Grebeg Sudiro, Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa di Solo

138
Grebeg Sudiro
Kemeriahan Grebeg Sudiro, sebuah perayaan menjelang Imlek hasil dari perpaduan antara budaya Tionghoa dan Jawa. (Foto: JIBI/Solopos)

1001indonesia.net – Grebeg Sudiro merupakan kirab hasil perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa. Gelaran tahunan ini diadakan di Solo, tujuh hari sebelum Tahun Baru Imlek. Keberadaannya bukan hanya menjadi simbol toleransi semata, tapi juga sebuah perayaan lintas etnis yang mengajak semua masyarakat untuk merawat kebinekaan.

Dalam perayaan yang berpusat di Pasar Gedhe dan Balong tersebut, diarak gunungan yang terdiri atas gunungan jaler dan gunungan estri yang umum ditemukan dalam upacara Jawa. Juga gunungan-gunungan lain serta jodang dari beragam kampung di Solo yang menggambarkan potensi masing-masing kampung.

Uniknya, selain dihias sayur dan buah-buahan, gunungan dan jodang tersebut diisi oleh kue-kue khas Tionghoa, seperti kue keranjang, kompyang, pia, bakpao, dan janggelud. Gunungan-gunungan tersebut akan menjadi bahan rebutan pengunjung saat kirab berakhir.

Baca juga: Gunungan dalam Upacara Garebeg Kesultanan Yogyakarta

Ditampilkan juga ragam kesenian Jawa dan Tionghoa. Ada reog Ponorogo, liong dan barongsai, keroncong Mandarin, hadrah rebana, serta beragam kesenian lain. Ornamen lampion menyemarakkan lokasi perhelatan.

Perhelatan ini dapat menjadi ingatan sejarah keberadaan etnis Tionghoa yang sudah ada di Solo bahkan jauh sebelum Keraton Kasunanan berdiri. Mereka hadir sebagai pedagang. Sungai Bengawan Solo memungkinkan terjadinya pertemuan antar-etnis melalui perdagangan. Dari interaksi itu, lahirlah ekosistem Pasar Gedhe.

Perayaan ini bermula di Sudiroprajan, sebuah kelurahan di Kecamatan Jebres di Kota Solo. Di kawasan tersebut, warga Tionghoa peranakan sudah menetap lama. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat Jawa.

Seiring waktu, terjadi pembauran di antara etnis tersebut melalui perkawinan campuran sehingga terciptalah generasi baru. Untuk menunjukkan adanya pembauran yang sudah berlangsung selama puluhan tahun ini, mereka membuat tradisi Grebeg Sudiro.  Meniru kegiatan Grebeg Suro di Ponorogo, digelarlah Grebeg Sudiro pertama kali pada 2007.

Kirab ini sendiri, meskipun merupakan perhelatan yang terhitung baru, sejatinya merupakan pengembangan tradisi yang telah ada sebelumnya. Di masa lalu ada tradisi Buk teko, sebuah acara syukuran menjelang Imlek. Tradisi itu telah dilaksanakan semenjak masa pemerintahan Paku Buwono X.

Kini, Sudiroprajan menjadi kawasan pecinan yang terkenal di Solo. Sementara Grebeg Sudiro yang dilaksanakan secara bergotong royong, baik oleh etnis Tionghoa maupun Jawa, menjadi bukti suksesnya pembauran kedua etnis tersebut di kawasan itu.

Baca juga: Pawai Tatung, Tradisi Ekstrem Hasil Perpaduan Budaya Tionghoa dan Dayak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 − nine =