Sambal, Rasa Pedas Kuliner Khas Indonesia

885
Sambal
Sambal sebagai penambah cita rasa hidangan Indonesia. (Foto: iwaralaba.com)

1001indonesia.net – Sambal merupakan salah satu unsur khas hidangan Indonesia yang dikenal hingga ke mancanegara. Tanpanya, makan terasa kurang lengkap. Begitulah kira-kira anggapan kebanyakan masyarakat kita.

Jenis masakan ini begitu populer hingga dianggap sebagai hidangan utama, meski sambal sebenarnya hanyalah makanan pendamping sebagai penambah cita rasa hidangan. Hampir seluruh hidangan Nusantara dilengkapinya. Ada yang dijadikan cocolan aneka lalapan dan lauk pauk bagi masyarakat Sunda, ada yang dijadikan kuah pedas kudapan pempek khas masyarakat Palembang, bahkan pisang pun dimakan dengan sambal bagi masyarakat Manado.

Sambal biasanya terbuat dari berbagai cabai. Rasa pedas yang berasal dari cabai diyakini mampu menggugah rasa, sekaligus dianggap sangat pas dengan sifat kuliner Indonesia yang dikenal dengan sebutan hidangan dingin. Makanan pedas ini biasanya diletakkan di pinggiran piring. Kemudian, lauk pauk seperti daging ayam, ikan, sayuran atau lalapan dicocolkan ke sambal.

Hampir di seluruh pelosok Nusantara memiliki resep sambal. Masyarakat Bali, memiliki sambal khas embe. Di Manado, ada sambal dabu-dabu dan rica yang sangat populer. Ada juga sambal kenari dari Maluku. Orang Sumatra biasa membuat sambal tempoyak yang dihasilkan dari fermentasi durian, dan masih banyak lagi.

Resep sambal di Indonesia memiliki sejarah panjang. Dalam buku resep lama, Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek karya J.M.J Catenius van der Meijden (1903), tercantum resep “Sambal Bajak” yang sekilas terlihat kasar seperti sawah yang baru dibajak. Ada juga “Sambal Serdadu”, yaitu sambal terasi yang dulunya khusus disiapkan untuk bekal para serdadu pada saat ekspedisi atau bertempur.

Bahkan pada masa itu, banyak orang Belanda yang gemar mengoleskan sambal sebagai beleg (isi roti) di atas roti. Pada zaman kolonial, pembantu rumah tangga yang paling tinggi bayarannya, adalah mereka yang pandai membuat sambal. Bahkan tidak jarang, para pembantu yang dianggap pandai membuat sambal, diboyong serta oleh majikan mereka ke negeri asalnya, Belanda.

Meski merupakan makanan asli Indonesia, namun tanaman cabai yang menjadi bahan baku utama sambal, bukanlah asli dari Indonesia. Tanaman tersebut dibawa oleh para penjelajah Barat dari benua Amerika pada masa Jawa Kuno sekitar abad ke-10, yang kemudian ditanam di tanah air.

Menurut Arkeolog Titi Surti Nastiti, cabai pada masa Jawa Kuno telah menjadi komoditas perdagangan yang langsung dijual. Bahkan menurut Nastiti dalam teks Ramayana dari abad ke-10, cabai juga sudah disebut sebagai salah satu contoh jenis makanan pangan di Nusantara.

1 Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 + 8 =