Suluk, Jalan Menuju Kesempurnaan Batin

46
suluk
Ilustrasi (Foto: Santrinews.com)

1001indonesia.net –  Berkaitan dengan Islam dan sufisme, suluk diambil dari bahasa Arab salaka atau sulukun, terdiri atas aksara sin, lam, dan kaf (س ڶ ک) yang secara harfiah berarti memasuki atau jalan atau cara menuju ke-.

Istilah suluk mengacu pada cara hidup sufi yang mengejar kesempurnaan batin dan berusaha untuk menyatu dengan Tuhan. Oleh sebab itu, suluk dimaknai sebagai perjalanan vertikal dari dunia fana menuju alam ruhani yang kekal.

Menempuh jalan suluk (bersuluk) merupakan sebuah disiplin seumur hidup dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris agama Islam (syariat) sekaligus aturan-aturan esoteris agama Islam (hakikat).

Bersuluk juga mencakup hasrat untuk mengenal diri, memahami esensi kehidupan, pencarian Tuhan, dan pencarian kebenaran sejati (ilahiyyah), melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat lahiriah sekaligus syariat batiniah. Ini dilakukan mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan.

Adapun para pelaku suluk disebut salik. Isitilah salik sendiri merujuk pada orang-orang yang menempuh jalan menuju Hakikat Ilahi.

Kata suluk kemudian masuk ke dalam bahasa Jawa untuk menyebut suatu genre kitab khusus untuk mengajarkan ilmu tasawuf. Kata ini sudah digunakan sejak masa Wali Sanga. Suluk berkembang dalam tradisi istana Jawa dan dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Islam.

Ketika awal penyebaran Islam di Pulau Jawa pada abad ke-15 dan seterusnya, para bangsawan (priayi) masih memegang teguh tradisi Hindu dan Buddha. Agar bisa lebih mudah diterima oleh masyarakat Pulau Jawa, Islam kemudian membangun tradisi yang disesuaikan dengan budaya kaum priayi.

Lambat laun, kian banyak para priayi Jawa yang mempelajari dan memeluk Islam. Istana juga mulai mengalami pengislaman, meski pengaruh Hindu-Buddha masih ada. Ketika kaum priayi mulai mengenal Islam beserta nilai-nilainya, mereka mulai bersemangat untuk mengembangkan pengetahuan tradisional mereka.

Lama-kelamaan muncullah para cendekiawan Islam yang memiliki pengetahuan luas tentang tradisi dan budaya Jawa. Mereka menghasilkan karya sastra yang disebut suluk atau serat wirid yang mengandung kisah-kisah Islami.

Baca juga: Islam, Unsur-unsur Pembentuk Keragaman Peradaban Nusantara

Pada umumnya, suluk ditulis di pusat kerajaan-kerajaan Islam, seperti Cirebon, dan Kartasura yang kemudian menjadi Surakarta. Ciri khas genre karya sastra ini adalah ditulis dalam bahasa Jawa dan mengikuti aturan puisi macapatan

Awalnya, sastra suluk dihasilkan oleh orang-orang dari kalangan umum kaum priayi yang berpendidikan dan belajar di pesantren pada sekitar abad ke-16. Isinya sebagian besar tentang filsafat Jawa. Fakta ini menunjukkan bahwa para priayi meminjam ajaran dan filsafat sufi untuk mengungkapkan nilai-nilai atau pandangan hidup dalam tradisi Jawa.

Mereka menyadari tingginya nilai dan pentingnya warisan sastra Jawa serta berkeinginan untuk melestarikannya. Pada masa kerajaan Islam, warisan Jawa tersebut harus bernuansa Islam, atau setidaknya diwarnai dengan unsur Islam, agar dapat dipertahankan dalam masyarakat Jawa.

Mempertahankan tradisi dianggap penting karena kerajaan Jawa didirikan dengan dasar budaya Jawa. Raja-raja sadar mengenai hal itu. Sebab itu, para raja mempekerjakan pujangga-pujangga di istana. Beberapa di antaranya bahkan diberikan kedudukan tinggi.

Baca juga: Aksara Pegon, Bentuk Akulturasi Budaya Islam dan Jawa

Isi dan Ajaran Suluk

Suluk berkaitan dengan ajaran Islam Jawa, suatu perpaduan mistik Islam dan budaya Jawa tradisional. Inti ajaran suluk berkaitan dengan pencapaian pengalaman seorang manusia dalam mengenal Tuhan.

Bentuk pengetahuan khusus yang dipilih adalah panteistik sufistik yang semula dikembangkan oleh al-Hallaj dan Ibnu al-Arabi. Di Indonesia, pengetahuan ini dikembangkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsudim Pasai melalui tulisan-tulisan mereka dalam sastra Melayu.

Pandangan panteis dipilih karena sesuai dengan tradisi dan budaya pra-Islam yang mengakui gagasan politik tentang hubungan dewa-raja: raja merupakan titisan para dewa. Konsep ini memberi dasar keberadaan kerajaan Hindu Jawa.

Selain panteisme, monisme juga begitu mencolok dalam suluk. Itu sebabnya, inti ajaran suluk terpusat pada ajaran manunggaling kawulo-Gusti (persatuan hamba dengan Tuhan).

Sangat banyak kitab-kitab suluk di Jawa. Di antaranya adalah Suluk Ali-Fatimah, Suluk Wujil, Suluk Malang-Sumirang, Suluk Tirta Raga, Suluk Balkum, Suluk Jebeng, Suluk Paesan Wahya-Jatmika, dan Suluk Martabat Ta’ayun.

Baca juga: Pepaosan, Tradisi Pembacaan Sastra Kuno Suku Sasak di Lombok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.