Selamat Merayakan Imlek

149
Imlek
Ilustrasi (Sumber: Istimewa)

1001indonesia.net – Tahun ini, Imlek atau Tahun Baru China jatuh pada 5 Februari 2019. Pada penanggalan Tionghoa, kita akan memasuki tahun 2570, yang disebut Tahun Babi Tanah. Perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari, mulai dari tanggal 1 sampai tanggal 15 bulan pertama dalam penanggalan Tionghoa. Rangkaian perayaan akan ditutup dengan perayaan Cap Go Meh.

Di berbagai daerah, sudah terlihat berbagai persiapan untuk menyambut Imlek. Namun, di balik semangat untuk menyambut perayaan tersebut, juga tersiar kabar adanya reaksi sebagian masyarakat yang mulai mempersoalkan perayaan ini.

Salah satunya terjadi di Bogor. Satu ormas di Bogor menolak perayaan Imlek dan festival Cap Go Meh. Mereka menilai Imlek dan Cap Go Meh bukan sekadar perayaan etnis Tionghoa semata, tetapi merupakan perayaan keagamaan. Menurut mereka, tidak tepat bagi pemerintah untuk mendukung perayaan tersebut, karena bisa mengurangi keimanan umat Islam.

Para penolak juga meminta agar pemerintah daerah tidak mengarahkan aparatur sipil negara yang beragama Islam dan masyarakat muslim lainnya untuk ikut menghadiri maupun mendukung perayaan Cap Go Meh.

Namun, Wali Kota Bogor Bima Arya teguh pada posisinya untuk tetap memfasilitasi perayaan itu. Pemerintah Kota Bogor menegaskan bahwa perayaan Imlek dan festival Cap Go Meh di Kota Bogor merupakan salah satu agenda tahunan penting yang digelar untuk menggaet wisatawan.

Lebih lanjut, Bima Arya mengatakan, setiap tahunnya, festival Cap Go Meh selalu dikemas dalam bentuk pesta rakyat bertajuk Bogor Street Festival. Dengan demikian, perayaan ini lebih mengedepankan nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal.

Selain di Bogor, reaksi penolakan terhadap festival Cap Go Meh juga terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat. Seperti di Bogor, pemerintah daerah di sana juga memastikan bahwa perayaan ini akan tetap digelar.

Menyambut musim semi

Lalu apakah benar bahwa Imlek dan Cap Go Meh bukan semata perayaan etnis Tionghoa tapi merupakan perayaan keagamaan?

Tom Saptaatmaja (Kompas, 4/2/2019) menulis, pertama-tama Imlek atau Sincia bukanlah perayaan yang bersifat keagamaan. Imlek merupakan perayaan para petani untuk menyambut musim semi. Perayaan berlangsung sejak tanggal 30 bulan ke-12 hingga tanggal 15 bulan pertama.

Itu sebabnya, perayaan ini juga disebut sebagai Festival Musim Semi untuk menandai berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim semi. Jejak budaya pertanian tersebut tampak pada adanya pernak-pernik Imlek yang berasal dari lingkup pertanian, seperti buah jeruk dan kue keranjang.

Namun, mengingat di China kuno banyak penganut Tao, Khonghucu, dan Buddha, maka perayaan rakyat ini kemudian diberi sentuhan keagamaan.

Umat Khonghucu kemudian menjadikan Imlek sebagai peringatan tahun kelahiran Nabi Kongzi. Sementara kaitan antara agama Buddha dan perayaan Imlek dimulai sejak penyebaran agama Buddha di China. Rakyat yang sudah menganut agama Buddha masih tetap mempertahankan budaya tradisionalnya, dan bahkan kadang tercampur kepercayaan kuno, seperti Taoisme dan Konfusianisme.

Sementara bagi orang Tionghoa yang menganut Kristen dan Islam, Imlek jelas bukan merupakan hari keagamaan.

Jadi jelas Imlek bukan merupakan hari yang eksklusif atau menjadi milik agama tertentu saja. Imlek menjadi hari raya kebersamaan bagi etnis Tionghoa, bahkan bagi siapa saja yang mau berperan serta.

Namun, meski Imlek telah dirayakan oleh orang Tionghoa sejak lama dan dengan melibatkan beragam suku-suku lain di Indonesia, momen ini pernah dilarang pada masa Orde Baru. Tak hanya perayaan Imlek, Orde Baru membatasi segala ekspresi agama, kepercayaan, dan adat istiadat China di ruang publik.

Presiden Abdurrahman Wahid yang kemudian mencabut Inpres No. 14/1967 yang dibuat Soeharto untuk melarang apa pun yang berbau China untuk dirayakan di depan umum. Pada 2001, Presiden Gus Dur menetapkan Imlek sebagai hari libur fakultatif. Imlek kemudian dibakukan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri melalui Keppres No 19/2002.

Imlek dan keberagaman

Kemeriahan perayaan Imlek telah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Tak hanya eksklusif milik warga Tionghoa, Imlek telah menjadi momen perayaan bersama. Di berbagai daerah, perayaan Imlek tak hanya dirayakan oleh orang Tionghoa, tapi melibatkan juga berbagai suku yang ada di daerah tersebut.

Di Solo, tujuh hari menjelang Imlek, digelarlah perhelatan Grebeg Sudiro sebagai perwujudan harmonisasi antara etnis Tionghoa dan Jawa. Perayaan yang digelar sejak masa Pakubuwono X ini merupakan sebuah perayaan lintas etnis yang mengajak semua masyarakat untuk merawat kebinekaan.

Baca: Grebeg Sudiro, Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa di Solo

Di Kampung Pecinan Tambak Bayan, Surabaya, perayaan Cap Go Meh menjadi perayaan yang melibatkan beragam suku dan agama. Masyarakat etnis Tionghoa di sana mengundang warga agama lain di kampung tersebut untuk berkumpul bersama di rumah besar, sebuah bangunan tua yang letaknya di ujung gang kampung.

Dengan demikian, acara tersebut tidak lagi semata-mata untuk merayakan hari terakhir rangkaian perayaan Imlek oleh warga Tionghoa, tetapi juga untuk merayakan keanekaragaman yang mewarnai kehidupan di kampung Pecinan Tambak Bayan selama lebih dari satu abad.

Baca juga: Cap Go Meh Ala Kebinekaan di Kampung Pecinan Tambak Bayan

Di Singkawang, perayaan Imlek dan festival Cap Go Meh selalu ditunggu masyarakat karena kemeriahannya. Puncak dari festival Cap Go Meh adalah Pawai Tatung, merupakan hasil dari perpaduan antara budaya Tionghoa dengan budaya lokal.

Kemeriahan festival yang dihadiri oleh masyarakat dari beragam etnis dan agama ini menunjukkan bahwa perayaan Imlek dan Cap Go Meh bukan eksklusif milik orang Tionghoa saja. Semua warga, baik Tionghoa ataupun bukan, dapat menghadirinya dan turut larut dalam kegembiraan.

Selamat merayakan Imlek.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

7 + 2 =