musik yang biasa terdapat dalam gamelan (pelog dan selendro) digabungkan dengan alat-alat musik China.

Pada masa silam, orkes Gambang Kromong hanya dimiliki oleh babah-babah peranakan yang tinggal di sekitar Tangerang, Bekasi, dan Jakarta.

Pada 1960-an, berkembanglah Gambang Kromong modern yang dirintis oleh seniman Betawi, Benyamin S. Keterkenalan Benyamin membuat kesenian tradisional Betawi ini semakin dikenal luas.

Di samping untuk mengiringi lagu, Gambang Kromong biasa digunakan juga untuk pengiring Tari Cokek untuk menarik penonton agar mau menari bersama dan juga teater rakyat Lenong. Gambang Kromong juga digunakan sebagai pengiring Lenong (teater rakyat Betawi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × 1 =