Mi Lethek, Mi Khas Bantul Berbahan Dasar Singkong

68
Mi Lethek
Produksi mi lethek masih menggunakan sapi untuk menarik mesin penggiling. (Foto: Detik.com)

1001indonesia.net – Singkong merupakan salah satu bahan makanan pokok Indonesia. Umbi singkong diolah menjadi beragam jenis makanan. Salah satunya berbentuk mi. Di Bantul, mi berbahan dasar singkong ini disebut mi letheg atau mi lethek.

Mi lethek terbuat dari gaplek. Dinamakan letheg atau lethek karena warnanya yang kusam atau agak keruh kecokelatan, tidak seperti mi dari tepung terigu yang “putih” dan “bersih”.

Asli dari Bantul

Mi dari bahan singkong ini diproduksi di Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, DIY.

Dilansir Detik.com, mi lethek sudah ada sejak tahun 1920-an. Produsen pertama mi letheg bukan asli Bantul, tetapi berasal dari Timur Tengah bernama Umar. Menurut cerita masyarakat setempat, diproduksinya mi ini karena Umar merasa prihatin terhadap kebutuhan rakyat akan pangan yang begitu tinggi.

Pada 1940-an, bermunculan berbagai pabrik mi letheg lain yang didirikan oleh masyarakat setempat. Pabrik-pabrik mi itu masih beroperasi hingga saat ini. Selain membantu perekonomian warga sekitar, produksi mi yang diawali Umar itu juga mampu menghadirkan makanan khas yang diakui masyarakat luas.

Baca juga: Olahan Singkong, Makanan Khas Nusantara

Diproduksi secara tradisional

Mi berbahan dasar singkong ini diproduksi secara tradisional tanpa bahan kimia. Proses pembuatan dimulai dari nyelender, yaitu pencampuran tepung tapioka dan gaplek. Adonan digiling di atas lumpang besar dengan diameter sekitar 2 meter.

Ari Ambarwati dalam buku Nusantara dalam Piringku mengungkapkan, mesin penggiling yang digunakan untuk mengolah adonan terbuat dari batu berbentuk silinder seberat satu ton. Digunakan sapi untuk menarik mesin penggiling tersebut.

Adonan yang telah digiling itu selanjutnya dikukus di atas tungku yang terbuat dari tanah liat. Setelah kadar airnya diatur, adonan dikukus lagi, dipotong dan kemudian dicetak menjadi mi.

Alat pencetak mi yang disebut tarikan terbuat dari kayu tepeng. Dibutuhkan sedikitnya 8 tenaga manusia untuk menggerakannya. Masing-masing orang mendapatkan pembagian tugas yang jelas.

Ada yang bertugas sebagai penginjak balok kayu berdiameter 40 cm yang disebut munyuk, karena gerakannya meloncat-loncat seperti kera. Selain itu ada juga yang bertugas secara serempak untuk menarik kayu. Setelah dicetak, mi lalu dijemur pada panas matahari.

Waktu yang dibutuhkan untuk membuat mie lethek minimal 24 jam karena membutuhkan sinar matahari dalam prosesnya.

Mi lethek ada 2 macam, yaitu mi lethek mentah dalam bentuk kemasan dan mi lethek siap saji. Mi lethek mentah dapat diperoleh di pasar-pasar tradisional maupun swalayan di sekitar Bantul. Adapun mi yang siap saji dapat ditemukan di warung-warung mi di daerah Srandakan, khususnya di sekitar Pasar Srandakan.

Saat ini, mi lethek juga sudah dapat dibeli dari luar Bantul karena tersedia di berbagai platform jual-beli online.

Mi lethek biasanya diolah menjadi berbagai jenis masakan seperti mi Jawa. Selain bebas dari bahan kimia dan pengawet, mi khas Srandakan, Bantul, ini memiliki kandungan gizi yang baik.

Mi lethek juga dapat menjadi pilihan bagi mereka yang sedang berdiet karena karbohidrat dan natriumnya yang rendah dan seratnya yang tinggi. Mi ini juga rendah gluten.

Baca juga: Pantiau, Kuliner Khas Bangka Belitung yang Mirip Kwetiau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven + five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.