Pempek, Makanan Khas Palembang Warisan Melayu-Tionghoa

288
Pempek atau Empek-empek.
Pempek atau Empek-empek. Foto: Tribun Jambi

1001indonesia.net – Pempek atau empek-empek adalah makanan khas Palembang. Namun, bukan sekadar kuliner biasa, pempek merupakan simbol akulturasi budaya. Panganan itu lahir dari perpaduan antara budaya Melayu dan Tionghoa.

Saat ini, pempek menjadi ikon kuliner dari daerah yang dikenal sebagai Bumi Sriwijaya ini. Bahkan tidak hanya di Palembang, saat ini hampir semua daerah di Sumatra Selatan memproduksinya.

Bagi masyarakat Palembang, pempek merupakan makanan utama. Menu ini disajikan pagi, siang, ataupun malam hari. Pempek juga memiliki status yang tinggi. Menu ini menjadi makanan wajib berbuka puasa dan juga di hari raya. Bahkan, ada gengsi di masyarakat Palembang. Mereka akan merasa malu jika di hari raya tidak menyajikan pempek.

Pempek berasal dari kebiasaan makan sagu etnis Melayu di Palembang sejak masa Sriwijaya (abad VII sampai XIII). Sagu diduga menjadi bekal tentara Sriwijaya ketika ekspedisi dan menjadi makanan sehari-hari sekitar Sungai Musi.

Pada mulanya, pempek diduga berbentuk dos atau sagu rebus. Pempek berbahan ikan diduga muncul pada periode 1398-1578 atau setelah era Sriwijaya.

Status pempek sebagai makanan mewah sudah dimulai sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1823). Di masa silam, menu makanan ini hanya disajikan di lingkungan keluarga bangsawan. Saat itu, nama makanan ini adalah kelesan.

Seiring waktu, panganan ini juga dinikmati masyarakat luas. Penjualan komersial pempek dimulai saat zaman kolonial. Etnis Tionghoa yang dikenal sebagai ahli dagang yang melakukannya. Nama pempek sendiri diyakini berasal dari sebutan apek atau pek-pek, yaitu sebutan untuk paman atau lelaki tua Tionghoa. Para apek inilah yang biasanya menjajakan pempek.

Pempek lahir dari hubungan harmonis dua etnis besar yang hidup di Palembang saat itu, Melayu dan Tionghoa. Saat itu, Palembang banyak dihuni orang Tionghoa, terutama tentara Laksamana Cheng Ho, yang tidak kembali ke negeri asal. Kehadiran mereka banyak memberi inspirasi kepada warga setempat, terutama di bidang kuliner.

Namun ada pendapat lain mengenai kisah asal muasal makanan khas ini. Sebagian orang mengatakan bahwa sebenarnya bahan pempek adalah tepung kanji yang terbuat dari singkong, bukan tepung sagu.

Konon, sekitar tahun 1617, ada seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi). Ia merasa prihatin karena melimpahnya hasil tangkapan ikan dari Sungai Musi belum dimanfaatkan dengan baik. Ikan hasil tangkapan hanya sebatas digoreng dan dipindang.

Ia kemudian mencoba mencari bentuk pengolahan lain. Daging ikan ia giling lalu dicampur dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan menu makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karenanya, penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek … apek“. Sebab itu, makanan itu dikenal dengan sebutan empek-empek atau pempek.

Namun, pendapat yang terakhir ini patut ditelaah lebih lanjut karena singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16, sementara bangsa Tionghoa telah menghuni Palembang sekurang-kurangnya semenjak masa Sriwijaya. Selain itu, velocipede (sepeda) baru dikenal di Prancis dan Jerman pada abad  ke-18.

Jika kita simpulkan dari kedua cerita ini, kemungkinan besar empek-empek awalnya merupakan makanan asli orang Melayu Palembang. Makanan ini kemudian mendapat pengaruh dari kuliner China sehingga yang awalnya hanya berbentuk dos atau sagu rebus kemudian mendapat tambahan ikan.

LEAVE A REPLY

eleven − 1 =