Ma’nene, Tradisi Penghormatan terhadap Leluhur Masyarakat Toraja

882
Manene atau Ma'nene
Foto: Bersabda.com/Andi Payung Allo

1001indonesia.net – Penghormatan terhadap leluhur yang sudah meninggal menjadi bagian dari kebudayaan Nusantara. Ada beragam cara untuk melakukannya. Sebagian tradisi tersebut bahkan sangat unik, tiada duanya. Contohnya adalah tradisi Ma’nene yang hanya ada di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Ritual Ma’nene merupakan prosesi adat mengganti pakaian jasad leluhur yang telah disemayamkan di dalam peti di tempat pekuburan keluarga. Di Tana Toraja, tempat pekuburan yang berbentuk rumah itu dinamakan Patane.

Ritual ini diawali dengan datang ke lokasi pekuburan untuk mengambil jenazah. Di Patene, jenazah leluhur yang telah berumur ratusan tahun tersimpan dalam keadaan utuh, karena sebelumnya diberi bahan pengawet.

Sebelum membuka pintu kuburan Patane dan mengangkat peti mayat untuk di bersihkan, tetua adat (Ne’ Tomina Lumba) terlebih dahulu membacakan doa dalam Bahasa Toraja kuno. Doa tersebut berisi permohonan izin kepada leluhur, juga agar masyarakat mendapat rahmat keberkahan setiap musim tanam hingga panen berlimpah. Ne’tomina merupakan gelar adat yang diberikan kepada tetua kampung.

Pihak keluarga kemudian membersihkan mayat leluhur yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun. Pertama-tama, pakaian lama yang digunakan dilepas. Lalu seluruh badan mayat dibersihkan dengan kuas atau kain bersih, mulai dari kepala sampai ujung kaki. Jenazah tersebut kemudian diberi pakaian baru.

Ma'nene
Foto: indonesiakaya.com

Prosesi adat Ma’nene sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Waktu pelaksanaannya berdasarkan kesepakatan bersama keluarga dan tetua adat melalui musyawarah desa.  Penentuan waktu biasanya mempertimbangkan agar orang-orang yang hidup di perantauan memiliki kesempatan untuk bisa datang menjenguk Nene To’dolo (moyang mereka).

Ada kisah yang melatarbelakangi ritual ini. Konon, seorang pemburu bernama Pong Rumasek mencari hewan buruan ke hutan di pegunungan Balla. Tatkala sedang menelusuri hutan, Pong menemukan sebuah jasad dengan kondisi yang mengenaskan. Pong lalu menanggalkan bajunya dan memakaikannya ke jasad tersebut. Kemudian jasad itu dikuburkan di tempat yang layak.

Ketika pulang ke rumahnya, Pong Rumasek terkejut karena mendapati lahan pertaniannya sudah siap panen, padahal seharusnya belum waktunya. Tak hanya itu, keberuntungan demi keberuntungan senantiasa menyertai hidup Pong Rumasek.

Berangkat dari apa yang ia alami, Pong mengambil kesimpulan bahwa jasad orang mati pun harus dihormati. Bagaimanapun kondisi dan bentuk jasad yang telah mati, tetap harus dibersihkan dan dirawat, diperlakukan dengan layak.

Pong lalu menyampaikan apa yang dialaminya kepada penduduk Barrupu. Penduduk pun percaya dan melaksanakan apa yang dikatakan Pong, hingga sekarang.

Ritual penghormatan terhadap leluhur ini menjadi sarana untuk mengumpulkan satu keluarga. Pada saat ritual Ma’nene diselenggarakan, diharapkan semua anggota keluarga dapat hadir. Orang-orang yang berada di perantauan akan pulang ke kampung halaman untuk menghadiri upacara sakral itu.

Ritual ini menunjukkan pemahaman yang dimiliki masyarakat Toraja bahwa hubungan keluarga tidak terputus walaupun telah dipisahkan oleh kematian. Ritual ini juga digunakan untuk memperkenalkan anggota-anggota keluarga yang muda dengan para leluhurnya.

Prosesi mengganti pakaian satu mayat tidaklah lama, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Selama proses membersihkan leluhur, sebagian kaum laki-laki akan membentuk lingkaran. Mereka bernyanyi dan menarikan tarian yang melambangkan kesedihan. Mereka melakukan ini untuk menghibur para keluarga yang ditinggalkan.

Setelah itu, jenazah biasanya diarak bersama keluarga keliling kampung, meskipun tidak selalu begitu. Mayat yang didandani diperlakukan seperti saat ia masih hidup.

Usai mengganti pakaian mayat leluhur, masyarakat kemudian berkumpul mengikuti acara beribadah dan makan bersama. Makanan yang disajikan adalah hasil sumbangan setiap keluarga keturunan leluhur yang melaksanakan kegiatan prosesi adat Ma’nene.

Usai makan bersama, acara dilanjutkan dengan tradisi Sisemmba’, bertujuan menjalin keakraban serta silaturahmi antara keluarga perantau dengan yang berada di kampung halaman.

Ma’nene adalah bagian dari upacara Rambu Solo’ atau upacara kematian dalam tradisi suku Toraja yang memang berlangsung panjang. Pakaian yang dikenakan kepada jenazah merupakan pakaian kebanggaan atau kesukaan ketika masih hidup. Atau bisa juga pakaian yang disiapkan keluarga adalah pakaian yang sebagus mungkin.

Baca juga: Rambu Solo, Upacara Kematian Masyarakat Toraja

Saat ini, sudah tidak banyak yang melakukan ritual ini. Biaya yang dibutuhkan untuk menggelar ritual ini juga besar. Namun, di beberapa daerah, seperti Desa Pangala dan Baruppu, masyarakat masih melaksanakannya secara rutin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.