Seba Baduy, Menghormati Pemimpin Daerah dan Menjaga Amanat Leluhur

258
Seba Baduy
Foto: bantencom.com

1001indonesia.net – Seba Baduy merupakan tradisi yang dilakukan untuk menjelaskan kondisi warga Baduy atau Urang Kanekes dan harapan-harapan mereka kepada pemerintah setempat. Selain itu, Seba Baduy juga menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur dengan mempertahankan tradisi yang hidup sejak dulu.

Tradisi Seba adalah tradisi yang diamanatkan oleh leluhur dan wajib dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Baduy. Ritual ini digelar setelah musim panen ladang huma, tepatnya di bulan Safar dan biasanya di bawah tanggal 10. Ritual Seba adalah rangkaian wajib dalam rangkaian adat Kawalu, Ngalaksa, dan terakhir Seba.

Pada saat itu, masyarakat Baduy di Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, akan mendatangi kepala daerah atau Bapak/Ibu Gede dalam istilah mereka.

Khusus untuk warga Baduy Dalam, aturan adat melarang mereka untuk mengendarai kendaraan. Sebab itu, setiap Seba dilakukan, mereka berjalan kaki lebih dari 100 kilometer tanpa alas kaki dari kampung-kampung Baduy Dalam menuju kantor pemerintah daerah.

Sementara untuk warga suku Baduy Luar, aturannya lebih longgar. Mereka diperbolehkan menggunakan kendaraan.

Dalam tradisi Seba yang sudah berusia ratusan tahun ini, masyarakat Baduy menyerahkan hasil bumi pada pemerintah setempat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah ruah.

Suku Baduy yang memeluk kepercayaan Sunda Wiwitan dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang teguh mempertahankan tradisi peninggalan leluhurnya. Kepercayaan Sunda Wiwitan seperti kepercayaan asli Nusantara lainnya memiliki ciri khas, yaitu adanya kedekatan yang sangat erat dengan alam.

Orang Baduy memegang teguh pikukuh karuhun yang mereka warisi dari leluhur. Di dalamnya, termuat berbagai aturan yang secara keseluruhan bertujuan untuk melindungi alam.

LEAVE A REPLY

14 + 18 =