Pindang Bandeng, Akulturasi Budaya dalam Sajian Kuliner

112
Pindang Bandeng
Foto: royco.co.id/

1001indonesia.net – Keberadaan pindang bandeng sebagai salah satu menu lokal masyarakat Indonesia merupakan bukti meleburnya budaya kuliner Tionghoa dan Nusantara. Penggunaan bandeng dan kecap dalam sajian ini menjadi tanda berpadunya beragam budaya.

Dilansir dari Kompas.id, pindang bandeng menjadi menu khas peranakan Tionghoa untuk menyambut Imlek. Penggunaan ikan bandeng yang merupakan ikan payau sebagai hidangan dan sesaji ini hanya ada di Indonesia. Di China, apalagi di sebelah utara, masyarakat menggunakan ikan laut sebagai sajian Imlek.

Ditambah lagi penggunaan kecap manis dalam membuat pindang bandeng. Kecap manis kental merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Kecap manis menjadi salah satu warisan Indonesia untuk tradisi kuliner dunia.

Tak hanya enak, penggunaan ikan bandeng sebagai sajian Imlek memiliki makna tersendiri. Ikan bandeng yang memiliki banyak duri (konon berasal dari dialek Hokkian, yakni ban deng, yang berarti ribuan duri) dan disajikan utuh dimaknai seluruh keluarga bersama menghadapi tahun yang baru meski penuh duri kehidupan. Dengan kebersamaan, seluruh keluarga akan kedatangan rezeki.

Dalam penyajian di meja makan, kepala bandeng di dalam piring diletakkan mengarah ke anggota keluarga tertua yang duduk di sekeliling meja makan sebagai bentuk penghormatan.

Secara umum, sebutan ikan, yakni yu dalam bahasa Mandarin, memiliki lafal yang sama dengan arti kata kelebihan atau frasa nian-nian you yu atau ada rezeki sepanjang tahun yang akan dijalani.

Ikan bandeng juga bagian dari tiga jenis sesaji sembahyang dalam ritual Tionghoa yang disebut Sam Seng (tiga jenis hewan yang segar), yakni mewakili hewan di udara, hewan di darat, dan hewan di laut. Hewan udara diwakili ayam atau bebek, hewan di darat diwakili babi, dan hewan di laut diwakili ikan bandeng.

Keberadaan tambak ikan bandeng di pesisir utara Jawa seperti di pesisir Tangerang di kawasan Tanjung Kait, pesisir Bekasi di Jawa Barat, pesisir Semarang, Juwana, di Jawa Tengah, dan sekitar Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi sumber pasokan ikan bandeng.

Akulturasi budaya

Seperti telah disebutkan, penggunaan ikan bendeng sebagai sajian Imlek tidak dilakukan masyarakat Tioanghoa di China. Keberadaan tradisi ini justru merupakan hasil dari menyerap kultur Betawi sejak abad ke-17. Penyebutan “Lebaran Cina” oleh orang Betawi menunjukkan penerimaan masyarakat Betawi terhadap Imlek.

Dipilih ikan bandeng karena ikan inilah yang gampang hidup di perairan sekitar pesisir Jakarta. Namun, ada juga nelayan yang khusus memelihara ikan bandeng ini selama setahun dan ketika Imlek baru dikeluarkan. Sebab itu, ukurannya besar-besar, sekitar 2 sampai 7 kilogram per ekor.

Dalam perayaan Imlek, bukan hanya etnis Tionghoa yang sibuk menyambut kedatangan Tahun Baru tersebut, orang Betawi khususnya masyarakat Betawi di sekitar Kebon Jeruk, Rawabelong dan Palmerah pun tidak kalah hebohnya. Masyarakat Betawi di daerah tersebut sibuk mencari ikan bandeng yang besar-besar untuk dimasak pindang, seolah ikan bandeng menjadi barang wajib pada saat Imlek.

Tradisi yang terjadi pada sebagian masyarakat Betawi secara turun-temurun pada saat Tahun Baru Imlek adalah mengantar atau “ngejot” ikan bandeng kepada mertua. Zaman dulu, menantu yang tidak mengirimkan ikan bandeng ketika tahun baru Imlek dapat dianggap atau dicap sebagai menantu pelit.

Sebaliknya, menantu yang mengirimkan mertuanya dengan ikan bandeng yang besar yang kalau ditenteng sampai ngengser (jatuh) buntutnya, maka menantu itu akan disohor alias dipuji dan dibanggakan mertua.

Namun, zaman sekarang, tradisi tersebut sudah mulai pudar, ikan bandeng kebanyakan dibeli untuk dimakan bersama keluarga atau dibagi-bagi ke tetangga.

Pada zaman dahulu, ikan bandeng juga digantung di pagar, sebagai pertanda bahwa di rumah itu ada anak gadis yang belum menikah. Jika ikan bandeng yang digantung tersebut hilang karena diambil orang berarti ada pria yang menaksir anak gadis tersebut.

Namun, sekali lagi, tradisi ini sudah tidak berlaku lagi di zaman kini, karena kalau ikan bandeng digantung di pagar bukan orang yang akan mengambil ikan bandeng tersebut melainkan kucing.

Baca juga: Pempek, Makanan Khas Palembang Warisan Melayu-Tionghoa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 − 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.