Sastra Angkatan Pujangga Baru

1170
Pujangga Baru
Sampul majalah Poedjangga Baroe. (Foto: Ensiklopedia Jakarta)

1001indonesia.net – Angkatan Pujangga Baru muncul setelah Angkatan Balai Pustaka. Sebutan Pujangga Baru berawal dari sebuah majalah sastra dan budaya Pujangga Baru yang terbit tahun 1933. Itu sebabnya, angkatan ini juga disebut dengan Angkatan 33.

Menurut Muhri (2016), kehadiran angkatan ini dilatarbelakangi oleh kuatnya semangat persatuan setelah peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Timbul keinginan di kalangan para sastrawan muda untuk melakukan pembaruan di bidang sastra guna mendukung perjuangan bangsa.

Namun, karena Balai Pustaka menerapkan sensor ketat terhadap karya-karya yang berbau nasionalisme, maka timbulah keinginan untuk membuat saluran baru bagi para sastrawan. Keinginan itu diwujudkan dengan mendirikan Pujangga Baru, sebuah majalah yang khusus membahas tentang bahasa, sastra, dan kebudayaan umum.

Baca juga: Sumpah Pemuda dan Solidaritas Kebangsaan Indonesia

Pujangga Baru

Majalah Pujangga Baru didirikan oleh Armijn Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Tiga penulis dari pulau Sumatra itu telah memulai proses pembentukan majalah ini pada September 1932.

Mereka mengirimkan surat kepada 40 penulis sastra yang aktif di koran Panji Pustaka untuk meminta tulisan. Surat juga dikirimkan kepada para sultan untuk meminta dukungan.

Setelah kontrak dengan penerbit milik Belanda Kolff & Co. tidak terwujud, para pendiri bersepakat untuk menerbitkan majalah mereka sendiri. Majalah itu pertama kali diterbitkan pada bulan Juli 1933 , dan dinamakan Pujangga Baru.

Majalah ini didirikan dengan dengan pemahaman bahwa seni atau kesusastraan memiliki peran yang sangat penting dalam perjuangan bangsa. Dalam “Poedjangga Baroe”, Armijn Pane dkk. mengungkapkan:

“Seni jang sedjati mengoedjoedkan tjita2, perdjoeangan, penderitaan masjarakat, tempat timboelnja, d.s.b.nya. Sedjarah dan ‘ilmoe masjarakat menoendjoekkan poela, bahwa seni itoelah penggerak semangat baroe, pembantoe sesoeatoe bangsa dalam perdjalanan kearah kebesaran dan kemoeliaan.

Pujangga Baru berupaya untuk menyebarkan semangat baru dalam bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan sosial. Tujuan akhirnya adalah terbentuknya persatuan bangsa. Hal ini tidak bisa mereka lakukan di Balai Pustaka yang melarang karya-karya yang berbau nasionalisme.

Sampul edisi Agustus 1937 (Foto: Wikipedia)

Karya-karya yang ditebitkan dalam majalah kebudayaan ini berkisar pada persoalan kebangsaan dan juga persoalan emansipasi wanita. Para sastrawan periode ini ingin lepas dari kekangan Belanda. Mereka ingin berkarya tanpa harus menuruti aturan Balai Pustaka bentukan kolonial.

Pada tahun ketiga penerbitannya, fokus majalah ini bergeser dari tema kesusastraan ke area yang lebih luas, yaitu kebudayaan. Pada edisi Juli 1935, dinyatakan dalam subjudulnya, “Pembawa semangat baroe dalam kesoesasteraan, seni, keboedajaan, dan soal masjarakat oemoem.”

Pernyataan itu ditegaskan kembali dalam pengantar Redaksi edisi itu: “…dengan memadjoekan oesaha kesoesasteraan jang creatief, madjallah ini akan menjinari soal keboedajaan dan masjarakat dengan lampoe pentjari soesoenan masjarakat persatoean jang akan datang.”

Tulisan-tulisan Pujangga Baru melahirkan banyak polemik tentang berbagai pemikiran, terutama kebudayaan Indonesia dan pendidikan. Begitu besarnya pengaruh majalah ini sehingga setiap polemik senantiasa meluas menjadi skala nasional (Erowati & Bahtiar, 2011).

Pujangga Baru berhenti terbit karena dilarang pemerintah pendudukan Jepang pada bulan Februari 1942. Edisi terakhir diterbitkan dalam tiga jilid, berlaku untuk periode Desember 1941 hingga Februari 1942. Sekitar sembilan puluh edisi majalah yang sudah diterbitkan sejak pertama kali berdiri hingga ditutupnya majalah ini.

Sastrawan Pujangga Baru

Sastrawan Angkatan Pujangga Baru antara lain Sutan Takdir Alisyahbana (STA), Armijn Pane, Asrul Sani, Sanusi Pane, Amir Hamzah, Ali Hasymi, J.E Tatengkeng, Selasih, dan Mozasa.

Salah satu karya paling menonjol pada periode ini adalah novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Novel tersebut menyuarakan aspirasi modernisme, termasuk pentingnya pendidikan dan kesetaraan status antara pria dan wanita. Karya sastra angkatan Pujangga Baru yang menonjol lainnya adalah novel Belenggu karya Sanusi Pane.

Hal-hal yang dibicarakan di dalam karya-karya angkatan ini berkisar pada persoalan kebangsaan dan juga persoalan emansipasi wanita. Kuatnya semangat nasionalisme pasca-Sumpah Pemuda 1928 mendorong sastrawan kala itu untuk melakukan pembaruan dan ikut serta dalam perjuangan bangsa melalui tulisan-tulisan mereka.

M. Basrowi (2020) menyebut ciri sastra Angkatan Pujangga Baru sebagai berikut:

  1. Bahasa yang dipakai adalah Bahasa Indonesia modern yang hidup dalam masyarakat.
  2. Temanya lebih kompleks dari angkatan sebelumnya. Yang dibicarakan dalam sastra periode ini antara lain emansipasi wanita, kehidupan intelek, masalah kedudukan suami-istri dalam kehidupan berumah tangga, masalah perubahan, dan lain sebagainya.
  3. Puisinya berbentuk puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri atas 14 baris.
  4. Dipengaruhi oleh sastra Barat, terutama dari angkatan 80 Belanda.
  5. Baik prosa maupun puisi pada periode ini mengandung suasana romantis. Bahkan sering dikatakan bahwa sastrawan angkatan ini umumnya menganut aliran romantik idealisme.
  6. Setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.

Baca juga: Kepustakaan Lontar, Rekaman Sastra dan Sejarah Nusantara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.