R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis Tot Licht)

639

1001indonesia.net – Kumpulan yang kemudian diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang yang ditulis oleh Raden Ajeng Kartini adalah karya yang tidak biasa, baik menurut zaman maupun menurut asal-usulnya.

Ada pertanyaan yang muncul, bagaimana bisa muncul suatu karya dari kondisi masyarakat feodalisme dan kolonialisme dengan kekangan yang cukup kuat. Ini mengingatkan kita pada karya-karya yang luar biasa brilian yang muncul dari penjara, atau muncul pada kondisi dalam kekangan rezim penguasa yang otoriter.

Kumpulan tulisan tersebut adalah hasil dari surat-menyurat R.A. Kartini antara tahun 1899 sampai 1903. Tulisan dalam surat-surat yang ditujukan kepada kawan penanya ini menunjukkan adanya keprihatinan Kartini terhadap kehidupan perempuan Jawa.

Surat-surat yang yang terkumpul berjumlah 235 surat. Surat-surat tersebut kemudian dibukukan oleh J. H. Abendanon, seorang kepala departemen pendidikan pemerintahan kolonial dengan judul Door duisternis tot licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Dalam surat-suratnya, Kartini menggambarkan kehidupan perempuan Jawa yang menyedihkan, tanpa pendidikan, dan masa hidupnya dilalui hanya untuk menunggu laki-laki yang mau menikahinya. Dalam suratnya kepada Stella, Kartini mengatakan:

Kami, anak perempuan yang masih terbelenggu oleh adat istiadat lama, hanya boleh memanfaatkan sedikit saja dari kemajuan di bidang pendidikan itu. Sebagai anak-anak perempuan, setiap hari pergi meninggalkan rumah untuk belajar di sekolah sudah merupakan pelanggaran besar terhadap adat negeri kami.

Dari kutipan tersebut, terlihat bahwa pendidikan pada masa itu amatlah susah diakses untuk kaum perempuan. Hanya perempuan priayi saja yang boleh mengakses pendidikan. Itu pun hanya sampai sekolah tingkat dasar, selebihnya perempuan dipingit sambil menunggu sang calon suami datang melamar. Pendidikan bagi perempuan menjadi barang yang amat mahal dan langka. Pun dalam surat yang lain, Kartini melakukan kritik terhadap kawin paksa dan poligami:

Kami (baca: kaum perempuan) tidak boleh bercita-cita. Satu-satunya yang boleh kami mimpikan adalah hari ini atau besok menjadi istri kesekian bagi salah seorang laki-laki… Kaum perempuan di sini tidak boleh menyatakan keinginan apa pun; mereka begitu saja dikawinkan… dikawinkan dengan siapa saja yang dipandang baik oleh orang tuanya.

Dari kutipan di atas, Kartini sadar bahwa sebagai perempuan, dia tidak boleh memiliki keinginan atau cita-cita, dan dia tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan nasibnya. Semua keputusan berada pada tangan orangtua. Kondisi ini menunjukkan sistem feodalisme Jawa saat itu yang banyak membelenggu perempuan dengan berbagai aturan sehingga langkah perempuan menjadi pendek dan terbatas.

Melihat keprihatinan atas nasib kaum perempuan Jawa, Kartini memandang penting pendidikan bagi kaum perempuan. Upayanya dalam membentuk kelas kecil di rumahnya merupakan ikhtiar agar kaum perempuan menjadi melek baca dan melek pengetahuan. Kartini meyakini bahwa pendidikan bagi perempuan adalah salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat. Bagi Kartini, “Pendidikan membuat perempuan lebih cakap melakukan tugas yang diberikan Ibu Alam ke tangannya agar menjadi ibu: pendidik umat manusia yang utama.

Baca juga: Kartini dan Kebaya, Kenangan atas Putri Pejuang dari Jepara

LEAVE A REPLY

three + 17 =