Lego-lego, Membangun Kebersamaan melalui Syair dan Tari

180
Tari Lego-lego
Foto: jawa.be

1001indonesia.net – Ada beragam tradisi di Indonesia yang dapat menjadi sarana untuk membangun kebersamaan antarwarga. Salah satunya adalah tari lego-lego yang berasal Pulau Alor-Pantar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Lego-lego merupakan tarian yang dimainkan oleh laki-laki dan perempuan secara melingkar sambil bergandengan tangan. Para penari dipandu oleh satu atau dua orang juru pukong (juru pantun). Jumlah anggota penari dalam tarian ini mencapai puluhan hingga ratusan orang.

Tarian lego-lego biasanya dipertunjukkan saat ada acara penting, seperti saat membuka lahan, saat penen tiba, ketika membangun rumah dan tempat ibadah, dalam acara pernikahan, saat mempersiapkan kebutuhan untuk berburu, sebagai upacara menyambut tamu, dan lain-lain. Dengan kata lain, tarian ini ada dalam setiap kegiatan adat masyarakat Alor-Palar.

Kabupaten Alor memiliki 12 rumpun suku yang tersebar di wilayah dengan 15 pulau itu. Masing-masing kawasan memiliki kekhasan tari lego-legonya masing-masing. Akan tetapi, formasinya tetap sama, yakni lingkaran. Masing-masing nyanyian dan pantun yang diungkapkan saat menari, memiliki arti serta harapan yang berbeda-beda.

Umumnya tarian ini dilakukan tanpa musik pengiring, dan hanya diiringi oleh nyanyian serta suara gemerincing gelang kaki mengikuti langkah kaki penarinya. Namun, ada juga beberapa kawasan di daerah Kabupaten Alor yang menggunakan alat musik, seperti gong dan moko, sebagai musik pengiringnya.

Tari lego-lego bermula dari salah satu kebiasaan nenek moyang masyarakat Alor. Sejak dahulu, nenek moyang Alor selalu melakukan pekerjaan secara gotong royong. Seusai melakukan pekerjaan bersama-sama, mereka berkumpul dan menari melingkari Mesbah (benda yang disakralkan) sambil melantunkan puji-pujian pada dewa-dewa sebagai ucapan syukur.

Melambangkan persatuan

Tari lego-lego melambangkan persatuan. Dalam tarian ini, semua orang bisa ikut berpartisipasi menjadi penari. Tanpa memandang jenis kelamin, agama, warna kulit, suku, klan, bahkan status sosial, seluruh penari bergandengan tangan melingkari Mesbah untuk menari bersama.

Dengan tidak terbatasnya jumlah penari, tari lego-lego bisa dibawakan oleh puluhan bahkan ratusan orang. Durasi waktunya pun tidak dibatasi. Tari ini bisa dibawakan selama beberapa menit atau bahkan semalaman suntuk.

Salah satu alasan dimungkinkannya setiap orang untuk ikut menari adalah karena gerakan dalam tari ini cukup sederhana. Bisa dengan mudah diikuti oleh para penari pemula. Gerakan tari lego-lego didominasi oleh gerakan kaki maju-mundur dan ke kanan-kiri.

Meskipun sederhana, para penari harus membawakannya dengan kompak agar tercipta gerakan yang indah dan mampu menjaga keseimbangan seluruh peserta.

Selain itu, lego-lego juga berfungsi sebagai sarana pewarisan nilai-nilai dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Alor. Di dalam syair yang disampaikan saat pertunjukan lego-lego, terdapat suatu pengajaran untuk saling menghormati, baik antarsuku, antarklan, maupun antarumat beragama. Syair tersebut juga menyampaikan sejarah nenek moyang mereka, tentang suku dan perpindahan antarsuku.

Baca juga: Kesederhanaan Kampung Takpala di Pulau Alor NTT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.