Pura Uluwatu, Keindahan Pura di Atas Tebing Menjulang Tinggi

979
Pura Uluwatu
Pura Uluwatu (Foto: balitrips.co.id)

1001indonesia.net – Pura Uluwatu atau Pura Luhur Uluwatu berdiri tepat di bibir tebing yang menjulang tinggi dan menjorok ke laut dengan hamparan lautan yang membiru di bawahnya, menggambarkan pertemuan antara gunung dan laut. Saat dilihat dari kejauhan, bangunan pura tampak kecil dibandingkan dengan tebingnya yang setinggi 97 meter itu—sumber lain menyebut pura berada di ketinggian 70 m dpl.

Nama “Uluwatu” sendiri diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti ujung batu, sesuai dengan lokasi pura ini yang berada di tepi tebing yang besar dan tinggi. Berpadu dengan latar belakang birunya samudra yang membentang dari kaki tebing sampai ujung cakrawala, pemandangan Pura Uluwatu sangat berkesan bagi yang menyaksikannya.

Sama seperti Pura Tanah Lot, panorama matahari terbenam di Pura Uluwatu juga sangat indah. Saat matahari terbenam juga akan disajikan pagelaran tari kecak yang dimainkan oleh sekitar 50 sampai 100 orang penari di sebuah panggung terbuka. Penonton akan disuguhi kombinasi menakjubkan antara pertunjukan tari yang dinamis dengan latar belakang panorama sunset yang sangat indah.

Pertunjukan tari kecak di tempat terbuka di Pura Uluwatu. (Foto: KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI)
Pertunjukan tari kecak di tempat terbuka di Pura Uluwatu dengan panorama matahari tenggelam yang sangat indah. Pertunjukan yang diadakan setiap hari pada pukul 18.00 Wita ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.  (Foto: KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI)

Saat matahari semakin jauh terbenam dan langit hanya menyisakan sedikit semburat warna kemerahan, api yang memang menjadi unsur penting dalam gelaran Tari Kecak semakin mendominasi. Dengan ini, rasa takjub atas keindahan panorama sunset yang melatarbelakangi pentas bertahan lebih lama.

Pura Luhur Uluwatu berada di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, sekitar 25 kilometer ke arah selatan dari wilayah wisata Kuta. Lokasinya terletak di ujung barat daya atau di bagian selatan semenanjung Pulau Bali.

Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut alas kekeran. Hutan kecil yang berfungsi sebagai penyangga kesucian pura tersebut ditinggali ratusan kera berwarna abu-abu.

Pura

Pura Uluwatu dibangun oleh Empu Kuturan, seorang pendeta Hindu dari Pulau Jawa, pada sekitar abad ke-11. Empu Kuturan juga membangun beberapa pura lain di pesisir Bali. Menurut Lontar Kusuma Dewa,  Mpu Kuturan membangun pura ini sebagai tempat untuk menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya.

Konon, pada abad ke-15, Danghyang Dwijendra atau Danghyang Nirartha, yang membuat agama Hindu-Dharma, memakai Pura Uluwatu sebagai tempat memuja. Sang Brahmana yang bersal dari Jawa ini juga memilih pura ini sebagai tempat peristirahatan terakhirnya di dunia.

Pura Luhur ini merupakan salah satu dari Pura Sad Kahyangan, yaitu enam Pura Kahyangan yang dianggap sebagai pilar spiritual Pulau Bali atau penyangga dari 9 mata angin. Keenam Pura tersebut adalah Pura Besakih, Pura Lempuhyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, Pura Luhur Batukaru, dan Pura Pusering Jagat.

Pura Luhur Uluwatu juga merupakan salah satu dari tujuh pura yang berfungsi sebagai panyengker Pulau Bali, yaitu sebagai pelindung dari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti bencana alam.

Selain itu, Pura Uluwatu memegang peranan penting bagi Umat Hindu Bali sebagai istadewata. Dalam Padma Bhuwana Bali, pura ini berada di arah barat daya, tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Dewa Siwa Rudra.

Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan atau pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan tersebut yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding, dan Pura Dalem Pangleburan.

Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalannya. Piodalan di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan, dan Pura Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia yang terjadi setiap 210 hari, bertepatan dengan hari Danghyang Dwijendra moksa. Upacara ini berlangsung selama 3 hari.

Pura Uluwatu juga menjadi terkenal karena tepat di bawahnya adalah pantai Pecatu yang sering digunakan untuk olahraga selancar. Bahkan even internasional selancar sering kali diadakan di pantai ini. Ombak pantai ini terkenal amat cocok untuk dijadikan tempat selancar di samping pemandangan alamnya yang sangat indah.

Sumber:

  • http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-bali-pura_uluwatu
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Pura_Luhur_Uluwatu
  • http://www.babadbali.com/pura/plan/uluwatu.htm
  • http://www.kompasiana.com/fantastic-bali/3-pura-di-bali-dengan-panorama-paling-spektakuler_54f72b12a33311b56f8b462c

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 − eight =