Rumah Pengasingan Sukarno di Ende, Nusa Tenggara Timur

226
Rumah Pengasingan Sukarno di Ende
Situs Rumah Pengasingan Sukarno di Ende (Foto: blog.miraafianti.com)

1001indonesia.net – Rumah sederhana beratap seng yang terletak di Jalan Perwira, Ende, ini menyimpan sejarah penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Bangunan ini merupakan rumah pengasingan Sukarno saat ia dibuang Belanda ke pesisir selatan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Rumah pengasingan Sukarno mempunyai tiga kamar. Di sana terdapat foto-foto Sukarno muda, lukisan-lukisan karyanya, biola kesayangannya, serta naskah-naskah sandiwara yang dia tulis untuk dipentaskan di rumah teater setempat. Di rumah ini, Sukarno tinggal bersama Inggit Garnasih (istrinya), Ibu Amsi (mertuanya) dan Ratna Djuami (anak angkatnya).

Sukarno diasingkan ke Ende mulai Januari 1934 sampai Oktober 1938. Untuk sampai ke tempat ini, Sukarno menempuh 8 hari perjalanan menggunakan kapal Jan van Riebeeck. Tanggal 14 Januari 1934 menjadi awal Sukarno sebagai tahanan politik di Ende.

Di tempat pengasingan, Sukarno menempati rumah sangat sederhana milik Abdullah Ambuwaru. Letaknya di kawasan Ambugaga, sebuah kampung kecil di pesisir selatan Pulau Flores. Di tempat ini, kehidupan Sukarno sekeluarga sangatlah sederhana. Tidak ada listrik dan air ledeng di rumah yang ditinggalinya.

Belanda sengaja membuang Sukarno ke tempat yang jauh agar ia tidak bisa berhubungan dengan kawan-kawan pergerakan. Di tempat pengasingan, pemerintah kolonial bahkan dengan sangat ketat membatasi pergaulan Sukarno, terutama dengan kalangan atas.

Merenungkan Pancasila

Sekitar 300 meter dari rumah pengasingan Sukarno, terdapat sebuah taman yang menghadap ke Laut Flores. Patung Sukarno seukuran orang yang terbuat dari bahan perunggu duduk tegak di tengahnya. Patung ini menggantikan model patung lama Sukarno yang posisinya berdiri memakai pakaian kebesaran TNI.

Di dekat patung karya perupa Hanafi itu tumbuh pohon sukun bercabang lima, menaungi sebuah bangku panjang yang menjadi tempat duduk patung tersebut. Di bawahnya, terdapat kolam air berukuran 8×45 meter, menyimbolkan hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Sukarno bercerita, di tempat itu, ia sering menghabiskan waktu berjam-jam duduk merenung di atas sebuah batu sambil menatap laut. Dari perenungannya itu lahirlah gagasan tentang Pancasila.

Baca juga: Pancasila, Lima Prinsip yang Menjadi Dasar Bangunan Indonesia Merdeka

Saat ini, taman ini dikenal dengan Taman Renungan Bung Karno atau sering disebut Taman Renungan Pancasila. Lokasinya di Kelurahan Rukun Lima, bersebelahan dengan Lapangan Pancasila.

Rumah Pengasingan Sukarno
Patung Sukarno dan pohon sukun yang dikenal sebagai Pohon Pancasila. (Foto: KOMPAS.com/Fitri Prawitasari)

Sementara, pohon sukun yang ada di Taman Renungan Bung Karno disebut Pohon Pancasila. Pohon yang ada saat ini adalah pohon yang ditanam pada 1981. Pohon yang asli sudah tumbang sejak 1960.

Saat ini, kawasan Taman Renungan Soekarno dimanfaatkan untuk beragam kegiatan kreasi seni dan budaya, serta diskusi. Setiap sore, taman ini selalu ramai dengan pengunjung.

Sementara rumah pengasingan Sukarno masih terawat dengan baik. Tak sedikit wisatawan yang berkunjung ke sana untuk menyaksikan langsung bangunan yang pernah ditinggali Bung Karno selama 4 tahun itu.

Baca juga: Soekarno: Orator, Proklamator, dan Presiden Pertama RI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − 9 =