Bissu, Manusia Setengah Dewa dari Sulawesi Selatan

1203
Bissu
Foto: jakartabiennale.net

Di Kabupaten Pangkep dan Bone, Sulawesi Selatan, hidup komunitas Bissu: kaum “meta-gender” yang mengabdi sebagai imam besar pada populasi Bugis setempat. Mereka bukan pria, bukan pula wanita. Namun, mereka memiliki banyak kelebihan, dan dipandang sebagai campuran manusia dan dewa.

1001indonesia.net – Budaya Indonesia memiliki pemahaman yang lebih luas dan beragam mengenai gender daripada pandangan yang dominan saat ini yang melihat gender secara biner—pria dan wanita, maskulin dan feminin. Masyarakat saat ini umumnya tidak mempertimbangkan adanya jenis kelamin dan seksualitas lainnya.

Secara budaya, orang Indonesia telah mengakui keragaman seksual dan gender sebagai bagian dari kehidupan mereka. Di Banyumas, misalnya, terdapat seni tari Lengger Lanang yang dimainkan oleh laki-laki yang berpenampilan dan berperilaku sebagai perempuan.

Baca juga: Dariah, Maestro Kesenian Lengger Lanang Banyumas

Di Sulawesi, masyarakat Toraja tradisional mengakui adanya gender ketiga, yang disebut to burake tambolang. Mereka percaya bahwa para pemimpin agama yang paling penting dalam budaya Toraja adalah seorang wanita (burake tattiku) dan seorang pria berpakaian sebagai seorang wanita (burake tambolang).

Hal yang serupa juga terjadi dalam masyarakat Bugis tradisional yang menempatkan kaum Bissu, yang merupakan kaum “meta-gender”, pada kedudukan yang terhormat.

Kepercayaan Tolotang yang dianut oleh masyarakat Bugis tradisional memiliki pandangan yang unik mengenai gender. Dalam kepercayaan tersebut, ada lima gender yang diakui, yakni Makkunrai (perempuan), Oroané (laki-laki), Calabai (laki-laki feminin berpakaian sebagai perempuan), Calalai (perempuan maskulin berpakaian sebagai laki-laki), dan Bissu (pendeta sekaligus imam besar tanpa gender).

Kelima gender tersebut menjadi bagian integral dari struktur agama dan budaya tradisional orang Bugis.

Dari kelima gender itu, Bissu menduduki posisi yang istimewa. Untuk menjadi Bissu, seseorang harus mengakumulasi keempat ciri gender lainnya. Dengan kata lain, kaum Bissu memiliki gender tersendiri yang merupakan gabungan dari keempat gender lainnya. Dikatakan mereka bukan lelaki maupun perempuan, tapi memiliki kelebihan keduanya.

Dengan kata lain, sementara Calabai dan Calalai setara dengan trans-gender, Bissu merupakan kaum “meta-gender”. Sebagian orang menyebutnya androgini karena baik unsur laki-laki (maskulin) maupun perempuan (feminin) ada pada diri mereka.

Kekhususan gender yang dimiliki Bissu terlihat dari busana yang mereka kenakan. Pada upacara resmi, mereka mengenakan pakaian yang berbeda dengan busana yang dikenakan lelaki dan perempuan pada umumnya; dan sebagai pelengkap, mereka membawa badik sebagai simbol laki-laki serta memakai hiasan bunga di kepala sebagai simbol perempuan.

Bissu yang berarti orang suci, merupakan konsep yang berasal dari La Galigo. Menurut epos kuno Bugis tersebut, kehadiran Bissu sama tuanya dengan sejarah keberadaan umat manusia di muka bumi. Ketika dewa penguasa langit mengutus Batara Guru untuk turun ke bumi, dua Bissu diutus mendampinginya.

Bissu itulah yang kemudian mengatur semua urusan di dunia, mulai dari menciptakan bahasa, adat istiadat, dan hal-hal lainnya yang dibutuhkan manusia. La Galigo juga menggarisbawahi peran penting Bissu untuk menjaga keberlangsungan kerajaan.

Dalam mahakarya yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno tersebut, Bissu juga menjadi tokoh sentral. Konon, saudara perempuan kembar Sawerigading, tokoh penting dalam Sureq Galigo, yakni We Tanriabeng, adalah seorang Bissu.

Baca juga: La Galigo atau Sureq Galigo, Mahakarya Sastra Bugis

Sampai kedatangan Islam di Sulawesi pada abad ke-15, Bissu menjadi perwakilan paling agung dari Kerajaan Bugis dan Luwu. Mereka dipandang sebagai percampuran manusia dan dewa. Posisi mereka berada di tengah-tengah, untuk menjaga keseimbangan antara dunia atas dan dunia bawah.

Saat itu, Bissu tinggal di istana kerajaan dan berperan sebagai abdi dalem bagi raja-raja Bugis. Mereka memainkan peran yang penting, seperti menjadi penasihat raja beserta keluarganya, merawat pusaka-pusaka kerajaan, dan memimpin ritual-ritual penting di kerajaan.

Para Bissu juga berperan sebagai mediator antara manusia dan roh-roh gaib. Mereka bahkan memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan para dewata, leluhurnya, dan sesamanya. Bahasa itu kadang disebutnya sebagai Basa Ugi Galigo atau Basa torilangi’ (Bahasa orang langit).

Bissu
Foto: boombastis.com

Tidak sembarang orang bisa menjadi Bissu, harus ada panggilan spiritual. Hal ini tidak bisa direkayasa. Orang yang terpanggil menjadi Bissu juga mendapat semacam anugerah untuk dapat mengetahui basa torilangi, meski tidak ada yang mengajarkannya kepada mereka.

Layak tidaknya seseorang menjadi bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian puang matoa atau puang lolo, pemimpin komunitas Bissu. Calon yang terpilih kemudian diwajibkan berpuasa (appuasa) selama sepekan hingga empat puluh hari. Setelah itu, ia bernazar (mattinja’) untuk menjalani prosesi irebba (dibaringkan) yang dilakukan di loteng bagian depan Bola Arajang (Rumah Pusaka).

Bola Arajang merupakan rumah panggung bercat hijau yang digunakan sebagai tempat menyimpan pusaka. Rumah keramat ini juga digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat pada waktu-waktu tertentu, seperti Mappalili, yaitu upacara turun ke sawah saat memasuki musim hujan.

Prosesi irebba bisa berlangsung 3–7 hari. Setelah itu, calon dimandikan, dikafani, dan dibaringkan berdasarkan hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air. Selama disemayamkan, calon Bissu dianggap dan diperlakukan layaknya orang mati.

Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami calon yang sedang menjalani prosesi irebba. Setelah melewati upacara sakral ini, ia resmi menjadi Bissu. Sejak itu, ia harus menjaga sikap, perilaku, dan tutur katanya, di antaranya dengan selalu tampil anggun dan menjaga karisma serta senantiasa berlaku sopan.

Terpinggirkan

Pandangan positif terhadap Bissu mulai berubah beberapa dekade lalu. Seiring hancurnya kerajaan-kerajaan Bugis kuno dan masuknya Islam, peran kelompok ini perlahan terkikis. Mereka tidak lagi tinggal di istana dan memberi nasihat raja.

Mereka bahkan pernah dikejar-kejar untuk ditumpas oleh kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakar. Mereka dianggap sebagai penyembah berhala.

Bissu
Puang Matoa Saidi merupakan pemimpin komunitas Bissu. Semasa hidupnya, ia kerap diundang ke luar negeri untuk membacakan naskah kuno La Galigo. (Foto: Irmawati)

Kini, Bissu masih dapat dijumpai di beberapa daerah yang dahulunya merupakan bagian dari kerajaan Bugis, seperti di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dan Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan.

Namun, kaum yang memiliki posisi terhormat sebagai pemimpin spiritual di era Bugis kuno ini, kini kian terpinggirkan. Saat ini, komunitas Bissu yang mendiami tanah Segeri, Pangkep tinggal enam orang saja. Itu pun hanya lima orang yang menjalankan aktivitas kebissuan dan mengikuti upacara-upacara adat.

Karena tak lagi hidup dari kerajaan, kini mereka harus menghidupi diri mereka sendiri. Sebab itu, para Bissu biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan lain di luar kebissuan sebagai mata pencaharian mereka.

Komunitas yang tetap teguh memegang adat, tradisi, dan kearifan lokal ini sempat mendunia dengan ikut sertanya Puang Matoa Saidi, pemimpin komunitas Bissu di Segeri, ke berbagai negara dalam pementasan I La Galigo.

Pertunjukan itu disutradarai oleh Robert Wilson, seorang sutradara asal Amerika. Puang Matoa Saidi yang meninggal pada Selasa, 28 Juni 2011, menjadi narator utama dalam pementasan tersebut.

Bissu
Pementasan I La Galigo (Foto: Robert Wilson)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ten − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.