Sansana Bandar, Tradisi Lisan Masyarakat Dayak Ngaju di Kalteng

107
Rumah Panjang, Rumah Tradisional Suku Dayak
Rumah Panjang Suku Dayak Kalimantan. (Foto: popeti.com)

1001indonesia.net – Salah satu sastra lisan yang dimiliki masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah adalah Sansana Bandar atau lengkapnya Sansana Bandar Sumbu Kurung. Sansana Bandar adalah jenis sansana yang paling terkenal dan masih bertahan hingga sekarang.

Sansana adalah dongeng suku, hikayat, epik, wiracarita yang didendangkan layaknya karungut dan bersifat legendaris. Terdapat beberapa jenis sansana yang lahir dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju.

Sansana Bandar mengisahkan cerita heroik dan percintaan romantis antara Bandar (pelaku utama laki-laki) dengan Kilat Pandang Sumbu Kurung (pelaku utama perempuan).

Terdapat 40 judul atau lakon dalam Sansana Bandar, di antaranya “Tamanggung Untung”, “Busu Pejantarahan” (Intu Lewu Tanjung Mihing Rangan), “Bandar Tunggal Busu”, “Bandar Anak Tamanggung”, dan “Bandar Bangang”.

Di antara judul-judul tersebut ada yang merupakan cerita pendek, seperti “Huma Balau Pangun Jandau” yang mengisahkan perjalanan singkat ke daerah pedalaman. Ada pula cerita panjang, seperti “Pejan Tarahan”.

Sansana Bandar dikisahkan secara lisan dan disebarkan dari mulut ke mulut melalui tembang atau lagu yang dibawakan dengan merdu. Lagu-lagu tersebut memperhatikan keindahan gaya bahasa dan persamaan bunyi untuk menghasilkan irama yang indah, seperti layaknya sebuah syair atau pantun.

Baca juga: Pantun Sunda, Sastra Lisan Masyarakat Jawa Barat

Pengisah Sansana Bandar disebut tukang sansana atau panyansana. Mereka mengerti betul kisah yang dibawakannya, bersuara merdu, pandai melantunkan kisah sesuai dengan nuansa dan alur cerita. Panyansana pada umumnya perempuan.

Tokoh Bandar yang menjadi tokoh sentral dalam sansana adalah seseorang yang agung, mulia, dan merupakan jelmaan dari dewa tertinggi. Bandar dipuja karena sifatnya yang arif dan bijaksana. Ketampanan Bandar tampak dalam julukannya, yakni Bakena Dia Lelengena yang berarti tampan rupawan tiada tara.

Dalam kisah ini dikenal pula tempat kediaman Bandar, yaitu Tujuh Negeri atau Lewu Uju, yang terdiri atas Luwuk Dalam Batawi, Tanjung Bereng Kalingu, Tumbang Danau Layang, Tangkahen, Batu Nyapau, Lewu Silan Batu Mapan, dan Lewu Luwuk Dalam Batawi.

Orangtua Bandar bernama Tamanggung Ratu Tinggi (ayah) dan Nyai Kamala atau Nyai Indu Bandar (ibu). Bandar diyakini sebagai keturunan dari penguasa air “dunia bawah” yang bernama Jata Martapati/Garagan Pulau Palangka Sari.

Sedangkan Kilat Pandang Sumbu Kurung adalah kekasih Bandar. Menurut silsilahnya, mereka berdua adalah saudara sepupu, berasal dari rumpun keluarga yang sama).

Panang Sumbu Kurung digambarkan sebagai gadis yang sangat cantik, sampai-sampai dijuluki Sempalak Lewu Tunjung Bereng Kalingu atau cahaya yang memancar dari Negeri Tanjung Kalingu. Ia juga terampil menganyam.

Dikisahkan Kilat Pandang Sumbu Kurung memiliki ikatan persaudaraan dengan bidadari tujuh bersaudara yang tinggal Lewu Telo (kayangan), sementara Tempat kediaman Sumbu Kurung adalah Lewu Tanjung Bereng Kalingu.

Artinya, Sumbu Kurung masih berasal dari keturunan “dunia atas”, meskipun ia dilahirkan oleh Nyai Jentai yang menikah dengan Dambong Kapala. Kelahiran Sumbu Kurung dipercaya sebagai pemberian penguasa “dunia bawah” yang bernama Jata Nyai Kambang/Melai Linggang Goyang.

Pada awalnya orang mengadakan Sansana Bandar untuk keperluan adat dan memenuhi sejumlah persyaratan ritual bagi orang-orang yang memiliki hajat (bernazar).

Dalam perkembangannya, sastra lisan masyarakat Dayak Ngaju ini menjadi bentuk kesenian yang memiliki fungsi hiburan. Tidak hanya dilakukan saat upacara adat, Sansana Bandar pun dapat dilakukan di berbagai kesempatan/keramaian, termasuk pengisi waktu luang di malam hari.

Baca juga: Hudoq, Tarian Sakral dari Suku Dayak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.