Sumpah Pemuda dan Solidaritas Kebangsaan Indonesia

Chandra Saputra P.

69
Peran Pemuda dalam Merawat Keutuhan Bangsa

1001indonesia.net – Sumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak dalam proses pembentukan negara Indonesia. Melampaui batas kelompok, suku, dan agama, para pemuda berikrar untuk bersatu dan berjuang demi kepentingan bersama. Hari itu menjadi tanda nyata menguatnya komitmen solidaritas kebangsaan Indonesia yang mulai terbentuk sejak awal abad ke-20.

Sumpah untuk bersatu yang dilakukan para pemuda masa itu tidak mudah. Seperti yang kita ketahui, Indonesia sangat beragam. Di masa itu, masyarakat masih sangat rekat dengan identitas primordialnya, seperti suku, agama, ras, adat istiadat, bahasa, dan golongan.

Rekatnya identitas primordial itu tecermin dari para pemuda yang hadir mewakili daerahnya menggunakan identitas lokal, seperti Jong Pasundan, Jong Sumatera, Jong Jawa, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Jong Minahasa.

Selain itu, struktur feodalisme masyarakat Indonesia masih sangat kuat. Ini membuat masyarakat terbelah oleh kesenjangan yang tajam antara kelas atas dan kelas bawah.

Sementara kelas bawah paling dirugikan oleh penjajahan Belanda melalui program-programnya yang mengeksploitasi alam dan tenaga kerja penduduk, kelas penguasa banyak yang merasa diuntungkan oleh hadirnya penjajah dan bekerja sama dengan mereka.

Modal yang dimiliki para pemuda kala itu adalah rasa solidaritas kebangsaan. Kesadaran akan kesamaan sebagai bangsa yang terjajah mendorong para pemuda untuk bersatu dan bahu-membahu untuk mendirikan sebuah bangsa yang merdeka atau berdaulat untuk mengatur dirinya sendiri.

Solidaritas kebangsaan muncul dari sebuah kesadaran bahwa kemerdekaan hanya bisa diupayakan oleh perjuangan bersama. Harus diakui, Belanda mampu menjajah begitu lama di Indonesia tidak lain dan tidak bukan juga karena sikap bangsa kita sendiri.

Pada masa VOC, penjajah Belanda menggunakan sistem pemerintahan tidak langsung untuk mengamankan kekuasaan politik demi tercapai tujuan ekonominya. Inti dari sistem ini adalah pendayagunaan struktur kekuasaan pribumi demi kepentingan VOC sendiri.

Untuk itu, VOC mempertahankan dan memperkuat kedudukan maupun kekuasaan kaum ningrat Jawa yang mau diatur oleh mereka. Dengan adanya pemerintahan kolonial, kaum ningrat dapat memantapkan kekuasaan dan hak jauh lebih besar terhadap para petani (Kahin, 2013).

Seiring waktu, sistem yang digunakan VOC ini kemudian mampu mengubah sikap banyak orang Jawa terhadap politik dan ekonomi, dari yang semula tidak terlalu otoriter menjelma menjadi sangat sewenang-wenang selama tiga abad pemerintahan kolonial.

Dengan kata lain, demi kemantapan dan kelanggengan kekuasaannya, tidak sedikit penguasa feodal yang menjalin kerja sama ataupun menghamba pada pemerintah kolonial. Beberapa di antaranya bahkan masih mempertahankan posisi ini setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ketika bangsa ini sedang bertempur mati-matian mempertahankan kemerdekaan, beberapa kaum ningrat, karena ambisi berkerangka kesukuan dan kedaerahan, membantu NICA agar RI dilumpuhkan.

Fakta ini menunjukkan betapa tidak mudahnya perjuangan yang dilakukan para pemuda kala itu untuk bersatu. Itu sebabnya, tidak salah jika dikatakan bahwa upaya yang dilakukan para pemuda di tahun 1928 itu merupakan karya raksasa, kalau tidak mau dibilang ajaib.

Para pemuda itu tidak hanya melawan bangsa asing, tetapi juga menghadapi tantangan dari konfigurasi sosial saat itu yang sangat beragam dan terpecah-belah serta sikap sebagian penguasa lokal yang merasa diuntungkan dengan hadirnya pemerintah kolonial Belanda.

Rasa solidaritas akan nasib bangsanya yang terjajah yang memberikan semangat para pemuda untuk melakukan perubahan. Para pemuda sadar bahwa untuk membentuk sebuah negara yang merdeka dan berdaulat dibutuhkan upaya dari segenap bangsa Indonesia, terlepas dari dari latar belakang kelompok, suku, dan agamanya.

Sejak awal, perjuangan para pendiri bangsa memang tak semata diarahkan untuk mengusir penjajah asing dan membentuk negara yang merdeka secara politik, tetapi untuk memerdekakan setiap orang di Indonesia dari segala bentuk penindasan. Seperti yang dikatakan Bung Karno, kemerdekaan politik hanyalah pintu gerbang untuk mewujudkan cita-cita yang sebenarnya.

Solidaritas kebangsaan inilah yang semestinya kita warisi dari peristiwa Sumpah Pemuda. Semangat ini memungkinkan semua orang mau bersatu untuk mewujudkan cita-cita bersama: membentuk masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, dan sentosa.

Untuk itu, peran para pemimpin dan tokoh publik untuk menjadi perwujudan nyata dari semangat solidaritas kebangsaan sangat dibutuhkan. Pendidikan sejarah perjuangan bangsa juga perlu digalakkan untuk membangkitkan kepedulian generasi muda akan nasib bangsanya.

Tanpa itu semua, sangat sulit kiranya untuk mewujudkan dan menguatkan semangat ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca juga: Peran Pemuda dalam Menjaga Keutuhan bangsa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 + seventeen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.