Supeno, Menteri yang Gugur saat Mempertahankan Kedaulatan RI

340
Menteri Supeno
Foto: sindonews.com

1001indonesia.net – Saat ini, tidak banyak orang yang mengenal Supeno. Padahal ia adalah salah satu sosok yang turut berjuang mempertahankan kedaulatan RI, khususnya di lima tahun pertama setelah proklamasi dikumandangkan. Pada masa pemerintahan Sukarno, ia pernah menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Pembangunan RI.

Supeno lahir di Pekalongan pada 12 Juli 1916. Ayahnya yang bernama Soemarno bekerja sebagai pegawai stasiun kereta api Tegal. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas atau Algemene Middelbare School (AMS) di Semarang, ia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hogeschool) di Bandung.

Baru dua tahun menuntut ilmu di AMS Semarang, ia pindah ke Sekolah Tinggi Hukum (Recht Hogeschool) di Jakarta. Di sana, Supeno tinggal di asrama Perkumpulan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) di Jalan Cikini Raya No. 71. Oleh teman-temannya, ia diangkat sebagai ketua asrama.

Supeno mengawali karier politiknya dengan bergabung dalam kelompok Amir Syarifuddin. Namun, ia kemudian memisahkan diri dengan kubu Amir Syarifuddin karena sudah tidak sepaham. Anak penjaga stasiun ini kemudian diangkat menjadi Menteri Pemuda dan Pembangunan RI pada Kabinet Hatta I.

Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militer yang kedua untuk menguasai Yogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia. Presiden Sukarno, Perdana Menteri Mohammad Hatta, dan beberapa pejabat pemerintahan lain ditangkap. Sementara itu, Jenderal Soedirman bergerak masuk hutan, memimpin TNI untuk bergerilya.

Tak semua pejabat sipil menyerah, sebagian bahkan ikut bergerilya. Mereka mencoba menggerakkan pemerintahan dari hutan belantara. Karena itu, kabinet ketujuh RI atau yang disebut Kabinet Hatta I disebut juga sebagai Kabinet Gerilya.

Salah satu menteri yang turut bergerilya adalah Supeno. Pada saat keadaan genting tersebut, Menteri Supeno juga diangkat sebagai Menteri Penerangan ad interim.

Naas, ia bersama rombongannya disergap tentara Belanda di Desa Ganter, Dukuh Ngliman, Nganjuk, pada 24 Februari 1949. Pagi hari itu, ia bersama kawan-kawannya sedang mandi di sebuah mata air.

Menteri Supeno kemudian diinterogasi. Ia mengaku sebagai penduduk desa biasa. Namun, tentara Belanda yang menginterogasinya tidak percaya dan menodongkan pistol ke pelipisnya, mendesaknya untuk bicara. Supeno tidak gentar dan tetap bungkam. Ia tidak mau mengaku bahwa dirinya seorang menteri.

Tentara Belanda yang jengkel karena Supeno tidak mau mengaku kemudian menembaknya di kepala. Ia tewas seketika. Enam kawannya kemudian juga ikut dieksekusi di tempat yang sama. Saat itu, usia Supeno baru menginjak 33 tahun.

Jasad Supeno dikebumikan Nganjuk. Setahun kemudian, jenazahnya dipindah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Semaki, Yogyakarta.

Atas pengorbanannya, melalui SK Presiden No. 039/TK/Th 1970 tanggal 13 Juli 1970, Pemerintah RI menetapkan Supeno sebagai Pahlawan Nasional.

Supeno juga dianugerahi Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Kelas III secara anumerta. Ia dinilai memiliki sifat-sifat kepahlawanan, keberanian, dan ketebalan tekad yang melampaui dan melebihi panggilan kewajiban dalam pelaksanaan tugasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − four =