Sigajang Laleng Lipa, Tradisi Bugis untuk Menyelesaikan Masalah

723
Sigajang Laleng Lipa
Sigajang Laleng Lipa (ANTARA FOTO/Ekho Ardiyanto)

1001indonesia.net – Konon, orang Bugis memiliki cara yang unik dan sangat berbahaya untuk menyelesaikan masalah. Dua lelaki dari kedua belah pihak yang bermasalah akan saling tikam dengan badik di dalam sarung. Tradisi menyelesaikan masalah tersebut dinamakan Sigajang Laleng Lipa.

Di masa lalu, terutama pada masa kerajaan Bugis, tradisi yang dikenal juga sebagai Sitobo Lalang Lipa ini dilakukan kala terjadi perselisihan di antara dua keluarga. Sigajang Laleng Lipa merupakan cara terakhir untuk menyelesaikan masalah ketika musyawarah tidak mencapai kata mufakat, misalnya ketika kedua belah pihak sama-sama merasa benar.

Tradisi ini bersumber dari budaya Bugis yang menjunjung tinggi rasa malu, atau dalam bahasa setempat disebut siri. Ketika merasa harga diri mereka terinjak-injak, orang Bugis akan melakukan apa pun untuk mempertahankan kehormatan mereka. Meski hal tersebut harus dibayar dengan nyawa mereka.

Siri atau budaya malu ini sangat kuat dalam kehidupan bermasyarakat Bugis. Orang Bugis bahkan memiliki ungkapan, hanya orang yang punya siri yang dianggap sebagai manusia. Juga ada pepatah Bugis, “Siri paranreng nyawa palao.” Artinya, harga diri yang rusak hanya bisa dibayar dengan nyawa lawannya.

Ritual Sigajang Laleng Lipa dilakukan oleh dua orang yang berduel dalam satu sarung. Bersenjatakan badik, keduanya saling baku tikam.

Dalam tradisi tersebut, tak tanggung-tanggung, nyawa yang menjadi taruhannya. Salah satu pihak sangat mungkin akan menemui ajalnya. Namun, bisa juga hasilnya seri. Bisa keduanya terbunuh, atau keduanya hidup.

Bila tradisi ini sudah terlaksana, maka masalah harus dianggap sudah selesai. Kedua belah pihak juga diwajibkan untuk tidak menyimpan dendam.

Penggunaan sarung dalam tradisi Sigajang Laleng Lipa memiliki makna tersendiri. Sarung menjadi simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat Bugis. Berada dalam sarung berarti menunjukkan, diri mereka berada dalam satu ikatan yang menyatukan.

Namun, seiring perkembangan zaman, ritual yang sangat berbahaya ini pun mulai ditinggalkan. Meski begitu, sesekali ritual ini kembali dilakukan, tetapi sebagai bentuk pertunjukan. Tak lain tujuannya untuk menjaga kelestarian warisan budaya suku Bugis.

Pementasan ini dimulai dengan pementasan tari dan ritual bakar diri para penari menggunakan obor. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian mantra oleh seorang Bissu (kaum pendeta) pada peserta dari kedua belah pihak yang akan melakukan tradisi Sigajang Laleng Lipa.

Baca juga: Bissu, Manusia Setengah Dewa dari Sulawesi Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.