Rambu Solo, Upacara Kematian Masyarakat Toraja

1044
Rambu Solo, Upacara Kematian Masyarakat Toraja
Upacara Rambu Solo (Foto: coklatkita.com)

1001indonesia.net – Upacara Rambu Solo adalah upacara pemakaman yang dilaksanakan oleh masyarakat Tana Toraja. Upacara yang disebut juga sebagai Aluk Rampe Matampu ini bertujuan untuk mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam keabadian yang menjadi tempat peristirahatan arwah para leluhur. Tradisi ini tidak bisa dipisahkan dari kepercayaan asli masyarakat Toraja, Aluk Todolo.

Menyempurnakan Kematian

Masyarakat Tana Toraja memercayai bahwa upacara Rambu Solo akan menyempurnakan kematian seseorang. Upacara ini berfungsi untuk mengantarkan arwah dari orang yang meninggal masuk ke dalam dunia keabadian tempat arwah para leluhur berkumpul dan beristirahat. Masyarakat Toraja menyebut alam keabadian tersebut sebagai Puya, yang berada di sebelah selatan Tana Toraja.

Masyarakat Toraja percaya, tanpa upacara pemakaman ini, arwah orang yang meninggal akan memberikan kemalangan bagi keluarga yang ditinggalkan. Oleh karena itu, seseorang yang meninggal dan belum diupacarai dengan Rambu Solo dianggap belum meninggal atau masih hidup. Orang ini akan diperlakukan seperti orang yang sedang sakit atau dalam kondisi lemah.

Oleh anggota keluarganya, orang yang dianggap belum meninggal tersebut diperlakukan seperti layaknya orang yang masih hidup. Ia akan dibaringkan di ranjang ketika hendak tidur, disajikan makanan, minuman ataupun sesajian lainnya, bahkan diajak berbicara. Hal ini dilakukan oleh semua anggota keluarga dan juga tetangga sekitar sampai upacara Rambu Solo dapat dilangsungkan.

Selain itu, masyarakat adat Tana Toraja memercayai bahwa di Puya, arwah yang meninggal dibagi ke dalam beberapa tingkatan, yaitu sebagai arwah gentayangan (Bombo), sebagai arwah setingkat dewa (Tomembali Puang), dan sebagai arwah pelindung (Deata). Tinggi rendahnya tingkat arwah orang yang meninggal di Puya nantinya tergantung dari kesempurnaan prosesi dan banyaknya kerbau yang dikurbankan dalam upacara Rambu Solo. Oleh karena itu, keluarga yang ditinggalkan akan berusaha melaksanakan upacara ini sebaik mungkin.

Prosesi Upacara 

Secara garis besar upacara pemakaman terbagi kedalam 2 prosesi, yaitu Prosesi Pemakaman (Rante) dan Pertunjukan Kesenian. Prosesi Pemakaman diadakan di lapangan yang terletak di tengah kompleks rumah adat tongkonan. Pada prosesi ini, terdapat beberapa ritual, seperti ritual pembungkusan jasad (Ma’Tudan Mebalun), proses menghias peti jenazah dengan menggunakan benang emas dan benang perak (Ma’Roto), prosesi perarakan jasad yang telah dibungkus ke sebuah lumbung untuk disemayamkan (Ma’Popengkalo Alang), dan prosesi mengarak jasad dari kompleks rumah adat tongkonan menuju kompleks pemakaman yang disebut Lakkian (Ma’Palao atau Ma’Pasonglo).

Kerbau-kerbau yang akan digunakan sebagai kurban dalam upacara rambu solo. (Foto: Barry Kusuma/travel.kompas.com)
Kerbau-kerbau yang akan digunakan sebagai kurban dalam upacara rambu solo. (Foto: Barry Kusuma / travel.kompas.com)

Sementara itu, Prosesi Pertunjukan Kesenian dilaksanakan bukan hanya untuk memeriahkan upacara semata, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi orang yang sudah meninggal. Dalam prosesi ini, terdapat pertunjukan musik dan tarian adat, arakan kerbau yang akan dijadikan kurban, pertunjukan adu kerbau, dan penyembelihan kerbau sebagai hewan kurban. Kerbau kurban ini disembelih cara khas masyarakat Toraja, yaitu dalam sekali tebas (ma’tinggoro tedong).

Berbiaya Mahal

Meski dianggap sebagai upacara yang wajib dilaksanakan agar orang dapat meninggal secara sempurna, umumnya masyarakat Toraja tidak bisa langsung melaksanakannya. Biasanya
upacara ini baru dilaksanakan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah kepergian seseorang.

Hal ini dikarenakan mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk mengadakan upacara Rambu Solo. Rambu Solo diselenggarakan dengan biaya ratusan juta hingga miliaran rupiah. Dalam upacara pemakaman ini, banyak sekali hal-hal yang menjadi persyaratan dan pendukung bagi pelaksanaan upacara Rambu Solo yang ideal, di antaranya:

  • Kerbau Kurban

    Kerbau kurban merupakan aspek utama dalam upacara ini. Menurut keyakinan masyarakat Toraja, kerbau merupakan hewan yang akan mengantarkan arwah orang yang meninggal ke Puya. Umumnya, jumlah kerbau yang dikurbankan antara 9 sampai 20 ekor. Untuk golongan bangsawan, jumlahnya sampai ratusan. Masyarakat Toraja percaya bahwa semakin banyak kerbau yang dikurbankan, arwah orang yang meninggal akan semakin cepat mencapai Puya. Di antara berbagai jenis kerbau yang digunakan, ada satu yang istimewa, yaitu Tedong Bonga (kerbau bule) Belang. Kerbau ini merupakan spesies endemik yang harganya sangat mahal.

  • Pernak-pernik Upacara Rambu Solo

    Selain hewan kurban, beberapa hal yang menjadi kewajiban dalam upacara Rambu Solo adalah pernak-pernik  yang menghiasi peti jenazah, seperti kain adat, tali, dan ornamen dari emas dan perak. Tak hanya itu, di dalam peti jenazah juga akan diletakkan berbagai barang sebagai “bekal perjalanan” menuju Puya. Barang-barang tersebut berupa pakaian, bermacam-macam perhiasan, dan sejumlah uang. Ada juga bekal bagi anggota keluarga yang sudah lama meninggal yang dititipkan di peti jenazah yang sedang diupacarai ini.

Mahalnya biaya yang dibutuhkan tidak menyurutkan niat masyarakat Toraja untuk mengadakan upacara rambu solo ini. Upacara pemakaman sebagai tanda bakti keturunan pada leluhurnya ini masih diadakan sampai sekarang. Biasanya dilangsungkan pada bulan Juli dan Agustus. Saat itu, orang Toraja yang merantau di seluruh Indonesia akan pulang kampung untuk ikut serta dalam rangkaian acara ini. Diikuti para wisatawan yang datang untuk menyaksikan upacara adat tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 + twenty =