Cap Go Meh Ala Kebinekaan di Kampung Pecinan Tambak Bayan

oleh Ayu Lestari

352
Perayaan Cap Go Meh di Kampung Pecinan Tambak Bayan
Perayaan Cap Go Meh di Kampung Pecinan Tambak Bayan, Surabaya, berlangsung akrab dan dihadiri oleh warga dari lintas suku dan agama. (Foto: Achmad Faizal/KOMPAS.COM)

1001indonesia.net – Ada yang spesial dari perayaan Cap Go Meh di Kampung Pecinan Tambak Bayan di Jalan Tambak Bayan, Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan Surabaya pada Minggu sore (12/2). Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Cap Go Meh tahun ini dirayakan dengan semangat kebinekaan. Perayaan kali ini tidak hanya dimeriahkan oleh warga Tionghoa saja. Warga dari suku-suku lain dengan beragam agama pun turut serta.

Ditilik dari sisi sejarahnya, Cap Go Meh dimulai sejak abad ke-17 ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan. Cap Go Meh berasal dari dialek Tio Ciu dan Hokkian yang berarti berarti hari ke-15 (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam) atau hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Dengan demikian, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari. Perayaan Cap Go Meh diwarnai berbagai kegiatan dengan jamuan besar bersama.

Acara yang rutin diadakan setahun sekali ini berlangsung pada malam hari dengan aneka hiasan lampion yang berjejer di sepanjang jalan kota. Biasanya, perayaan ini dimeriahkan dengan penampilan tarian Barongsai dan Liong yang merupakan simbol pembawa rezeki dan penolak bala.

Tarian Barongsai Cap Go Meh disebut Nong Shi. Istilah Barongsai sendiri berasal dari kata Barong dan Sai dalam dialek Hokkian. Sai berarti Singa yang melambangkan kebahagiaan. Tarian Barongsai dipercaya dapat mengusir roh-roh jahat (tolak bala).

Sedangkan tarian Naga Cap Go Meh (Liong) disebut Nong Long. Naga dianggap sebagai dewa pelindung yang dapat memberikan rezeki, air kesuburan, dan kekuatan. Umumnya, warga membuat naga sepanjang 35 meter yang terbagi dalam 9 bagian.

Selain Barongsai dan Liong, perayaan Cap Go Meh juga diramaikan oleh bunyi petasan dan kembang api. Setelah selesai, warga bermain teka-teki sambil minum Yuan Xiao atau yang dikenal dengan nama wedang ronde. Wedang yang berisi bola-bola yang terbuat dari tepung beras ini melambangkan bersatunya sebuah keluarga besar yang memang menjadi tema utama dari perayaan Imlek. Tidak lupa mereka menyantap lontong Cap Go Meh bersama-sama agar kehangatan dan keakraban semakin terasa.

Choirul Mahfud mengatakan bahwa perayaan Cap Go Meh ini memiliki sejarah yang panjang di Indonesia. Pada masa Orde Baru, perayaan-perayaan yang terkait tradisi dan budaya Tionghoa dilarang tampil di area publik. Namun, ketika Orde Baru telah jatuh, perayaan ini menjadi perayaan seni sendiri yang semakin marak ditampilkan di area publik. Sekarang ini, perayaan Cap Go Meh makin meriah diadakan di berbagai kota di Indonesia.

Sebagai contoh adalah perayaan Cap Goi Meh di Kampung Pecinan Tambak Bayan. Di tahun-tahun sebelumnya, warga Tionghoa merayakan Cap Go Meh di rumahnya masing-masing bersama keluarga. Namun, di tahun ini, mereka semua mengundang warga agama lain di kampung tersebut untuk berkumpul bersama di rumah besar, sebuah bangunan tua yang letaknya di ujung gang kampung.

Acara ini tidak semata-mata untuk merayakan hari ke-15 atau hari terakhir rangkaian perayaan Imlek oleh warga Tionghoa, tetapi juga untuk merayakan keanekaragaman yang mewarnai kehidupan di kampung Pecinan Tambak Bayan selama lebih dari satu abad.

Koordinator perayaan Cap Go Meh, Dani Sumanjaya, menuturkan warga Kampung Pecinan Tambak Bayan sangat inklusif. Warga di Kampung Tambak Bayan dapat hidup rukun bertetangga dalam masyarakat yang terdiri atas beragam suku. Bahkan, banyak yang kemudian saling mengikat dengan tali pernikahan.

“Orang tua saya kurang lebih sudah sekitar 110 tahun tinggal di kampung ini. Selama itu pula warga keturunan China di sini sudah berbaur dengan warga dari berbagai suku lainnya yang tinggal di sini,” jelas Dani.

“Nuansanya di sini memang Bhinneka. Sudah lama kita berbaur dengan berbagai suku yang ada di sini. Kalau bisa, ke depannya kita pakai terus untuk acara-acara bernuansa Bhineka,” tambahnya.

Salah satu pemuda Penggerak Gusdurian di Surabaya, Isa Anshori, menghadiri perayaan Cap Go Meh tersebut. Ia menyambut baik acara tersebut karena menguatkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Acara diawali oleh atraksi Barongsai, kemudian mereka berdiskusi bersama, berdoa bersama, bernyanyi “Padamu Negeri”, menyantuni fakir miskin, dan makan lontong Cap Go Meh. Mereka merayakan ini dengan penuh kehangatan dan kebersamaan tanpa memandang perbedaan agama.

Perayaan Cap Go Meh Ala Kebhinnekaan di Tambak Bayan adalah bukti bahwa pluralitas dan rasa kebinekaan di Kampung Pecinan Tambak Bayan dijaga dengan baik. Tentu ini kabar yang sangat baik mengingat semakin maraknya peristiwa yang mengancam kebinekaan dan keutuhan NKRI di daerah-daerah lain.

Kehidupan harmonis masyarakat Tambak Bayan ini mengajarkan pada kita bagaimana persatuan dalam keberagaman seharusnya diusahakan, yaitu dengan mengintensifkan pertemuan antarbudaya dan agama. Pertemuan semacam ini dapat meneguhkan rasa saling memahami dan menghargai satu sama lain. Sebuah nilai yang sangat diperlukan mengingat bangsa Indonesia sangat beragam.

Melalui dialog dan diskusi bersama, perbedaan tidak lagi menjadi ancaman. Perbedaan justru menjadi berkah yang membuat Indonesia harum di mata dunia karena kekayaan budayanya.

Sumber:

  • http://www.tionghoa.info/sejarah-cap-go-meh/
  • https://www.academia.edu/2635977/Imlek_Cap_Go_Meh_dan_Identitas_Budaya_ Tionghoa_Indonesia
  • http://www.bahasamandarincenter.com/perayaan-sejarah-cap-go-meh/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Cap_Go_Meh
  • http://regional.kompas.com/read/2017/02/13/05243241/akrab.dan.hangat.cap.go. meh.lintas.agama.di.pecinan.tambak.bayan
  • http://www.antaranews.com/berita/612165/seabad-warga-pecinan-tambak-bayan-lestarikan-pluralisme

LEAVE A REPLY

twenty + four =