Mohammad Roem, Diplomat Pejuang Pada Masa Revolusi

226
Mohammad Roem
Mohammad Roem dan para diplomat dari pemerintah Belanda. (Foto: WARTAPILIHAN.COM)

1001indonesia.net – Mohammad Roem merupakan seorang diplomat yang beberapa kali mewakili Indonesia dalam perundingan dengan Belanda pasca-proklamasi kemerdekaan RI. Kiprahnya sebagai diplomat yang paling terkenal adalah saat menjadi delegasi Indonesia dalam Perundingan Roem-Royen (1949) yang membahas luas wilayah RI.

Roem lahir pada Sabtu Pahing, 16 Mei 1908 di Desa Klewongan, Kawedanan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Ia adalah anak keenam dari tujuh bersaudara dari pasangan Dulkarnaen Djojosasmito (Lurah Desa Klewongan) dan Siti Tarbijah.

Masa kecil Mohammad Roem dilewatkan di dua tempat, yakni Parakan (1908-1919) dan Pekalongan, Jawa Tengah (1919-1924). Pada 1919, Roem pindah ke Pekalongan karena Parakan terkena wabah penyakit menular.

Mulanya, kepindahan tersebut direncanakan hanya sementara, sampai wabah tersebut mereda. Namun, karena ayahnya meninggal pada 1920, Pekalongan kemudian tempat kedua bagi Roem. Di Pekalongan, Roem tinggal di tempat kakak perempuannya.

Mohammad Roem menempuh pendidikan dasar selama dua tahun di Sekolah Desa (Volkschool) pada 1915. Ia kemudian masuk Hollands Inlandshe School (HIS) di Temanggung sampai kelas 3 (1917-1929) dan dilanjutkan di Pekalongan (1919-1924).

Setelah tamat HIS Pekalongan, Mohammad Roem mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah bumiputera atau School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) di Jakarta.  Roem tidak sempat menamatkan STOVIA karena sekolah tersebut dihapuskan pada 1927. Para muridnya melanjutkan pendidikan ke Algemene Middelbare School (AMS). Mohammad Roem lulus AMS tahun 1930.

Mohammad Roem kemudian melanjutkan pendidikannya ke Geneeskundigie Hoogeschool (GHS) atau sekolah tinggi kedokteran di jalan Salemba selama dua tahun, tetapi tidak berhasil lulus. Dalam dua kali ujian, ia gagal.

Ia kemudian berhenti dari GHS. Pada 1932, Mohammad Roem masuk Rechts Hoogeschool (RHS) di Batavia. Melalui RHS inilah ia mendapat gelar Meester in de Rechten atau sarjana hukum pada 1939. Setelah itu, ia berprofesi sebagai pengacara yang banyak membela rakyat kecil.

Mohammad Roem

Mohammad Roem aktif dalam beberapa organisasi, seperti Jong Java (1924) dan Jong Islamieten Bond (1925) yang berkembang di lingkungan STOVIA. Roem kemudian bergabung dengan Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) yang dipimpin oleh Haji Agus Salim. Pada 1932, ia menjadi Ketua Panitia Kongres PSII di Jakarta.

Saat terjadi kemelut di tubuh PSII, Roem bersama Agus Salim keluar dari partai tersebut. Mereka kemudian mendirikan PSII-Penyadar. Dalam partai tersebut, Roem menjadi Ketua Komite Centraal Executif (Lajnah Tanfidziyah).

Pada masa pendudukan Jepang, Mohammad Roem dipercaya sebagai Ketua Muda Barisan Hizbullah yang bermarkas di Jakarta. Barisan Hizbullah adalah organisasi semi-militer di bawah naungan Masyumi.

Dalam muktamar Masyumi tahun 1947, diputuskan bahwa umat Islam harus ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mohammad Roem pun turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama melalui jalur perundingan. Sikapnya yang selalu menghargai pendapat orang lain meski berbeda pendapatnya, menunjang keberhasilannya dalam berdiplomasi.

Oleh pemerintahan Sukarno, ia mendapat tugas sebagai anggota tim juru runding RI dalam perundingan Renville pada 17 Januari 1948. Mohammad Roem kemudian diangkat sebagai ketua juru runding RI dalam perundingan Roem-Royen pada 14 April 1949. Perundingan Roem-Royen dinilai berhasil karena telah mendorong dengan segera terselenggaranya Konferensi Meja Bundar (KMB) dan pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda tahun 1949.

Di masa berikutnya, Mohammad Roem tercatat pernah menduduki jabatan penting di RI. Ia pernah menjadi Menteri Dalam Negeri dalam tiga kabinet yang berbeda, yakni Kabinet Sjahrir III, Kabinet Amir Syarifuddin II, dan Kabinet Wilopo. Puncak karier politiknya adalah menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo II.

Pada masa demokrasi terpimpin, terjadi perubahan dalam perpolitikan Indonesia. Partai Masyumi dibubarkan oleh pemerintahan Sukarno. Sejak itu, Mohammad Roem tidak lagi memegang jabatan di pemerintahan.

Ia bahkan sempat ditahan pemerintah tanpa proses pengadilan atas tuduhan terlibat peristiwa Cenderawasih, yaitu peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno di Makassar. Ia keluar dari penjara pada 1966 setelah pemerintahan Sukarno goyang usai peristiwa G30S.

Pada 1969, Mohammad Roem hampir kembali ke kancah politik setelah terpilih sebagai ketua Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Partai tersebut didirikan oleh para mantan kader Masyumi. Namun, Soeharto yang menjadi presiden waktu itu tidak menyetujui partai tersebut dipimpin olehnya. Mohammad Roem batal menjadi ketua, digantikan oleh Djarnawi Hadikusumo, putra Ki Bagus Hadi Kusumo.

Mohammad Roem meninggal di Jakarta, 24 September 1983 pada usia 75 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × 5 =