Pelajaran Moral dari Tari Gending Sriwijaya

oleh Siti Muniroh

486
Tari Gending Sriwijaya
Foto: kabarnews.com

1001indonesia.net – Sebuah tarian, bukan hanya tentang keindahan gerak tubuh. Dalam gerak tubuh tersebut terkandung pula makna. Tarian Gending Sriwijaya misalnya, mempunyai gerakan-gerakan yang sarat makna tentang relasi manusia, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan sesama.

Pada mulanya adalah sebuah permintaan pemerintahan Jepang saat menguasai bumi Nusantara. Permintaan ini ditujukan kepada jawatan penerangan (Hodohan) yang berada di Karesidenan Palembang (sekarang merupakan Provinsi Sumatera Selatan) untuk menciptakan lagu dan tarian penyambutan tamu-tamu agung mereka dalam suatu acara resmi.

Atas permintaan tersebut, diciptakanlah lagu dan syair Gending Sriwijaya yang dilanjutkan artikulasinya dalam gerakan indah. Jadi jelas, tari Gending Sriwijaya bukanlah warisan dari zaman Kerajaan Sriwijaya, melainkan suatu memori akan kejayaan kerajaan Sriwijaya yang oleh para penciptanya ditambahkan beberapa unsur adat istiadat wilayah Batanghari Sembilan.

Pertunjukan Tarian ini diawali dengan prosesi penyuguhan tepak sebagai lambang kehormatan kepada tamu agung. Tepak berisi lima bahan utama untuk menginang, antara lain sirih, kapur, gambir, pinang, dan tembakau. Penyuguhan sekapur sirih dilakukan oleh salah satu dari sembilan penari, yaitu penari yang posisinya di depan.

Makna Etis

Surtia Ningsih, seorang mahasiswi Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta menulis skripsi menarik perihal makna etis di balik gerak tari Gending Sriwijaya berjudul “Nilai-Nilai Etik dan Moral Dalam Tari Gending Sriwijaya dan Kaitannya dengan Pendidikan Budi Pekerti Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kota Palembang”.

Menurutnya, tarian ini mempunyai landasan filosofis tentang tata laku manusia yang baik di dalam kesehariannya, terutama kepada orang lain sehingga bisa menjadi sarana bagi pendidikan di sekolah. Ia merincikan beberapa nilai etik yang ada pada gerakan-gerakan tari ini.

Pertama, adanya sikap toleransi yang tercermin dalam gerak sembah berdiri dan sembah duduk. Gerakan-gerakan ini dilakukan pada saat syair tari Gending Sriwijaya 1 baris ke-1, bait 1 baris ke-5 dan bait ke-2 baris ke-16 dikumandangkan. Kedua gerak sembah ini menyiratkan adanya penghormatan kepada para tamu berupa permohonan maaf, apabila ditemui kekurangan-kekurangan dalam menyambut mereka.

Kedua, sikap rendah hati yang tergambar dalam ragam gerak kecubung atas, serta gerak  kokoh dalam rangkaian ragam gerak saksi luhur. Gerakan kecubung membentuk desain lingkaran, dan gerak saksi luhur menggambarkan perputaran roda dharma. Artinya di sini bahwa ada kesenangan dan ada pula masa saat manusia mengalami kesusahan. Oleh karenanya, manusia senantiasa rendah hati dalam menghadapi pasang-surutnya kehidupan yang diibaratkan seperti putaran roda.

Ketiga, adanya sikap tawakal yang digambarkan pada gerak Tolak Arus dan Siguntang Mahameru pada syair bait 1 baris ke-7 dan pada bait ke-2 baris ke-2. (“Berkumandang dari puncaknya Siguntang Mahameru, Saksi luhur berdiri tegak kokoh sepanjang masa”). Tawakal dimengerti sebagai keadaan ingat selalu kepada Tuhan yang merupakan sumber asal segala sesuatu dan ke mana segala hal itu kembali. Anugerah dari-Nya lantas disyukuri dan diamalkan ke dalam kehidupan secara baik dan benar. Kebiasaan berterima kasih ini akan membawa pengaruh kepada keadaan hidup yang bahagia, sehat, dan seimbang.

Keempat, makna kepedulian digambarkan pada gerak Tutur Sabda dan Tabur. Gerak ini mengikuti lantunan syair bait 1 baris ke-6 dan bait 1 baris ke-8 (“Tutur sabda Dharmapala Satyakirti Darmakirti, Menaburkan tuntunan suci Gautama Budha sakti”). Kepedulian berarti menumbuhkan tidak hanya sikap toleransi tetapi juga rasa solidaritas terhadap orang lain, yakni selalu berupaya mengenali pribadi orang lain dan ingin membantunya bila sedang dalam keadaan susah. Sikap ini dengan demikian juga mengenali rasa kemanusiaan diri sendiri.

Kelima, adanya sikap kerukunan pada gerak Borobudur ketika syair pada bait ke-2 baris ke- 1 dinyanyikan (“Borobudur candi pusaka zaman Sriwijaya”). Kerukunan berarti saling menjaga sikap antar sesama manusia agar tidak terjadi benturan.  Gerak Borobudur yang menggambarkan 100 perputaran roda dharma atau kehidupan yang berkesinambungan, tak selamanya hidup dalam sebuah keteraturan sosial. Untuk menjaga keteraturan sosial dan membina hubungan yang baik, seyogyanya sesama manusia menjaga nilai-nilai luhur kerukunan, dengan tidak menjaga jarak kepada sesama manusia.

Keenam, sikap sabar disiratkan pada gerak Saksi luhur. Gerakan ini dilakukan pada lantunan syair lagu bait ke-2 baris ke-2 dan baris ke-3 (“Saksi luhur berdiri tegak kokoh sepanjang masa, Memasyurkan Indonesia di Benua Asia”). Gerakan Saksi Luhur ini dilakukan dengan penuh kesabaran untuk menahan badan dengan hati-hati dalam proses bergerak.

Ketujuh, sikap tanggung jawab. Sikap ini digambarkan pada gerak Lambang di  saat ke-2 baris ke-4 dinyanyikan (“Melambangkan keagungan sejarah Nusa dan Bangsa”). Tanggung jawab dimengerti sebagai adanya kemampuan untuk memikul kepercayaan yang diberikan kepada seseorang serta berdaya dalam mengendalikan kesulitan yang dihadapi.

Kedelapan, sikap keikhlasan. Sikap ini ada pada gerak Ulur Benang Berdiri. Gerak yang dilakukan ketika berkumandang bait ke-2 baris ke-5 (“Taman Sari berjenjang emas perak sri ksyetra”.) Sikap ini bermakna bahwa bila tangan kanan memberi, tangan kiri tidaklah perlu mengetahuinya. Maksudnya, memberi dilakukan dengan tulus ikhlas tanpa mengharap pujian.

Kesembilan, sikap mandiri dan percaya diri. Sikap ini disiratkan pada gerak Elang Terbang. Syair yang berkumandang adalah bait ke-2 baris ke-2 dan baris ke-5 (“Emas perak sri kesyetra”). Gerakan ini dilakukan tanpa ragu-ragu dari proses duduk menuju berdiri dengan gerakan tangan mengalun. Maknanya adalah untuk mencapai kesuksesan diperlukan sikap mandiri dan percaya diri.

Kesepuluh, sikap setia atau loyal yang digambarkan dengan gerak Kolam. Syairnya adalah bait ke-2 baris ke-6 dan baris ke-7 (“Dengan kolam pualam bagai di Syorga Indraloka Taman putri turunan Maharaja Syailendra”). Sikap ini lewat gerakan tangan yang membentuk sebuah desain lingkaran, kemudian badan merendah jentik ke kanan, lalu jentik ke kiri, kemudian kembali ke tengah dengan kedua telapak tangan menghadap ke depan. Arti dari desain lingkaran dan sikap kembali ke tengah, menggambarkan tentang proses kehidupan manusia selalu berjalan seiring dengan berjalannya waktu, meski dalam kondisi sesulit apa pun ia tetap pada komitmen yang telah disepakati oleh dirinya sendiri.

Kesebelas, sikap kerja sama. Sikap ini digambarkan pada gerak keseluruhan penari yang berjumlah sembilan.  Tari Gending Sriwijaya yang ditarikan oleh sembilan orang ini dikategorikan sebagai tari kelompok. Dalam menari kelompok, kerja sama sangat diperlukan agar tujuan yang menjadi cita-cita bersama tercapai. Oleh karena itu, agar tercipta suatu keharmonisan dan kekompakan, setiap penari harus menahan egonya masing-masing.

LEAVE A REPLY

three × four =