Sunda Wiwitan, Kekayaan Kepercayaan Asli Nusantara

888

1001indonesia.net – Penganut Sunda Wiwitan mempercayai bahwa keyakinannya adalah ajaran asli masyarakat Sunda yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya agama Hindu, Buddha, maupun Islam. Penganut ajaran ini tersebar di beberapa daerah di provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di Kanekes, Lebak, Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; Cirebon; dan Cigugur, Kuningan.

Sunda Wiwitan merupakan salah satu dari kepercayaan asli Nusantara yang jumlahnya ratusan. Banyaknya agama-agama asli sebenarnya menunjukkan karakter dasar bangsa Indonesia yang sangat religius. Hampir di setiap daerah di Nusantara memiliki kepercayaannya atau cara ber-Tuhan-nya sendiri yang khas dan sesuai dengan kondisi di mana kepercayaan tersebut bertumbuh. Untuk membedakannya dari 6 agama yang diakui negara, kerohanian asli Indonesia ini disebut sebagai aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Ajaran Sunda Wiwitan terkandung dalam kitab Sanghyang Siksakanda ng karesian, sebuah kitab yang berasal dari zaman kerajaan Sunda yang berisi ajaran keagamaan dan tuntunan moral, aturan dan pelajaran budi pekerti. Dasar dari Sunda Wiwitan adalah kepercayaan yang bersifat monoteis.

Berdasarkan keterangan kokolot (tetua) kampung Cikeusik, orang Kanekes bukanlah penganut Hindu atau Buddha. Orang Kanekes sudah memiliki kepercayaan sendiri dalam bentuk pemujaan pada arwah nenek moyang. Hanya dalam perkembangannya kepercayaan orang Kanekes ini telah dimasuki oleh unsur-unsur ajaran Hindu, dan hingga batas tertentu, ajaran Islam. Dalam Carita Parahyangan, kepercayaan asli masyarakat Sunda ini disebut sebagai ajaran “Jatisunda”.

Bukti adanya kepercayaan asli Sunda terlihat dari adanya artefak peninggalan prasejarah maupun sejarah yang terkait dengan simbol dan tuntunan ajaran yang tertulis dalam naskah-naskah kuno. Peninggalan tersebut menunjukkan bahwa orang Sunda sejak Zaman Prasejarah sudah religius atau memiliki sistem kepercayaan terhadap Tuhan.

Dari sumber kuno tersebut, ada beberapa sebutan terhadap yang disembah dalam sistem kepercayaan masyarakat Sunda masa lalu seperti “Hiang atau Hyang, Hyang Tunggal, Batara Tunggal, Nu Ngersakeun, Gusti Pangeran Sikang sawiji-wiji”, dan sebagainya.

Salah satu masyarakat yang masih memegang agama Sunda Wiwitan dengan teguh adalah Suku Baduy. Suku ini bertempat tinggal di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten. Masyarakat ini memisahkan diri dari keramaian dan menentang modernisasi. Masyarakat Baduy memegang dengan teguh nilai-nilai dan sistem kehidupan masyarakat Sunda tradisional. Mereka tidak mengenal pendidikan formal. Meski demikian, masyarakat Baduy bisa baca tulis dengan belajar pada orang-orang yang datang ke desa mereka.

Suku Baduy (Foto: kidnesia.com)
Suku Baduy (Foto: kidnesia.com)

Di Cigugur, Kuningan, Sunda Wiwitan dikembangkan oleh Pangeran Madrais. Di sini, Sunda Wiwitan dikenal juga sebagai Agama Jawa-Sunda, Adat Karuhun Urang (AKUR), ajaran Madrais, atau agama Cigugur. Setiap tahunnya, penganut Sunda Wiwitan di Cigugur ini menggelar upacara adat Seren Taun sebagai ungkapan rasa syukur atas segala berkah pangan yang diterima dalam setahun.

Saat ini, penganut Sunda Wiwitan bernasib sama seperti penganut kepercayaan asli Nusantara lainnya. Diskriminasi dan alienasi masih mereka alami. Mereka masih berjuang untuk meneguhkan identitas mereka, serta mendapatkan pengakuan dan perlakuan yang setara dengan warga negara lainnya.

LEAVE A REPLY

4 − 2 =