Situs Megalitik Pokekea, Peninggalan Sejarah di Lembah Behoa

96
Kalamba di Situs Megalitik Pokekea di Lembah Behoa, Desa Hangira, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, diperkirakan sudah ada sejak 2.500 tahun sebelum Masehi. (Foto: versesofuniverse.blogspot.co.id)

1001indonesia.net – Situs Megalitik Pokekea terletak di Lembah Behoa, Desa Hangira, Kecamatan Lore Tengah, Kebupaten Poso, Sulawesi Tengah. Berada di atas bukit, situs ini memiliki sebaran tinggalan megalitik yang cukup banyak dan beragam. Semua tinggalan megalitik tersebut terkonsentrasi hampir merata di atas dan di dalam tanah bukit Pokekea.

Kalamba

Salah satu benda bersejarah di situs ini adalah kalamba yang diperkirakan telah ada sejak 2.500 tahun sebelum Masehi. Dalam bahasa Lore, kalamba berarti perahu arwah. Bentuk kalamba menyerupai drum atau tong. Materinya terbuat dari batu. Dalam kehidupan modern, kalamba identik dengan tempayan atau tempat menyimpan air.

Tinggi kalamba 190 cm dengan diameter 160 cm dan kedalaman 90 cm. Di dekat mulut kalamba terdapat ukiran wajah-wajah yang menunduk, layaknya orang memberi salam hormat.

Kalamba yang tertinggi tersebut didampingi kelamba lain yang lebih pendek. Kalamba lain terkonsentrasi di sisi timur, sekitar 75 meter dari pintu masuk. Di tempat ini, kalamba berbagai ukuran tergeletak, tingginya mulai dari 50 cm sampai 150 cm.

Secara umum ada dua tipe kalamba berdasarkan jenis ukiran wajah manusia, pada kalamba ada juga garis timbul keliling.

Pertama, kalamba bermotif yang kebanyakan berpostur tinggi dan ada ukiran wajah manusia berupa sepasang mata, alis, dan hidung. Selain ukiran wajah manusia, pada kalamba ada juga garis timbul keliling.

Kalamba lain yang berukuran pendek tak memiliki motif. Dinding kalamba jenis itu tak dihiasi ukiran apa pun.

Diperkirakan kalamba memiliki dua jenis kegunaan. Pertama, sebagai kuburan kedua atau sebagai tempat penyimpanan tulang. Hal ini didasarkan atas penemuan tengkorak dan gigi lebih dari satu individu dalam kalamba-kalamba di situs ini. Kalamba yang dipakai sebagai kuburan kedua adalah yang bermotif.

Kemungkinan lain, berdasarkan legenda yang berkembang di masyarakat Lore, kalamba dipakai sebagai tempat penyimpanan air mandi untuk putri bangsawan. Untuk keperluan ini digunakan kalamba polos.

Situs Megalitik

Di Situs Megalitik Pokekea terdapat 27 kalamba dari total 113 benda purbakala di tempat itu. Sisanya berupa arca berukir manusia dan lempengan batu.

Situs Megalitik Pokekea merupakan satu dari 50-an lokasi penemuan peninggalan kebudayaan megalitikum di Lembah Behoa, Lembah Napu, dan Lembah Bada, Kabupaten Poso.

Total ada 300-an benda megalitik di sekitar 40 situs yang tersebar di Kecamatan Lore Tengah. Situs-situs tersebut berada di Desa Katu, Rompo, Torire, Bariri, Doda, Hangira, dan Lempe.

Berdasarkan hasil penelitian Badan arkeologi Manado, Sulawesi Utara, benda-benda tersebut sudah ada sejak 2.500 tahun sebelum Masehi. Peninggalan tersebut kebanyakan berupa kalamba dan arca berukir wajah manusia.

Megalitikum merupakan suatu babak dalam sejarah manusia yang terpentang dari tahun 2.500 SM sampai abad pertama Masehi. Istilah megalitikum berasal dari bahasa Yunani yang berarti batu (lithos) besar (mega). Pada zaman itu, manusia menghasilkan benda-benda yang terbuat dari batu, baik sebagai perlengkapan bercocok tanam, maupun untuk aktivitas ritual, seperti penguburan dan penyembahan.

Seperti yang dilansir Kemdikbud, Von Heine Geldern (1945) berpendapat bahwa tradisi megalitik di Indonesia terbagi menjadi dua periode, yaitu megalitik tua (2.500–1.500  SM)  dan megalitik muda (1.500 SM sampai abad ke-1 M). Walaupun tradisi megalitik terbagi dua periode, tetapi kedua periode itu berlangsung bersama-sama pada masa megalitik muda. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa peninggalan megalitik Situs Pokekea termasuk dalam kedua periode tersebut.

Selain kalamba, Situs Pokekea yang terletak di atas bukit memiliki sebaran tinggalan megalitik yang cukup banyak dan beragam, seperti, tutup kalamba, arca batu, batu dakon, lumpang batu, meja altar, batu dulang, batu bergores, dan gerabah kubur. Semua peninggalan megalitik tersebut terkonsentrasi hampir merata di atas dan di dalam tanah bukit Pokekea.

Di Indonesia, selain Poso, peninggalan megalitikum bisa ditemukan di Sumatra, Jawa, hingga di Nusa Tenggara Timur.

LEAVE A REPLY

four × one =