Randai Kuantan, Seni Pertunjukan Tradisional dari Kuansing

1060
Randai Kuantan
Pertunjukan seni tradisional randai kuantan dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). (Foto: mungkinblog.com)

1001indonesia.net – Randai kuantan merupakan seni pertunjukan tradisional dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Tradisi lisan ini menjadi salah satu dari enam kebudayaan Riau yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) nasional pada 2016 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lima kebudayaan lainnya adalah Nyanyian Panjang, Bedowo Bonai, Debus Inderagiri Hulu, Calempong Oguoang, dan Joget Sonde.

Randai diyakini merujuk pada kata andai atau berandai-andai atau membuat perumpamaan. Para pelakon randai memang berbicara dalam bahasa kias dan petatah-petitih dalam suasana yang begitu akrab. Pertunjukan ini pun disertai lagu-lagu dan gerak tari dalam iringan gesekan biola (piual), pukulan gendang (gondang), dan tiupan serunai (lapri).

Randai kuantan merupakan pengembangan dari randai Sumatra Barat atau randai minang. Kebanyakan orang memang lebih mengenal randai sebagai bagian dari kebudayaan tradisional Minang.

Keberadaan randai di Kuansing konon dibawa oleh para perantau pada masa kolonial Belanda. Daerah aliran sungai Kampar, Riau, mula-mula menerima kedatangan randai minangkabau. Dari Kampar, randai masuk ke Kuansing. Randai mulai dikenal di perkampungan-perkampungan Kuantan kira-kira tahun 1937.

Ketika itu keadaan ekonomi rakyat di Kampar cukup baik. Harga getah tinggi. Banyak petani atau peladang getah yang diberi subsidi oleh Belanda. Hal ini mendorong kedatangan perantau Minangkabau ke Kampar.

Randai yang pertama dipertunjukkan di daerah Kuansing adalah Randai Cindur Mato. Randai ini dimainkan oleh perantau Minangkabau bersama-sama orang Kampar.

Pertunjukan randai di Kuantan semula sama dengan randai minangkabau. Namun, lambat laun randai di Kuantan berkembang dan memiliki ciri khasnya sendiri. Perkembangan randai kuntan dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti lagu, tarian, tema cerita, busana, tempat pementasan, dan juga pelibatan perempuan dalam aktivitas randai.

Jika randai minangkabau lebih kompleks dalam penyampaian pesan disertai airmata, kebencian, kekerasan, maupun suka cita, randai kuantan lebih komunikatif dan penuh dengan gelak tawa.

Dibandingkan kesenian Riau lainnya, randai kuantan memiliki daya tarik tersendiri. Salah satunya adalah adanya tokoh wanita di perankan oleh laki-laki.

Tokoh wanita yang diperankan laki-laki ini bukannya tanpa alasan. Latihan randai dilakukan pada malam hari. Pertunjukan juga diadakan pada malam hari. Sebab itu, untuk menjaga adat dan norma-norma agama serta hal-hal lain yang tidak diinginkan maka tokoh wanita diperankan oleh laki-laki.

Saat ini randai kuantan masih bisa dijumpai di Kuantan Singingi, kabupaten yang sering disebut juga sebagai Rantau Kuantan. Bahkan saat ini hampir setiap desa memiliki kelompok randainya sendiri. Masyarakat Kuansing yang menggelar hajatan sering kali mengundang mereka untuk mengisi acara.

Pertunjukan randai biasanya mengisi acara pesta perkawinan, sunatan, doa padang, kenduri kampung, dan acara lainnya. Tingginya minat masyarakat setempat terhadap kesenian lokal ini tentu sangat berperan bagi kelestariannya.

Sumber:

  • “Berdendang dalam Randai Kuantan,” Kompas, Kamis, 29 Desember 2016.
  • http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/2016/09/22/akhir-manis-randai-kuantan/
  • http://www.mungkinblog.com/2011/11/randai-kuantan-singingi.html

LEAVE A REPLY

two × four =