Supriyadi, Pemimpin Pemberontakan PETA di Blitar

323
Supriyadi, Pemimpin Pemberontakan PETA di Blitar
Supriyadi (Foto: surabayaonline.co)

1001indonesia.net – Tak banyak yang mengenal nama Supriyadi. Padahal ia adalah seorang patriot yang turut berjuang melawan penindasan terhadap rakyat Indonesia, terutama dari pendudukan Jepang.

Supriyadi merupakan tokoh Pembela Tanah Air (PETA) yang melakukan pemberontakan terhadap Jepang di Blitar. Hatinya tergerak saat melihat penderitaan rakyat yang menjadi romusha.

Supriyadi yang bernama kecil Priyambodo lahir di Jawa Timur, 13 April 1923. Ia adalah putra dari Raden Darmadi yang menjadi bupati Blitar setelah Indonesia merdeka.

Sejak kecil, ia terbiasa mendapat cerita wayang perihal kepahlawanan dan sikap hidup kesatria dari kakek tirinya. Cerita-cerita itu sangat berpengaruh dan membekas dalam jiwa, kepribadian, dan sikapnya. Sejak kecil, Supriyadi dikenal sebagai anak yang pemberani yang tidak bisa melihat penindasan.

Supriyadi bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Tamat Mulo, ia meneruskan sekolah pamong praja atau Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang. Sekolahnya berhenti saat pendudukan Jepang dimulai.

Ia kemudian bersekolah di Sekolah Menengah Tinggi. Ia lantas mengikuti kesatuan semi militer Jepang Barisan Muda (Seinendan) di Tangerang. Selanjutnya, ia terpilih untuk mengikuti PETA yang dibentuk Jepang tanggal 3 Oktober 1943.

Selesai mengikuti pendidikan PETA, Supriyadi dinilai pantas oleh Jepang untuk menjadi perwira instruktur yang diangkat Jepang dengan tugas membentuk tentara-tentara pribumi sebagai kader inti PETA.

Ia ditempatkan di Peleton I Kompi III PETA Blitar dengan pangkat shodancho (Komandan Pelopor). Ia juga mendapat tugas untuk mengawasi pekerjaan para romusha.

Romusha merupakan cara Jepang untuk mengeksploitasi tenaga rakyat. Mereka dipaksa untuk bekerja sangat keras membangun jalan raya, lapangan terbang, jembatan, pelabuhan, benteng pertahanan, dan prasarana lainnya demi kepentingan pasukan Jepang tanpa upah sama sekali.

Selain harus bekerja keras tanpa upah, mereka juga mendapat jatah makanan yang sangat terbatas. Akibatnya, banyak rakyat yang mati saat menjadi romusha. Sebagian mati karena kelaparan. Sebagian lain mati karena penyakit yang tidak ditangani.

Menghadapi situasi tersebut, jiwa Shodancho Supriyadi memberontak. Sejak kecil ia telah menerima pendidikan mengenai jiwa kesatria melalui cerita wayang yang diterimanya. Ia pun tak pernah bisa menerima adanya penindasan. Tugas mengawasi romusha yang merupakan saudara sebangsanya bertentangan dengan kata hatinya.

Ia kemudian berniat untuk melakukan pemberontakan. Hal pertama yang ia lakukan adalah dengan menghubungi kawan-kawannya sesama tentara PETA. Mereka kemudian mengadakan pertemuan rahasia untuk merencanakan pemberontakan pada bulan september 1944.

Ketika itu, kawan-kawan Supriyadi yang ikut adalah Halir Mangkudijaya, Muradi, dan Sumanto. Supriyadi ingin aksi tersebut bukan hanya pemberontakan, tapi sebuah revolusi. Para pemberontak itu menghubungi para komandan di daerah-daerah lain untuk turut mengangkat senjata. Mereka juga ingin menggalang kekuatan rakyat.

Sayangnya, rencana Supriyadi dan kawan-kawan untuk memberontak segera tercium militer Jepang. Sejak awal tahun 1945, Jepang mulai curiga dengan gerakan tentara PETA di bawah pimpinan Supriyadi. Sebab itu, Jepang membuat berbagai peraturan ketat untuk tentara PETA. Militer Jepang juga mengawasi Supriyadi dan pasukannya.

Sesuai dengan rencana, pada 5 Februari 1945, Supriyadi memimpin pemberontakan. Waktu itu, ia akan menyerang Jepang waktu latihan bersama dengan batalion PETA Jawa Timur di Tuban. Sayangnya rencananya gagal karena Jepang membatalkan latihan.

Setelah rencana pertama gagal, mereka kemudian menyepakati bahwa pemberontakan tentara PETA akan dilakukan pada 14 Februari 1945 pukul 03.00. Namun, pemberontakan ini gagal karena memang rencana pemberontakan ini sudah diketahui oleh pihak Jepang.

Segera setelah pasukan pemberontak terdesak, Jepang mengirimkan utusannya untuk meminta para pemberontak menyerahkan dirinya. Muradi, pemimpin pemberontakan PETA selain Supriyadi, mengajukan persyaratan bahwa bahwa para pemberontak tersebut diampuni dan senjata mereka tidak dilucuti. Utusan Jepang menyetujui syarat tersebut.

Akan tetapi, militer Jepang tidak menepati janjinya. Sebanyak 78 perwira PETA yang terlibat dalam pemberontakan tersebut diusut oleh Polisi Militer Jepang (Kenpetai). Senjata mereka kemudian juga dilucuti.

Mereka kemudian diadili secara militer. Beberapa pimpinannya dijatuhi hukuman mati oleh Jepang, yaitu Muradi, Sunanto, Sudarmo, Suparyono, dan Halir Mangkudijaya. Mereka kemudian dieksekusi mati oleh Jepang di pantai Ancol, Jakarta. Sebagian lagi dihukum seumur hidup, dan yang lain mendapat hukuman penjara 3-15 tahun.

Namun, Supriyadi tidak dihukum mati oleh Jepang karena ia tidak menyerahkan diri setelah pemberontakan. Fakta ini menjadi menjadi hal yang kontroversial. Sebagian menganggapnya sakti, sebagian lain menganggapnya pengecut. Sementara teman-temannya sesama komandan menyerahkan diri dan dihukum mati demi melindungi anak buahnya, Shodancho Supriyadi malah “menghilang”.

Pada 6 Oktober 1945, pemerintah RI mengumumkan bahwa Supriyadi diangkat menjadi Menteri Keamanan Negara pada Kabinet I. Ini merupakan bentuk pengakuan pemerintahan SukarnoHatta terhadap dirinya. Namun, ia tidak kunjung datang.

Sejak saat itu, nasibnya tidak diketahui. Tidak ada yang tahu, apakah ia dapat lolos saat peristiwa pemberontakan PETA yang gagal, atau ia ditangkap oleh tentara PETA dan dihukum tanpa melalui proses pengadilan. Sampai sekarang, nasibnya masih menjadi misteri.

Pada 9 Agustus 1975, Pemerintah RI menghargai jasa-jasa Supriyadi dan memberikannya gelar Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden R.I No. 063/TK/ Tahun 1975.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

6 + 14 =