Satu Tungku Tiga Batu, Semboyan Orang Papua dalam Menjaga Kedamaian

349
Satu Tungku Tiga Batu
Remaja Mesjid Kampung Pasir Putih, mengiringi Pastor dalam prosesi Misa Pembukaan Temu OMK Se-TPW Fakfak 2015, di Gereja St. Yosep Brongkendik. (Foto: Jeje Hindom)

1001indonesia.net – Untuk menjaga kedamaian dan keharmonisan antarumat beragama, masyarakat adat Papua memiliki semboyan Satu Tungku Tiga Batu. Filsafat hidup ini bermula dari Fakfak, Papua Barat, lalu diadaptasi wilayah lain di Papua karena memiliki semangat sama.

Semboyan Satu Tungku Tiga Batu menggambarkan prinsip hidup warga Papua dalam menjaga  keseimbangan dan kebersamaan hidup, antara lain melalui penghormatan yang tinggi terhadap pentingnya kerukunan hidup antarumat beragama yang ada di daerah itu, yakni Islam, Kristen, dan Katolik.

Baca juga: Mengelola Keragaman di Tanah Papua

Semboyan “Satu Tungku Tiga Batu” diambil dari kebiasaan memasak masyarakat setempat yang menggunakan tungku dengan batu sebagai penopangnya. ‘Tungku’ menggambarkan kebersamaan hidup. Sementara ‘Tiga Batu’ merupakan simbol dari tiga agama besar—Kristen, Katolik, dan Islam—yang hidup di sana.

Masyarakat meyakini, jika keseimbangan terjaga stabil, semua persoalan hidup dapat diatasi dengan baik. Semboyan “Satu Tungku Tiga Batu” juga berarti sinergi harmonis antara tiga elemen masyarakat dalam pembangunan, yaitu Adat, Agama, dan Pemerintah. Sinergi artinya mengelola perbedaan agar tidak menimbulkan perpecahan.

Kecerdasan para pemuka adat dan agama di Fakfak sejak tiga abad lalu telah memungkinkan harmoni dan kerukunan agama dan adat berlangsung baik di Tanah Papua.

Dalam kehidupan sehari-hari, mempraktikkan tenggang rasa dalam bangunan masjid yang didirikan persis di bibir pantai Kampung Patimburak (100 kilometer dari Kota Fakfak). Gagasan monumental dari bangunan ini adalah memadukan bentuk Masjid dan Gereja. Bangunan dan ornamen masjid menjadi simbol toleransi penuh makna sejak masjid berdiri pada 1700-an.

Dari semboyan Satu Tungku Tiga Batu itu, kita berharap kerukunan yang terjalin di Fakfak dapat menyebar ke seluruh wilayah lain di Papua dan mampu menginspirasi anak-anak bangsa untuk menjaga kerukunan umat beragama di Tanah Air. Meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu.

*) Tulisan ini merupakan bagian dari buku Indonesia, Zamrud ToleransiDimuatnya kembali tulisan ini dalam situs 1001 Indonesia sebagai upaya untuk menyebarkan ide-ide yang terdapat dalam buku tersebut pada khalayak yang lebih luas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty + 5 =