Pura Ulun Danu Beratan, Seperti Mengambang di Atas Danau

421
Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali
Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali. (Foto: avlxyz/flickriver.com)

1001indonesia.net – Pulau Bali memang layak disebut sebagai “surga dunia terakhir.” Alamnya sangat memukau. Dari puncak gunung hingga bawah laut menawarkan pemandangan yang sangat berkesan. Kreativitas yang tak pernah habis masyarakatnya dalam menciptakan berbagai macam budaya membuat Bali menjadi destinasi favorit masyarakat dunia.

Bali juga tak lepas dari agama Hindu yang meresapi jiwa-jiwa penduduknya. Maka tak heran jika pura-pura di Bali banyak dikunjungi wisatawan, salah satunya adalah Pura Ulun Danu Beratan di Bedugul, Kabupaten Tabanan. Sebenarnya pura ini tak asing bagi kita karena gambarnya tertera pada uang pecahan Rp50.000.

Pura ulun Danu Beratan atau yang kerap disingkat dengan Pura Ulun Danu berlokasi di tepi barat laut Danau Beratan. Pura tersebut istimewa karena seolah mengambang di atas air saat air danau pasang, mengingatkan kita pada Pura Tanah Lot yang berada di atas batu karang di tengah pantai yang juga tampak mengambang saat laut pasang.

Suasana senyap dan tenang sangat terasa ketika kita menjejakkan kaki di sini. Gelombang lembut air danau serta suasana asri di sekitarnya membuat hati terasa damai. Belaian angin yang semilir membuat badan menjadi segar kembali, menyirnakan kelelahan akibat perjalanan yang panjang.

Pura Ulun Danu Beratan adalah salah satu pura terbesar di Bali. Pura yang berada di tepi danau yang indah ini memiliki daya pikat yang kuat. Lanskap perbukitan yang mengitari salah satu sisinya menyempurnakan keindahan pemandangan yang dimilikinya.

Di sini, kita bisa menyewa perahu untuk menikmati pemandangan danau dan menjelajahi setiap sisinya. Beragam pemandangan berbeda akan tersaji dalam ketenangan dan kesejukan alam.

Kompleks Pura Ulun Danu Beratan berada di kawasan Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti. Lokasinya terletak di jantung Pulau Bali, sekitar 56 kilometer ke arah utara dari Denpasar dengan melewati jalan raya Denpasar – Singaraja.

Jika jalanan sedang lancar, Pura Ulun Danu Beratan dapat ditempuh sekitar 2-3 jam perjalanan dari kota Denpasar. Jalannya berkelak-kelok, tetapi mulus. Hanya saja, jika musim liburan tiba, terjadi kemacetan pada jalur ini.

Sebab itu, jika tidak ingin terjebak kemacetan panjang, sebaiknya kunjungi pura ini pada pagi hari. Waktu terbaik untuk memulai perjalanan sekitar 05.00-06.00 Wita. Jika berangkat pada jam tersebut maka akan tiba di danau Beratan sekitar pukul 08.00-09.00 Wita. Saat itu, suasana di lokasi ini masih lumayan sepi.

Namun, jika Anda tiba di Pura Ulun Danu Beratan lebih dari pukul 10.00 Wita, bersiaplah dengan kemacetan dan keramaian di area parkir. Maklum, tempat wisata ini selalu ramai dikunjungi orang. Kompleks wisata Pura Ulun Danu Beratan dibuka sejak pukul 08.00 Wita dan tutup sekitar pukul 18.00 Wita.

Dengan kondisi yang sepi, Anda akan leluasa menyingkap setiap sudut pura dan area sekitar danau dengan leluasa. Belum ada antrean di loket tiket, terik matahari pun belum begitu menyengat.

Pemandangan di kawasan Pura Ulun Danu memang sangat menawan. Sayangnya, area Pura Ulun Danu Beratan yang berada di ketinggian kerap berselimut kabut. Jika kita datang terlalu pagi atau terlalu sore, kabut putih yang turun menaungi area atas danau membuat pemandangan menjadi tidak begitu jelas. Bahkan, jika kabut terlalu tebal, pengunjung pun tidak disarankan mengitari danau.

Pura

Pura Ulun Danu Beratan digunakan sebagai tempat persembahan bagi Dewi Danu yang merupakan dewi air, sungai, dan danau. Ini sesuai dengan fungsi Danau Beratan sebagai sumber irigasi untuk daerah yang berada di tengah Pulau Bali. Danau Beratan dikenal sebagai danau “gunung suci”.

Stupa Buddha di Pura Ulun Danu Beratan (Foto: flickriver.com)
Stupa Buddha di Pura Ulun Danu Beratan (Foto: flickriver.com)

Pura yang dibangun sekitar tahun 1634 oleh I Gusti Agung Putu ini merupakan salah satu dari sembilan pura Kahyangan Jagat yang mengelilingi Pulau Bali. Di dalam kompleks Pura Ulun Danu Beratan terdapat lima candi atau pura, yaitu Pura Penataran Agung, Pura Dalem Purwa, Pura Taman Beji, Pura Lingga Petak, dan Pura Prajapati.

Pura Lingga Petak adalah yang disebut Pura Ulun Danu Beratan atau pura utama kompleks ini. Di kompleks ini juga terdapat stupa Buddha.

Bagi umat Hindu Bali, kelima pura di kompleks Pura Ulun Danu Beratan merupakan simbol “Tri Murti” (Brahma, Wisnu, dan Siwa), yakni simbol untuk kesuburan tanah, kekayaan manusia, dan pelestarian alam semesta.

Di dalamnya terdapat sumur yang dikeramatkan, namanya Tirta Ulun Danu. Masih dalam lokasi yang sama, terdapat lingga putih yang diapit batu hitam dan batu merah. Masyarakat Bali meyakini Pura Ulun Danu Beratan ini adalah lokasi sumber air kesuburan.

Lokasi pura dikelilingi pemandangan yang indah dari bentang Pegunungan Batur. Luas kompleks pura sekitar 5,5 ha. Danu Beratan berada di ketinggian 1.239 meter di atas perkukaan laut. Hal ini membuat suhu di sekitar pura terasa sejuk, tetapi bisa bertambah lebih dingin dengan embusan angin dan kabut yang turun.

Saat ini, wisata alam Danu Beratan menjadi wisata andalan Kabupaten Tabanan. Andalan yang lain adalah wisata alam Pura Tanah Lot yang juga memiliki pesona matahari tenggelam dengan lanskap laut yang sangat indah.

Pada setiap pertengahan tahun, sekitar bulan Juli dan Agustus, pemerintah kabupaten Tabanan menggelar Ulun Danu Beratan Culture & Art Festival selama sepuluh hari yang melibatkan ribuan seniman. Mereka bergantian menyajikan pementasan mulai dari parade baleganjur, para wanita yang mengusung gebogan atau pajegan, hingga tari-tarian.

Sumber:

  • Kompas, “Terpukau Keheningan Oura Ulun Danu Beratan,” Kompas, Kamis, 16 Februari 2017.
  • Ayu Sulistyowati, “Pura Ulun Danu, Mahkota Danau Beratan,” Kompas, 17 Februari 2017.
  • http://www.id.baliglory.com/2015/07/pura-ulun-danu-beratan-danau-bratan-bedugul-tabanan-bali.html

LEAVE A REPLY

5 × 2 =