Lom Plai, Ritual Pesta Panen Suku Dayak Wehea

496
Lom Plai
Tari Hudoq dalam rangkaian upacara Lom Plai yang digelar oleh Suku Dayak Wehea (Foto: Chris Djoka/flores-borneo.blogspot.com)

1001indonesia.net – Lom Plai merupakan ritual pesta panen Suku Dayak Wehea di Desa Nehas Liah Bing, Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Ketika Lom Plai tiba waktunya, para warga Suku Dayak Wehea akan larut dalam kesibukan, bahu-membahu mempersiapkan segala kebutuhan untuk berlangsungnya upacara.

Tak hanya warga desa, acara juga akan dihadiri oleh para tamu dari berbagai kampung. Para warga seakan berlomba untuk menyambut tamu, kerabat, atau orang-orang yang sekadar datang untuk menyaksikan upacara adat yang unik ini.

Ada beberapa prosesi dalam rangkaian upacara Lom Plai. Salah satunya adalah Seksiang, yaitu ritual perang-perangan yang diadakan di atas perahu di Sungai Wehea. Perang-perangan dilakukan oleh para pria yang dibagi ke dalam beberapa kelompok.

Dalam balutan pakaian adat, para peserta membawa rumput gajah sebagai senjata dan perisai sebagai pelindung. Tidak ada kalah dan menang dalam ritual perang-perangan ini. Prosesi Seksiang merupakan perlambang jiwa kesatria para pendahulu mereka di masa lalu.

Lom Plai
Warga Dayak Wehea menjalani Seksiang atau perang-perangan dalam rangkaian Acara Adat Lom PLai di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. (Foto: Tribunkaltim.co/Arif Fadillah)

Prosesi kedua adalah Peknai yang diisi dengan siram-siraman dan menggoreskan arang pada wajah semua warga termasuk pengunjung yang hadir.

Prosesi selanjutnya adalah dibacakannya mantra dan doa oleh para tetua adat diiringi dengan tarian dan nyanyian para penari Hudoq untuk memanggil roh Hudoq. Tradisi Lom Plai pun berakhir ketika para penari Hudoq meninggalkan tempat ritual.

Baca juga: Hudoq, Tarian Sakral dari Suku Dayak

Lom Plai digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap Puteri Long Diang Yung yang mengorbankan dirinya demi warga yang terkena bencana kelaparan. Masyarakat Wehea meyakini sang putri kemudian menjelma menjadi tanaman padi.

Padi jelmaan sang putri diberi nama Plai Long Diang Yung. Padi tersebut dipanen tiada habis-habisnya, hingga dibagikan kepada masyarakat sebagai benih untuk ditanam. Dari hasil tanaman padi, warga tidak lagi kelaparan. Mereka mulai hidup makmur dan sejahtera.

Untuk mengenang hal itu, maka setiap usai panen masyarakat Wehea selalu menggelar upacara Lom Plai.

Selain itu, Lom Plai merupakan sebuah ungkapan syukur dari masyarakat Dayak Wehea atas capaian hasil panen yang mereka peroleh dari musim tanam sebelumnya sekaligus sebagai doa agar musim panen berikutnya mendapat hasil yang juga berlimpah.

Tradisi peninggalan leluhur ini terus dilestarikan hingga saat ini. Kini tak hanya warga Suku Dayak Wehea dan para tamu undangan, acara turun-temurun yang digelar tahunan ini juga menarik kedatangan para wisatawan, baik nasional maupun mancanegara.

Baca juga: Hudoq Kita’, Tarian Sakral Menyambut Perputaran Musim Tanam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen − sixteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.